Novel Pilihan

Suatu Pagi yang Menggelitik di Warung Pop Mie

7 Desember 2018   16:10 Diperbarui: 7 Desember 2018   16:39 247 2 2
Suatu Pagi yang Menggelitik di Warung Pop Mie
pixabay.com

"Pada suatu hari ada tiga babi kecil yang duduk mengelilingi ibunya. Sudah saatnya mereka meninggalkan rumah. Oleh karena itu ibunya memberi nasehat agar mereka membangun rumah yang kuat hingga tidak bisa dihancurkan oleh serigala." Rin mulai membacakan cerita untuk anak-anak balita yang sedari pagi sudah berkumpul di taman baca miliknya.

Meski masih muda tapi kecintaan Rin pada membaca sangat patut diacungi jempol. Dia membuka taman bacaan agar anak-anak bisa menikmati membaca dan belajar menulis.

"Kenapa babinya masih kecing? Halusnya becal. Telus walnana pink." Lona bertanya dengan polos.

Rin menarik napas panjang. Anak cantik dan menggemaskan yang satu ini memang sangat kritis. Suka bertanya tentang segala sesuatu sampai dia kewalahan. "Mbak Lona mau dengar lanjutannya nggak?"

"Lanjutkan aja. Mbak Lona mau dengal." Lona mengambil bantal Tayo kesayangannya lalu tiduran di dekat Rin. Sementara anak-anak lain juga dalam posisi tiduran seperti Lona.

"Pagi-pagi sudah mau tidur?" tanya Bhara yang mengintip dari jendela.

Rin menyentuhkan jari telunjuk ke bibir. Menyuruh Bhara untuk tidak berisik.

Bhara mengangkat bahu, melanjutkan perjalanan menuju warung kopi pakde Iwan Gendut. Kali saja ada rejeki nomplok bisa berbincang-bincang dengan pujaan hati.

"Pop mie soto satu, Pakde." Bhara bergabung bersama Owly yang asik menyeruput kopi.

"Bhar, kamu habis godain Rin ya? Awas anjing galak, ups maksudnya awas ada Jun galak! Dia itu penjaganya Rin." Iwan mengingatkan agar Bhara tidak melampaui batas.

"Bhara nggak godain, cuma sekedar menyapa," ujar Bhara.

"Lebih baik mulutmu dipakai buat ngunyah pop mie dari pada buat ngrayu Rin," lanjut Iwan Gendut.

"Beres, Pakde. Biar nanti Owly yang bayar," ujar Bhara dengan santainya.

Owly menyemburkan mie yang baru masuk ke mulut hingga mie-mie itu bertengger di muka Iwan Gendut. "Semprul, datang-datang minta traktir. Nggak ikhlas!"

"Kamu juga semprul. Kamu kira muka pakde ini tempat sampah? Seenaknya saja nyembur mie, nyembur duit kek sekali-kali," omel Iwan Gendut.

"Maaf, maaf, Pakde." Owly mengambil tisu lalu mengelap muka Iwan.

"Pakde, Rin mau pop mie bakso satu dong."

"Lho, sudah selesai yang mendongeng?" tanya Bhara dengan kaget. Belum juga dia mendapatkan pop mie, eh si Rin sudah nyusul di mari.

"Belum lah." Rin menarik kursi, hendak duduk di samping Owly.

"Hush...! Hush...! Jauh-jauh, Rin!" usir Owly. Dia dengan tega mendorong Rin keras-keras hingga terjengkang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2