Mohon tunggu...
charles dm
charles dm Mohon Tunggu... Freelancer - charlesemanueldm@gmail.com

Verba volant, scripta manent!

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Vita Brevis, Dignitas Longa (Mengenang Daniel Dhakidae dan Umbu Landu Paranggi)

6 April 2021   17:42 Diperbarui: 7 April 2021   08:19 1409
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi meninggal dunia. (Image by Rob van der Meijden/Pixabay)

Oleh banyak orang, ia dianggap penjasa. Para "guru" sastrawan menyebutnya guru. Tidak hanya karena dedikasinya yang total di bidang itu, tetapi juga perjuangannya membidani kelahiran sastrawan-sastrawan besar yang kemudian ikut memperkaya kazanah dan menjaga harum sastra Indonesia tetap tercium dari waktu ke waktu. 

Umbu, atas dedikasinya, diganjari penghargaan dari Festival Bali Jani 2020. Setahun sebelum itu, bersama arsitek Yori Antar, Umbu mendapat Penghargaan Akademi Jakarta di bidang humaniora.

Sumber: tirto.id
Sumber: tirto.id

Terobos-Anomali

Tulisan ini tidak bermaksud membandingkan Umbu dan Daniel. Tidak juga mencoba mencari-cari kesamaan, atau perbedaan masing-masing. Keduanya sudah menjadi besar di jalan masing-masing.

Ada sejumlah hal yang tidak bisa tidak ditemukan pada dua orang ini secara sama, walau dalam kadar berbeda.

Pertama, Umbu dan Daniel adalah dua tokoh besar. Yang satu adalah intelektual akademik, sementara satunya lagi, tidak bisa tidak disebut intelektual, hanya tempat penziarahannya di komunitas sastra.

Keduanya, sama-sama menelurkan buah pikir yang dalam, kritis, reflektif, bahkan berani menantang kemapanan, dalam bentuk beragam. Yang satu dalam bentuk esai politik dan tulisan ilmiah. Satunya lagi berupa esai sastra dan puisi. 

Namun, ada satu hal yang tak bisa ditampik. Mereka tidak hanya bersuara melalui pena dan kertas, tetapi juga terlibat aktif di medan praksis. Ada yang pernah menjadi aktivis. Ada juga sebagai penggerak di tingkat komunitas.

Membaca tulisan-tulisan Daniel, kita akan menemukan kedalaman dan ketajaman. Tinjauan dan analisis tentang kehidupan politik misalnya, begitu bernas dan lugas. Ia pun tidak segan-segan mengkritik setiap praktik yang dianggapnya keliru.

Iqbal Basyari dalam tulisannya "Daniel Dhakidae, Intelektual Publik Itu Telah Berpulang" di kompas.id (6/4/2021), mengutip pandangan Ian Wilson, Pengajar di Murdoch University, Australia, meyebut Daniel sebagai pelopor berpikir kritis pada zaman Orde Baru.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun