Mohon tunggu...
Chintya EkaPutri
Chintya EkaPutri Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa

Grateful for everything

Selanjutnya

Tutup

Ruang Kelas

Lemahnya Kualitas Pendidikan Indonesia

15 Juli 2021   16:05 Diperbarui: 15 Juli 2021   16:26 65 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Lemahnya Kualitas Pendidikan Indonesia
keterbatasan fasilitas yang juga menunjukkan ketidakmerataan pendidikan di Indonesia, Gambar oleh Aditio Tantra Danang Wisnu Wardhana dari Pixabay. 

Pendidikan merupakan suatu hal yang sangat penting untuk didapat oleh setiap individu. Pandangan beberapa ahli yang diantaranya, John Dewey, seorang filsuf dari Amerika Serikat, menyatakan bahwa “pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional kearah alam dan sesama manusia”. Sedangkan menurut Mahmud Yunus yang merupakan seorang tokoh pelopor pendidikan di Indonesia, pendidikan adalah suatu usaha yang dengan sengaja dipilih untuk mempengaruhi dan membantu anak demi meningkatkan ilmu pengetahuan, jasmani, dan akhlak sehingga secara perlahan bisa mengantarkan anak kepada tujuan dan cita-citanya yang paling tinggi. Dengan pendidikan, pola pikir dalam memandang segala hal yang ada di dunia ini dan tingkah laku manusia akan terbentuk baik secara sadar maupun tidak dengan lebih terarah.

Di Indonesia, pemerintah telah berupaya untuk meningkatkan taraf pendidikan. Namun, kenyataannya pendidikan di Indonesia masih tergolong lemah. Jika dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia, pendidikan Indonesia masih berada di bawah rata-rata. Bahkan, Indonesia menempati peringkat terbawah se-Asia.

Dikutip dari tulisan Dian Septi Arthasalina yang dimuat idntimes.com The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) mengadakan tes Programme for International Student Assesment (PISA) untuk menakar pengetahuan siswa dalam bidang matematika, sains, dan membaca sejak tahun 2000. Dan pada tahun 2018 hasil PISA menyatakan bahwa Indonesia berada pada peringkat ke-13 dari 15 negara di Asia. Dan dari kutipan tulisan Ferdy Ramesyah di kumparan.com hasil PISA 2018 untuk Indonesia yang diikuti 79 negara di dunia adalah 10 besar terbawah. Pada kategori matematika Indonesia berada di peringkat ke-72 dari 79 negara, kategori sains berada di peringkat ke-70 dari 79 negara, dan kategori membaca berada di peringkat ke-73 dari 79 negara.

Selanjutnya, menurut World’s Best Countries for Education System Indonesia berada pada posisi ke-70 dari 93 negara dengan quality index sebesar 46,6 dan opportunity index 42,97. Lalu, dalam lingkup ASEAN Indonesia ada di posisi ke-7 pada Education Index yang dikeluarkan oleh Human Development Reports pada tahun 2017 (Fauzan, Ahmad, 2021: 19). Dan dari Education Rankings by Country 2021 Indonesia menempati urutan ke-60 dari 65 negara dengan total skor 1156. Skor yang didapat ini merupkan pencapaian yang rendah karena tidak mencapai ambang batas, yaitu 1415.

Banyak standar-standar pendidikan yang belum bisa dicapai oleh sistem pendidikan Indonesia. Tingkat kualifikasi yang dimiliki anak Indonesia masih dikatakan kurang mampu bersaing terutama pada negara maju, baik dari segi ilmu pengetahuan maupun keterampilan dalam dunia kerja nantinya. Terbukti dari masih banyaknya tenaga kerja asing yang menduduki jabatan lebih tinggi di perusahaan-perusahaan besar. Tentunya perusahaan-perusahaan besar ini memiliki standar kualifikasi yang tinggi untuk dimiliki seorang pelamar, salah satunya mencakup tingkat pendidikan seseorang, seberapa baiknya ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki seseorang tersebut.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat kualitas pendidikan Indonesia menjadi rendah. Pertama, sarana dan prasarana yang masih belum terpenuhi dengan baik. Bahkan, tidak banyak sarana dan prasarana pendidikan di Indonesia yang justru mengganggu proses pembelajaran. Kedua, kualitas dan kuantitas pengajar di Indonesia yang masih harus ditingkatkan. Karena masih ada beberapa guru yang kurang berkompeten di bidangnya atau penempatan yang tidak sesuai dengan bidangnya karena kekurangan guru di bidang yang sedang dibutuhkan. Ketiga adalah kualitas siswa yang masih belum maksimal. Hal ini bisa dipengaruhi oleh waktu pembelajaran yang belum efektif dan afisien sehingga mempengaruhi proses penyerapan materi pembelajaran.

Selanjutnya, tidak meratanya pendidikan yang diterima oleh setiap anak bangsa terutama di daerah pelosok Indonesia. Hal ini didukung oleh pembangunan sarana pembelajaran yang tidak merata dan latar belakang ekonomi. Banyak anak bangsa yang ingin mendapatkan indahnya pendidikan terhalang oleh jarak sekolah yang cukup jauh dari daerah mereka tinggal. Dan juga keinginan belajar mereka terhalang oleh perekonomian yang sangat terbatas untuk mengenyam sebuah pendidikan. Artinya, sistem pendidikan di Indonesia masih belum sesuai dengan seluruh kondisi masyarakat. Meski pemerintah sudah mencanangkan program bantuan, hal itu tetap belum dapat terealisasikan dengan sempurna untuk seluruh anak bangsa yang membutuhkan karena adanya berbagai kekurangan yang masih diusahakan didalam pemerintahan itu sendiri terkhususnya dana negara.

Jadi, masih banyaknya permasalahan yang harus diperhatikan dalam sistem pendidikan yang ada di Indonesia. Permasalahan-permasalahan ini tidak dapat teratasi jika tidak adanya kerjasama antara pemerintah, pendidik, serta peserta didik dan orang tua. Pemerintah yang dapat berupaya untuk mengatur sistem pendidikan lebih baik lagi sehingga dapat dirasakan dengan mudah bagi para generasi, serta memikirkan kesejahteraan pendidik dan peserta didik. Para pendidik yang dengan sungguh berkompeten di bidang masing-masing, tidak hanya memaksakan kemauan sendiri pada peserta didik namun memahami apa yang dibutuhkan oleh peserta didik agar dapat menghasilkan bibit-bibit unggul. Lalu, peserta didik dan dorongan orang tua yang memiliki kemauan kuat untuk mendapatkan pendidikan sehingga sadar betapa pentingnya pendidikan sebagai bekal diri untuk menjadi lebih baik di masa depan.

 

Daftar Pustaka

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN