Mohon tunggu...
charles dm
charles dm Mohon Tunggu... Freelancer - charlesemanueldm@gmail.com

Verba volant, scripta manent!

Selanjutnya

Tutup

Bola Artikel Utama

Kemenangan Maroko Tunjukkan Titik Lemah Belgia dan Jepang Batal Kunci Tiket 16 Besar

28 November 2022   00:07 Diperbarui: 28 November 2022   07:43 2488
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Kedua tim sama-sama mendominasi pertandingan alias memegang "ball possession." Namun, penguasaan bola tidak selalu berbanding lurus dengan gol dan kemenangan.

Menguasai bola tidak otomatis mampu mengukir banyak peluang dan melesatkan banyak gol. Persis itulah yang terjadi dengan Setan Merah dan Samurai Biru.

Belgia yang dihuni para pemain top dan dianggap berada dalam periode emas seperti Thibaut Courtois, Kevin De Bruyne, Eden Hazard, dan masih banyak lagi, ternyata tidak bisa memperagakan sepak bola seperti yang diharapkan.

Secara individu mereka adalah bintang di klub masing-masing. Seperti De Bruyne yang keandalannya di lini tengah Manchester City nyaris membawanya ke panggung Ballon d'Or tahun ini. Begitu juga, tidak ada yang meragukan kualitas Hazard ketika bermain untuk Chelsea. Kedigdayaan Courtois di bawah mistar gawang membuat Real Madrid nekat membajaknya dari Chelsea.

Ketika mereka bersatu, jalan cerita bisa berbeda. Mereka bisa saja tetap menjadi kepingan-kepingan permata yang terpisah-pisah. Tidak mudah bagi pelatih Roberto Martinez untuk menemukan formula dan memadukan mereka menjadi tim yang kokoh, padu, agresif, dan produktif, sebagaimana mereka tunjukkan di level klub.

Menghadapi Maroko, Belgia mampu mendominasi dengan penguasaan bola 67 persen berbanding 33 persen.

Hanya saja, jumlah peluang kedua tim berimbang. Sama-sama melepaskan 10 percobaan. Dari sisi efektivitas, Belgia harus angkat topi pada Maroko.

Hakim Ziyech, Achraf Hakimi, dan kawan-kawan memiliki empat tembakan tepat sasaran, dengan dua dari antaranya berbuah gol. Belgia memiliki tiga "shots on target" dengan tak satu pun berakhir di papan skor.

Hal ini jelas menunjukkan dari sisi efektivitas, Belgia harus belajar dari wakil Afrika itu. Belgia boleh memiliki amunisi dan kedalaman skuad yang mewah, tetapi mereka tidak mampu memperagakan sepak bola atraktif dan efektif.

Dari sisi pola permainan,  Roberto Martinez yang mengandalkan formula 3-4-3 tampak kurang kreatif saat menyerang. Situasi ini berbeda dengan skuad racikan Walid Regragui yang bermain lebih dinamis dan begitu berbahaya dari berbagai sisi.

Maroko yang beberapa kali mengancam dengan pergerakan eksplosif para pemainnya akhirnya menghukum Belgia dengan gol telat di menti ke-73 dan 90+2, masing-masing oleh Abdelhamid Sabiri dan Zakaria Aboukhlal.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bola Selengkapnya
Lihat Bola Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun