Mohon tunggu...
Chazali H Situmorang
Chazali H Situmorang Mohon Tunggu... Apoteker - Mantan Ketua DJSN 2011-2015.

Mantan Ketua DJSN 2011-2015. Dosen Kebijakan Publik FISIP UNAS; Direktur Social Security Development Institute, Ketua Dewan Pakar Lembaga Anti Fraud Asuransi Indonesia (LAFAI).

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Ivermectin Obat Cacing Rasa Covid-19

8 Juli 2021   00:15 Diperbarui: 8 Juli 2021   00:25 269 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Ivermectin Obat Cacing Rasa Covid-19
Kesehatan. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Schantalao

Gara-gara obat parasit/cacing Ivermectin digencarkan sebagai alternatif  untuk pengobatan  penderita serangan Covid-19 ringan dan  sedang di berbagai media social, televisi, media cetak, dan bahkan  majalah nasional terkenal TEMPO menguraikannya pada terbitan  28 Juni 2021, pada halaman 28 rubrik ANGKA, berimplikasi pada saya sebagai apoteker yang berpraktek di apotik lingkungan perumahan yang padat.

Pasien bertanya tentang tablet Ivermectin, untuk pengobatan Covid-19, sambil membeli berbagai vitamin, dan peningkatan daya tahan tubuh (imunitas) lainnya, karena gelombang kedua Covid-19, yang sudah masuk varian Delta  dari India dengan penularan lebih cepat dari varian asal Wuhan China.

Soal Ivermectin, semakin "heboh" setelah Menteri BUMN Erick Thohir, mempublikasikan  pemakaian Ivermectin sebagai profilaksis untuk  mengerem lajunya virus Covid-19 yang masuk kedalam tubuh.  Dilanjutkan   meninjau langsung pabrik Indofarma, yang akan memproduksi 4 juta Ivermectin perbulan.

Banyak yang bertanya kepada saya, kenapa bukan Menteri Kesehatan atau Dirjen Pelayanan Kefarmasian dan Alat-Kesehatan Kemenkes, atau dokter/apoteker atas nama organisasi profesi, memberikan penjelasan kepada masyarakat secara tuntas, mulai dari  apa itu Ivermectin, efek terapi utama, efek ikutan, serta proses uji klinis yang dilakukan dan sudah sampai di tahap mana. 

Masyarakat akan lebih percaya jika disampaikan oleh ahlinya,  daripada disampaikan oleh Menteri BUMN, apapun jabatan sampingannya. Dirut PT. Indofarma  menjelaskan  dengan jujur bahwa produksi Ivermectin, ijinnya sebagai obat anti parasit,  dan hal tersebut sudah dipertegas oleh BPOM.

Menteri BUMN Erick Tohir, sudah off side, terkait penggunaan Ivermectin, dan  menimbulkan suasana batin yang tidak enak di hati profesi dokter dan apoteker, karena mereka inilah yang di front liner  berhadapan dengan masyarakat ( baca pasien).

Masyarakat sudah pintar, mereka sering membenturkan penjelasan kita di tempat praktek dengan informasi dari Menteri BUMN. Maaf terkadang harus "membantah" dengan bahasa halus. Apalagi Ivermectin itu obat keras harus dengan resep dokter. Apotik tidak akan berani memberikannya tanpa resep dokter. Juga biasanya resep yang diberikan jarang tunggal   Ivermectin doank, tetapi dikombinasi dengan obat lain, seperti dengan antibiotik tertentu.

Boleh semangat tapi jangan kesusu, yang ujungnya bukan menyelesaikan masalah, tetapi menimbulkan masalah baru. Jangan karena panic covid-19, pejabat negara begitu saja "melemparkan" Ivermectin kepada masyarakat, dengan tujuan untuk pencegahan Covid-19, sedangkan pihak Litbang Kemenkes baru akan  melakukan uji klinis di delapan  rumah sakit. Harus ada kesabaran. 

Ivermectin adalah obat untuk mengobati infeksi akibat cacing gelang. Obat ini termasuk kelas antihelminitik yang bekerja membunuh larva cacing dan cacing gelang dewasa agar berhenti berkembang biak. Ivermectin satu kelompok dengan Combantrin.

Bayangkan obat untuk anti parasit baca cacing, digunakan untuk mencegah  Covid-19. Jutaan orang minum Ivermectin yang tidak cacingan tapi takut Covid-19,  bisa dibayangkan  apa efek samping yang akan ditimbulkannya?. Pernah dengar istilah keracunan obat?, ya itu bisa saja terjadi.  Saya masih ingat pelajaran pertama sewaktu masih sekolah farmasi puluhan tahun yang lalu, bahwa obat itu beda tipis dengan racun. Bedanya dimana?, di dosis. Maka ada istilah dosis therapy ( pengobatan) dan dosis lethalis (mematikan).

Memang ada penelitian di Australia, sebuah penelitian terbaru yang dilaksanakan oleh tim dari Monash University dan University of Melbourne, Australia, menyatakan bahwa obat ini berpotensi membunuh coronavirus. Memiliki efek antiviral yang berhasil mengurangi angka perkembangan virus sebanyak 99,8% dalam waktu 48 jam.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x