Reinhard Hutabarat
Reinhard Hutabarat wiraswasta

Seorang penulis amatir yang menyukai semua genre tulisan

Selanjutnya

Tutup

Olahraga Artikel Utama

Menantikan Kembalinya Djokovic dan Murray di Australia Open 2018

2 Januari 2018   15:50 Diperbarui: 2 Januari 2018   19:22 2226 6 3
Menantikan Kembalinya Djokovic dan Murray di Australia Open 2018
Sumber foto: Ubitennis.net

Setengah tahun terakhir ini dunia tenis putra menyaksikan kembalinya "barang baru stok lama" yaitu duet Rafael Nadal dan Roger Federer untuk menguasai tenis putra dunia. Hal ini tak lepas dari musibah cedera yang menimpa duet penguasa tenis putra sebelumnya yaitu Andy Murray dan Novak Djokovic plus "peringkat tiga sejati" Stan Wawrinka.

Seperti kita ketahui, satu dasawarsa terakhir ini dunia tenis putra hanya dikuasai oleh The Big Four, yaitu Federer, Nadal, Djokovic dan Murray. Sejak empat belas tahun yang lalu, penguasa tennis putra dunia selalu dalam genggaman The Big Fourtanpa pernah terputus. Beberapa tahun lalu duet Federer-Nadal sempat menghilang karena cedera dan juga karena dominasi duet Djokovic-Murray. Namun ketika duet Djokovic-Murray kompakan cedera setengah tahun yang lalu, duet Federer-Nadal ini secara mengejutkan masih mampu menguasai pemuncak tenis dengan duduk diperingkat satu dan dua!

Kita lalu bertanya, dimana gerangan Stan Wawrinka, Marin Cilic, Grigor Dimitrov, Juan Martin del Potro, Tomas Berdich, Nick Kyrgios, Kei Nishikori atau Jo-Wilfried Tsonga? Bukankah saatnya bagi mereka ini menjadi penguasa tenis putra sejagad? Khusus buat Stan Warinka, Marin Cilic dan Juan Martin del Potro yang sudah lama malang melintang dan pernah menjuarai Grand Slam, tentu saja dari segi teknik dan performance mereka ini setara dengan The Big Four. Tetapi mereka ternyata tidak mampu memanfaatkan situasi langka ini.

Kalau kita bandingkan antara Murray dan Wawrinka, mereka ini adalah sama-sama pemegang 3 gelar Grand Slam. Akan tetapi terdapat jurang yang sangat jauh antara keduanya! Mungkin masalah mental jadi pembedanya. Namun Murray yang sebaya dengan Djokovic dulu juga begitu. Murray selalu menjadi bayang-bayang dari The big threesampai dia kemudian mendapatkan gelar Grand Slam pertamanya pada US Open 2012. Sejak itulah kemudian Murray menjadi penantang serius jawara tenis dan kemudian bergabung dalam kelompok The Big Four.

Mental memang jadi pembeda utama antara "legenda" dengan petenis lainnya. Murray pun termasuk yang masih diragukan mentalitasnya. Murray sekali mencapai semi final dan lima kali menjadi finalis Australia terbuka tanpa pernah sekalipun menjuarainya! Di kandang sendiri, Wimbledon, Murray empat kali mencapai semifinal, tiga kali final dengan dua kali menjadi juara. Di Perancis terbuka Murray empat kali mencapai semifinal, sekali finalis tanpa titel juara.

Walaupun sebelumnya Murray adalah petenis peringkat satu dunia, tetapi prestasi Murray tidak seharum petenis The Big Four lainnya. Federer, Nadal dan Djokovic sudah komplit menjuarai seluruh Grand Slam, yakni Australia Open, French Open, Wimbledon dan US Open, sementara Murray baru mampu memenangi Wimbledon dan US Open saja. Akan tetapi Murray adalah satu-satunya petenis The Big Four yang bisa menjuarai dua kali olimpiade secara berturut-turut (2012 dan 2016)

***

Australia Open ini akan menjadi turnamen utama yang akan diikuti oleh peringkat 1-3 dunia sebelumnya yaitu Murray, Djokovic dan Wawrinka setelah mereka sembuh dari cedera. Tetapi akan sulit bagi mereka ini untuk kembali ke performa puncak setelah lama tidak bermain. Jadi bagi mereka bertiga, Australia Open ini hanyalah ajang pemanasan untuk mencapai kondisi ideal yang diharapkan sudah pulih pada ajang Roland Garros (Perancis Terbuka) nanti.

Lalu bagaimana dengan peluang duet Federer-Nadal kali ini? Entahlah. Setelah mereka "ngebut" sepanjang tahun 2017 kemarin, sulit rasanya mereka bisa mencapai peak seperti kemarin itu karena sekarang ini trend mereka malah sedang menurun. Umur memang tidak bisa ditipu, dan fisik manusia itu ada batasnya. Mustahil rasanya bisa konsisten bermain baik sepanjang tahun. Turnamen penutup ATP Master 2017 di London kemarin bisa menjadi rujukan.

Setelah menutup tahun 2017 dengan sangat manis, sepertinya satu dari legenda he big four itu akan mengundurkan diri pada tahun 2018 ini. Saya sangat yakin kalau Roger Federer akan segera pensiun. Federer adalah seorang legenda tenis terbaik yang pernah ada. Kini di usia 37 tahun, seorang Federer masih sanggup berada di puncak kejayaan dunia tenis putra. Federer telah memiliki semuanya piala yang tersedia dalam karirnya yang panjang. Ketika ada yang datang tentu saja akan ada yang pergi...

Sama seperti Federer, Rafael Nadal, seorang legenda lainnya kini berada di persimpangan jalan dalam karir tenisnya yang panjang. Usia, keluarga dan cedera kini memaksanya untuk berpikir ulang lagi, apakah akan mengikuti jejak Federer untuk pensiun, atau berusaha untuk mencobanya lagi. Kalau duet Djokovic-Murray bisa kembali lagi ke performa aslinya tahun ini, maka tidak ada lagi alasan untuk tidak pensiun...

Lalu bagaimana dengan duet Djokovic-Murray? Tahun ini mereka akan memulai segala sesuatunya dari nol lagi! Murray berkata bahwa tak mungkin dia bisa menjadi nomer satu lagi dalam waktu dekat ini, atau bahkan ada kemungkinan dia tidak akan pernah bisa lagi mencapai nomer satu! Hal ini terkait cedera panggulnya yang tak kunjung sembuh, dan juga "rasa lapar" yang kini telah menghilang dari dirinya. Alasan utama comebacknya adalah rasa rindu yang tak tertahankan lagi untuk bermain tenis, dan Murray sudah cukup senang walaupun berada diperingkat 30 dunia...

Djokovic adalah petenis yang "selalu lapar" dan itulah yang membuatnya lama menjadi petenis nomer satu dunia! Rasa lapar itu belum juga menghilang, akan tetapi cedera membuatnya frustasi. Sepertinya awal tahun ini Djokovic-Murray memang belum mampu untuk kembali seperti dahulu, atau jangan-jangan mereka tidak pernah bisa kembali lagi seperti dahulu lagi.

Grigor Dimitrov yang untuk pertama kalinya menjuarai Turnamen ATP Master 2017 dengan mengalahkan David Goffin di final, kini sudah berani memasang target tinggi. Bukan apa-apa, sejak 2003-2016 hanya dua kali petenis diluar The Big Four bisa mencuri gelar juara, yaitu David Nalbandian pada 2005 dan Nikolai Davydenko pada 2009! Namun mirisnya Rafael Nadal adalah satu-satunya petenis The Big Four yang belum pernah menjuarai turnamen tutup tahun tersebut!

Dengan situasi kurang sedap yang menimpa The Big Four maka kini para petenis 20 besar sudah bersemangat untuk memulai turnamen Australia terbuka ini. Siapa menjadi jawara? Posisi drawing jelas menentukan. Grigor Dimitrov, Dominic Thiem, Marin Cilic, Alexander Zverev dan David Goffin menjadi kandidat juara yang terdepan.

Kini saatnya jawara baru diluar The Big Four bisa berjaya agar dunia tenis putra tetap semarak seperti halnya tenis putri yang jawaranya selalu berganti-ganti karena meratanya kekuatan para petenisnya.

Salam hangat

Reinhard Hutabarat