Mohon tunggu...
Chaerol Riezal
Chaerol Riezal Mohon Tunggu... Sejarawan - Chaerol Riezal

Lulusan Program Studi Pendidikan Sejarah (S1) Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, Program Studi Magister Pendidikan Sejarah (S2) Universitas Sebelas Maret Surakarta, dan saat ini sedang menempuh Program Studi Doktor Pendidikan Sejarah (S3) Universitas Sebelas Maret Surakarta, yang hobinya membaca, menulis, mempelajari berbagai sejarah, budaya, politik, sosial kemasyarakatan dan isu-isu terkini. Miliki blog pribadi; http://chaerolriezal.blogspot.co.id/. Bisa dihubungi lewat email: chaerolriezal@gmail.com atau sosial media.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Mitos, Sejarah, dan Tokoh (Sejarah) Pujaannya

2 Desember 2016   18:29 Diperbarui: 2 Desember 2016   18:57 422
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Chaerol Riezal | Dok. Pribadi

(Masih) terlalu banyak tokoh-tokoh sejarah di negeri kita ini (dan lebih banyak lagi di dunia ini yang action dan karyanya lebih nyata). Dalam catatan sejarah di dunia ini, skala yang lebih besar tentu saja ada nama-nama seperti Nabi Muhammad SAW, Isac Newton, Nabi Isa, Archimendes, Lao Tse, Julius Caesar, Umar Bin Khattab, ST Paul, Francisco Pizarro, Vasco Da Gama, Abraham Lincoln, Leonardo Da Vinci, dan sekian banyak nama tokoh sejarah di dunia ini yang mungkin tidak dikenal oleh teman saya itu. Atau Anda bisa merujuk ke sebuah buku 100 tokoh paling berpengaruh dalam sejarah karangan dari Michael H. Hart.

Bahkan tidak hanya sekadar menyangkut individu atau tokoh sebetulnya, sebagaimana teman saya memuja tokoh idolanya itu. Coba perhatikan, bukankah masih banyak orang-orang (termasuk saya sendiri) yang menikmati dan memuja tokoh sejarahnya di dunia ini. Ada juga yang menghambakan diri pada tokoh idolanya. Di zaman sekarang, para penggemar dari artis-artis Indonesia, Barat, Korsel, India, China, Timur Tengah, (mungkin juga Vietnam dan Thailand) adalah bukti nyatanya. Mereka berteriak terlalu histeris.

Semuanya, baik individu atau antar komunitas mempunyai keseragaman bahwa mereka mentransenden dari sekadar noktah sejarah menjadi mitos. Ketika konteks menjadi kabur. Ketika catatan faktual –dan kemungkinan kekurangan– terabaikan atau cenderung tidak diperhitungkan.

Anda tahu, mitos lahir dari tradisi ketika (umat) manusia mengandalkan alat inderawi: intuisi, perasaan, bau, sentuhan, pendengaran, penglihatan untuk mengarungi hidup.

Mitos, seperti halnya juga sejarah, adalah sebuah upaya untuk mencatat, mengingat, dan menuturkan sebuah peristiwa di masa lalu. Tetapi tidak sekadar itu, mitos dimaksudkan penuturnya untuk juga memberi kerangka pemahaman akan dunia, bagaimana memaknai peristiwa. Ia sebuah tuturan untuk mengarungi kehidupan yang sebisa mungkin harmonis dan menyesuaikan diri dengan alam.

Tidak mengherankan bahwa yang namanya mitos selalu saja mempunyai injeksi pesan moral dan kebijakan menyatu di dalamnya. Ia juga yang tak kalah penting universalitas, dalam pengertian bisa berlaku untuk siapa saja dalam lingkaran komunitas yang dituju. Karenanya, fakta dan konteks bukanlah yang paling penting dalam mitos.

Silahkan Anda check and recheck apakah mitos lebih mementingkan fakta dan konteks? Bahkan dalam mitos kita akan dihadapkan oleh hal-hal yang tidak masuk akal, diluar penalaran dan logika kita akan pasti menolak. Itulah sebabnya mengapa mitos-mitos yang berkembang di dalam suatu masyarakat, akan sulit diterima oleh masyarakat ilmiah. Mitos adalah persoalan pegangan hidup. Dimaksudkan untuk abadi.

Sementara sejarah merupakan bagian dari tradisi yang berkembang dengan mengandalkan intelektualitas dan rasionalitas. Sebuah tradisi (keilmuan) di abad ke 16 dan 17 merasa harus meninggalkan dunia inderawi dan menggantikannya dengan kepastian matematis.

Tradisi baru ini merasa harmonisasi dengan alam bukanlah dicapai dengan cara manusia menyesuaikan diri. Alam harus diatur dan ditata oleh manusia lewat daya pikir dan logika. Alam dipahami untuk ditaklukkan.

Mitos, seperti juga segala sesuatu yang mengandalkan inderawi, bagi para pengusung rasionalitas tidak bisa dipercaya. Terlalu direcoki oleh ketidakpastian, subyektifitas tanpa tara, bahkan fiksional dan tahayul.

Sejarah, dalam pandangan ilmuwan, lebih bisa dipercayai. Ia (sejarah) lebih dapat menampilkan catatan dan bukti masa lampau, fakta yang ilmiah, masuk akal, dan obyektif. Ia tidak berpretensi untuk merumuskan moralitas dan kebijakan, dua hal yang menurut para ilmuwan harus diserahkan pada interpretasi masing-masing individu. Sejarah bersifat kontekstual dan sementara (bisa direvisi apabila ditemukan bukti baru yang lebih kuat).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun