Mohon tunggu...
Sumire Chan
Sumire Chan Mohon Tunggu... Check my blog www.rumpunsemesta.wordpress.com

Pengajar dan Pembelajar

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Kecakapan Pendidik Abad 21

29 Mei 2021   11:55 Diperbarui: 29 Mei 2021   12:13 88 2 0 Mohon Tunggu...

Berbicara tentang kecakapan pendidik berkaitan dengan kegiatan belajar dan mengajar. Begitu pula hal ini  tidak akan terlepas dari performa dan kecakapan seorang pendidik. Bahkan dapat dikatakan berhasil tidaknya dunia pendidikan akan erat berkaitan dengan sosok pendidik. Seorang pendidik tentu juga bukanlah sosok yang sempurna dengan segala kemampuan yang dimilikinya. Seorang yang sudah bergelar tinggi saja pasti akan menemukan kendala dan tantangan dalam pembelajaran. 

Disadari atau tidak keadaan bumi yang semakin tua kian diisi oleh manusia-manusia canggih yang bisa menemukan hal-hal yang inovatif dengan cepat. Akses 'big data' yang begitu mudah dicari menjadikan siapapun bisa pintar tanpa belajar dengan sosok pendidik. Benarkah? Hal tersebut memang benar adanya mengingat porsi pendidik sekarang ini berfungsi sebagai fasilitator. Pendidik meliputi guru dan dosen. Guru lebih identik dengan pengajar pada tingkat SD, SMP dan SMA sedangkan dosen identik dengan pengajar untuk mahasiswa.

Dewasa ini, guru tidak dijadikan sebagai sosok yang serba tahu lagi, tetapi guru tetap menjadi sosok yang digugu dan ditiru. Sebab itu, sekalipun guru hanya sebagai fasilitator saja, rasanya tidak adil jika tugasnya dikatakan ringan. Terlebih amanat yang dititipkan tidak hanya aspek pengetahuan dan keterampilan. Aspek sikap dan karakter menjadi bagian dari penilaian. 

Dalam KBBI dikatakan bahwa fasilitator adalah orang yang menyediakan fasilitas; penyedia. Berhubungan dengan hal tersebut artinya guru lebih bersifat sebagai pendukung. Pertanyaanya, bisakah seseorang menjadi pendukung jika ia tak memiliki kemampuan dan kecakapan yang mumpuni? Semuanya hanyalah permainan istilah. Faktanya pendidik tetap dituntut sebagai seorang yang serba tahu. Pendidik tetap menjadi hakim di dalam kelas yang memutuskan bahwa hal ini tepat dan kurang tepat. Analoginya bagaimana kita bisa memutuskan suatu hal yang salah juga benar tanpa kita memiliki teori dan argumen yang kuat yang telah kita pelajari? Berkenaan dengan hal tersebut maka kuncinya sebagai seorang pendidik untuk tidak pernah lupa belajar sebelum mengajar. Hal ini pun harus dilengkapi dengan penguasaan teknologi sesuai dengan perkembangan masa kini. Jika menolak? Lupakan saja keinginan Anda untuk menjadi guru. Jika sudah menjadi guru? Maka berhentilah untuk mengajar. Dunia saat ini tidak membutuhkan manusia-manusia yang malas belajar. Belajar tanpa batasan waktu untuk mengenal usia baik tua maupun muda.  

Kecakapan akan kompetensi pendidik abad 21 bukan hanya menyoal kemampuan profesional, pedagogik, sosial dan pribadi yang harus dikuasai. Mau tidak mau, suka tidak suka perkembangan zaman menjadikan tuntutan dan kewajiban guru sangat banyak. Seorang pendidik harus memiliki kecakapan dalam hal belajar dan mengajar. Jangan sampai hal yang terjadi menjadikan efek 'menghajar' siswa. Menghajar di sini diartikan sebagai guru yang menolak segala pengetahuan dan kecakapan yang baru. Bisa saja dengan segala aspek kemudahan data menjadikan mereka mempelajari hal-hal yang belum kita pelajari. Dengan kondisi demikian, hal apa yang akan terjadi jika guru tidak memiliki kecakapakan yang berkualitas? Kemungkinan yang terjadi adalah guru enggan belajar, menolak teknlogi dan kebenaran teori yang siswa dapatkan. Menuntut serba tahu tapi tidak pernah mau tahu. 

Dalam praktinya pendidik memang tidak pernah membunuh siswa dengan pembelajarannya. Tetapi, jika materi yang diberikan berdasarkan dari miskonsepsi pemahaman, apakah hal tersebut akan sama saja dengan malapraktik jangka panjang? Pelan, namun membunuh masa depan dengan kesalahan teori yang diajarkan. Nampaknya jika Anda merupakan seorang guru atau sudah terlanjur berkecimpung menjadi guru hendaknya tidak lupa untuk selalu belajar, belajar dan belajar sebelum mengajar. Belajar tidak selalu tentang teori dan materi pembelajaran. Belajar kehidupan untuk tidak egois menerima segala pendapat dan masukan sekalipun hal itu datangnya dari siswa adalah kunci kecakapan dan keberhasilan dalam pembelajaran. 

VIDEO PILIHAN