Mohon tunggu...
charles dm
charles dm Mohon Tunggu... Freelancer - charlesemanueldm@gmail.com

Verba volant, scripta manent!

Selanjutnya

Tutup

Olahraga Artikel Utama

Bila Piala Dunia Kita "Bela-belain," Mengapa Asian Games Tidak?

17 Juli 2018   19:03 Diperbarui: 18 Juli 2018   11:29 2622
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Banner promosi di jembatan penyebrangan di Palmerah, Jakarta/dokpri

Piala Dunia 2018 baru saja usai. Entah setiap pencintanya mencapai klimaks atau tidak, event akbar itu baru akan hadir kembali di Qatar, empat tahun mendatang. Selama sebulan penuh setiap orang dengan caranya masing-masing menikmati perhelatan yang berlangsung di Rusia. Tidak sedikit pengorbanan dikeluarkan untuk mendapatkan kenikmatan dari lapangan pertandingan. Memangkas waktu tidur, mengurangi jam kerja, menunda pertemuan penting, mengagendakan ulang perjalanan, hingga mengeluarkan rupiah adalah beberapa contoh.

Tidak hanya itu. Kita pun tidak segan-segan ambil bagian dalam meramaikan turnamen tersebut baik secara amatir maupun profesional melalui berbagai forum mulai dari warung kopi, kantor, hingga berbagai lini sosial media. Kita ramai-ramai berbicara tentang sepak bola. Kita serempak dan saling menyahut tatkala menganalisis dan memprediksi tim-tim kesayangan. Kita dengan sukarela menyebut dan mengingat Rusia, Brasil, Argentina, Kroasia, misalnya. Kita kompak berbicara tentang Piala Dunia.

Setelah Prancis menjadi juara dunia, apakah semangat, pengorbanan dan kerelaan yang sama akan kita keluarkan untuk Asian Games 2018?

In se Asian Games dan Piala Dunia berbeda. Asian Games adalah ajang multievent dengan cakupan kepesertaan terbatas. Meski diikuti oleh 45  negara, Asian Games adalah pesta olahraga bangsa Asia. Dengan 40 cabang olahraga yang dipertandingkan, Asian Games jelas bukan hanya tentang sepak bola. Bahkan dalam ukuran tertentu, ia bisa kalah akbar dari Piala Dunia yang hanya diikuti 32 tim tetapi yang terbaik dari seluruh federasi sepak bola di dunia.

Tentu tidak salah mengedepankan pertanyaan di atas. Bila event yang berlangsung sekitar 7.524 dari Jakarta kita begitu antusias, mengapa antusiasme yang sama tidak kita tunjukkan untuk perhelatan besar yang berlangsung di rumah sendiri?

Hemat saya ada beberapa alasan yang membuat kita, bangsa Indonesia, patut menyambut Asian Games dengan sukacita. Pertama, bila untuk event sejenis namun ruang lingkupnya jauh lebih kecil yakni SEA Games, Indonesia sudah empat kali menjadi tuan rumah, tidak demikian dengan Asian Games.

Indonesia butuh hingga 56 tahun untuk kembali menjadi tuan rumah. Kepercayaan pertama diperoleh Indonesia pada 1962 silam, atau 17 tahun setelah Indonesia merdeka. Lewat dari setengah abad kemudian, kepercayaan yang sama baru diperoleh Indonesia.

Semarak pembukaan Asian Games ke-IV tahun 1962 di Jakarta/www.padamu.net
Semarak pembukaan Asian Games ke-IV tahun 1962 di Jakarta/www.padamu.net
Seperti pada perhelatan pertama, Indonesia harus bekerja keras untuk  mempersiapkan diri, begitu juga kali ini. Meski situasi saat itu sudah jauh berbeda dengan saat ini, standar dan tuntutan masa kini pun sudah jauh lebih tinggi. Tidak mudah menggelar pertandingan kompetitif untuk 465 nomor dari 40 cabang olahraga yang diikuti sekitar 15000 atlet. 

Tidak gampang menjadi tuan rumah untuk 5000 ofisial dan mengakomodasi jutaan tamu dari 45 negara. Untuk terselenggaranya perhelatan ini, tidak hanya dituntut kesiapan arena pertandingan berskala internasional, tetapi juga segala infrastruktur pendukung. Dengan demikian jelas event ini memiliki prestise tersendiri bagi bangsa Indonesia.

Kedua, praktis acara ini hanya bertuanrumahkan Jakarta dan Palembang. Durasinya pun tak sampai sebulan, sejak 18 Agustus hingga 2 September. Namun perhelatan ini membuat seluruh mata Asia bahkan dunia tertuju ke Indonesia. Dunia tidak hanya berbicara tentang Jakarta dan Palembang. Begitu juga orang-orang tidak hanya melihat aksi para atlet di lapangan pertandingan. Mereka juga akan membuka mata untuk melihat Indonesia secara keseluruhan. Mereka akan melihat segala dimensi, tidak hanya olahraga semata.

Pandangan warga dunia tidak lagi terbatas pada rekor dunia dan Asia yang baru. Dunia menanti kesuksesan Indonesia sebagai tuan rumah yang  aman dan nyaman. Seberapa ramah warga dan seberapa aman proses penyelenggaraannya. Begitu juga seberapa menyenangkan berada di Indonesia dengan segala pesona alam dan nikmat kulinernya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Olahraga Selengkapnya
Lihat Olahraga Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun