Mohon tunggu...
Christin Sibuea
Christin Sibuea Mohon Tunggu... Psikolog - Counselor at Creative Counseling Center

saya adalah seorang counselor di salah satu sekolah di Jakarta dan saya juga tergabung dalam creative counseling center

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan

Ayo Bermainlah

18 Mei 2021   08:25 Diperbarui: 18 Mei 2021   08:31 116
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pendidikan. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Bermain adalah kegiatan yang spontan, menyenangkan, bersifat spontan dan tidak bertujuan (Landreth, 2002). Bermain merupakan Bahasa universal yang dilakukan oleh semua anak di dunia. Bermain tidak perlu diajarkan pada anak karena anak pada dasarnya sudah mempunyai kemampuan bermain. Bahkan sejak bayi, anak sudah dapat bermain. 

Menurut tokoh psikologi perkembangan, Jean Piaget dan Lev Vygotsky, bermain dapat meningkatkan kemampuan berpikir atau kognitif anak. Bermain ternyata berpengaruh penting dalam perkembangan anak. Bila dunia orang dewasa adalah bekerja, maka dunia anak adalah bermain. Bahkan, bermain termasuk salah satu hak anak yang dilindungi dan diatur dalam Konvensi Hak Anak PBB yang telah diratifikasi oleh Indonesia pada tahun 1990.

Manfaat bermain :

Sering kali orang menganggap bahwa bermain adalah kegiatan yang tidak berguna dan hanya membuang waktu saja. Padahal, bermain memiliki banyak sekali manfaat bagi perkembangan anak (Tedjasaputra, 2001) :

  • Bermain bermanfaat bagi perkembangan fisik anak :
  • Bermain dapat meningkatkan kekuatan otot tubuh, menstimulasi motoric kasar dan halus serta memperkuat koordinasi mata dan tangan. Contohnya adalah bermain sepeda dan bermain loncat tali untuk melatih motoric kasar serta bermain lilin mainan dan lego untuk memperkuat motoric halus.
  • Bermain bermanfaat bagi perkembangan social anak :
  • Melalui permainan sederhana seperti "ci luk ba", anak belajar bahwa perpisahan itu hanya sementara. Bermain dengan teman sebaya melatih anak belajar berkomunikasi, belajar berbagi dan bergantian bermain, belajar menunggu giliran, belajar bekerjasama, belajar bernegosiasi, belajar menyelesaikan konflik, belajar bersikap dan berperilaku sesuai dengan norma dan tuntutan social. Contohnya adalah bermain peran, bermain dengan aturan dan cara main sederhana.
  • Bermain bermanfaat bagi perkembangan emosi anak :
  • Melalui kegiatan bermain, anak bebas menyalurkan ketegangan emosinya. Ia dapat melampiaskan rasa marah, malu, takut dan cemas dengan caranya yang dapat diterima oleh lingkungan. Ia juga belajar untuk menerima kesalahan, mengatasi cara frustasi saat menhadapi kegagalan, belaja tekun menjalani proses, belajar menyelesaikan kegiatan, belajar merasa puas dan percaya diri saat berhasil mengerjakan sesuatu yang sulit. Menurut para ahli psikoanalisa, bermain dapat menjadi sarana anak belajar menghadapi konflik dan mengatasi trauma serta perasaan sedihnya (Solnit Cohen, Neubauer, 2014).
  • Bermain bermanfaat bagi perkembangan pikiran anak :
  • Kegiatan bermain konstruktif yang membentuk dan membangun sesuatu dapat melatih daya berpikir anak. Anak belajar berimajinasi dan berkreativitas menciptakan sesuatu, seperti yang tampak pada permainan menyusun lego, balok dan puzzle. Bermain juga dapat mengasah daya ingat, melatih pemahaman konsep bahasa serta memperluas pengetahuan umum dan keterampilan berhitung. Contohnya pada permainan memory card games, ular tangga, monopoli, catur dan congklak.
  • Bermain dapat melatih indra sensoris anak :
  • Bermain juga dapat mengaktifkan semua sensoris anak seperti indra penglihatan, indra pendengaran, indra perabaan, indra penciuman, indra pengecapan serta keseimbangan, seperti bermain pasir dan air, tepung, lilin mainan dan alat mainan dengan berbagai tekstur, warna serta bunyi yang berbeda.

Tahapan bermain :

Sedemikian pentingnya bermain dengan anak sehingga para ahli psikologi hanya melakukan kajian mengenai bermain. Menurut Jean Piaget (dalam Sugianto, 2001) sejak berusia 3 -- 4 bulan, anak sudah mulai melakukan kegiatan bermain. Tahapan ini disebut dengan sensory motor play yang merupakan cara yang dilakukan bayi untuk dapat memahami dunianya melalui tindakan fisik dan motoric dalam mendapatkan pengalaman sensorik (Santrock, 2011), kegiatan ini dimulai ketika bayi melakukan kegiatan berulang kali yang membuatnya merasakan senang. Contohnya bayi menjatuhkan mainan. Saat diberikan mainan itu lagi, bayi akan mengulangi menjatuhkan mainan tersebut sambil tertawa. Kegiatan yang awalnya terjadi secara spontan ini kemudian diulangi lagi karena bayi merasa senang dapat melakukan sesuatu sehingga ia pun cenderung menanggulanginya lagi.

Pada usia 7 -- 11 bulan, kegiatan bermain bayi tidak hanya berupa pengulangan tapi sudah ditambah dengan variasi. Bayi sudah mulai mencoba beragam cara melakukan sesuatu yang membuatnya senang, misalnya saat menutupi mainan dengan kain. Bayi akan membuka kain tersebut dengan berbagai cara untuk dapat menemukan mainan tersebut. Di usia ini bayi juga sudah mulai memahami bahwa suatu objek akan tetap ada meskipun tidak terlihat (object permanence). 

Sebagai contoh permainan sederhana ci luk ba dapat membuat bayi belajar bahwa kehilangan itu hanya bersifat sementara saja. Pada usia 18 bulan, bayi mulai mengeksplorasi perilakunya terhadap mainan misalnya bayi tanpa sengaja memukul benda yang menghasilkan bunyi tertentu. Kemudian ia mencoba memukul benda tersebut dari sisi yang berbeda untuk mendengarkan apakah akan menghasilkan bunyi yang berbeda. Melalui eksplorasi saat bermain ini, bayi mendapatkan pengetahuan baru.

Tahap berikutnya adalah symbolic play (make believe play) pada usia 2 tahu 7 bulan. Pada tahap ini anak mulai menggunakan symbol alat bermain misalnya menggunakan spidol yang dibayangkan sebagai pesawat terbang sehingga ia memainkannya dan menggerakkan spidol tersebut seolah bisa terbang. Hal ini terjadi karena pada usia 2 tahun anak mulai berpikir simbolik. Ia dapat menggunakan benda lain sebagai pengganti benda yang sebenarnya misalnya ia bermain masak-masakan dan berpura-pura memakan dan meminum mainannya tersebut. Ia menggunakan daya imajinasinya untuk bermain. Hal tersebut menunjukan perkembangan kemampuan berpikirnya.

Memasuki usia 8 hingga 11 tahun, anak mulai dapat bermain dengan aturan bersama teman-temannya atau yang sering disebut juga dengan social play games with rules. Anak mulai belajar secara bergantian, memahami dan mematuhi aturan permainan. Pada tahap usia ini, anak sudah dapat berpikir simbolik menggunakan logika yang lebih objektif. Anak mulai memahami arti menang dan kalah berdasarkan aturan main dalam suatu permainan.

Di usia 11 tahun keatas, anak sudah mulai bisa bermain dengan aturan yang lebih ketat dan kaku yaitu olahraga atau sports, melalui olahraga, anak tidak lagi bermain untuk kesenangan semata tapi sudah lebih bertujuan yaitu ingin menang, ingin diakui, ingin mendapatkan hasil yang memuaskan serta meraih prestasi dan pencapaian tertentu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun