Mohon tunggu...
Chuang Bali
Chuang Bali Mohon Tunggu... Wiraswasta - Orang Biasa yang Bercita-cita Luar Biasa

Anggota klub JoJoBa (Jomblo-Jomblo Bahagia :D ) Pemilik toko daring serba ada Toko Ugahari di Tokopedia.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Buat Apa Makan Kalau Nanti Lapar Lagi?

18 Desember 2022   13:36 Diperbarui: 18 Desember 2022   13:56 82
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Ketika dahulu saya masih bersemangat membuat status FB berupa kata-kata mutiara a la motivator nomor satu se-alam semesta (lebay), dan kebanyakan status tersebut  bertema kebahagiaan, salah satu pemirsa pernah menuliskan komentarnya begini: buat apa bahagia kalau nanti menderita lagi?

Pada jaman dahulu ada seorang tabib yang ditugaskan menyertai sepasukan tentara yang maju ke medan perang. Tugas sang tabib adalah mengobati dan merawat setiap tentara yang terluka atau sakit. 

Sang tabih menjalankan tugas itu dengan baik, hampir setiap hari ada saja tentara terluka yang harus diobati dan dirawatnya. Ketika si tentara sembuh atau telah pulih kembali kesehatannya, dia pun balik lagi ke medan perang untuk saling bunuh-bunuhan dengan pasukan lain yang berperan sebagai musuhnya. 

Beberapa dari mereka terluka kembali, lalu sang tabib mengobatinya lagi hingga sembuh, tetapi beberapa lainnya kembali hanya tinggal nama. Setelah kejadian tersebut berulang lagi dan lagi, setiap kali yang terluka sembuh dan balik lagi ke medan perang lalu terluka lagi atau bahkan tewas, sang tabib mulai merasakan suatu kesia-siaan. 

Dia ftustrasi. Apa gunanya semua usaha yang telah dia lakukan untuk mengobati setiap tentara yang terluka, jika kemudian mereka balik lagi ke medan perang hnaya untuk terluka lagi atau tewas?

Pada waktu itu belum ada Mbah Google atau Chatbot yang bisa ditanyai macam-macam asalkan kita punya kuota internet atau wifi, jadi sang tabib memutuskan untuk mencari pencerahan dari orang bijak bestari. Orang bijak, sebagaimana biasanya dalam cerita, tak pernah tinggal dekat-dekat medan perang atau di tempat yang banyak berisiknya. 

Kalau tidak tinggal di tengah hutan nan sunyi nun jauh yang tak terjangkau oleh sinyal selular, mereka biasanya berdiam di puncak-puncak gunung tinggi nan mission impossible untuk didaki. Tapi tekad sang tabib sudah bulat. Dia mempersipakan segala sesuatu, lalu meminta ijin kepada komandannya dan mulai pendakiannya untuk bertemu seorang guru demi mengajukan satu pertanyaan: buat apa mengobati orang terluka kalau nanti orang itu akhirnya terluka lagi atau bahkan mati?

Coba tebak, apa jawaban sang guru?

Dalam keseharian ketika kita sedang berproses untuk meraih suatu cita-cita atau pengharapan, adalah wajar sekali dua dan tiga kali pun oke-oke saja untuk merasa frustrasi, galau yamg berujung pada pertanyaan: buat apa sih semua ini kalau nanti akhirnya harus begini begitu lagi?

Buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau nanti tetap harus terus belajar seumur hidup, karena yang namanya ilmu itu tidak pernah berhenti hanya sebatas buku-buku dan akan selalu kadaluwarsa dari masa ke masa?

Buat apa rajin bermeditasi kalau nanti setelah selesai bermeditasi batin mulai meliar dan gelisah lagi?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun