yos mo
yos mo webpreneur

Lifestyle Sport Blogger Indonesia. _ _ _ hanya lelaki biasa penyuka olahraga yang gemar membaca dan bercerita lewat rangkaian kata. Hobby mendengarkan musik, bernyanyi, menari, berkomunitas, memaksimalkan potensi media sosial, menonton film, mengolah kurasi data-data. - - - - - - - - - Senang baca buku/majalah/tabloid/koran sejak Sekolah Dasar, mulai aktif menggunakan media sosial sejak tahun 2007, gemar membaca media online sejak 2008, mulai aktif menulis online diary sejak tahun 2010, mulai minat membaca Kompasiana sejak tahun 2011, mulai' berani' aktif menulis di Kompasiana sejak pertengahan tahun 2015.

Selanjutnya

Tutup

Atletik Artikel Utama

Mengenang Kejayaan Atletik Indonesia di Asian Games

29 Juli 2018   16:32 Diperbarui: 30 Juli 2018   02:35 819 3 1
Mengenang Kejayaan Atletik Indonesia di Asian Games
Sarengat (no.85) seusai memenangkan lomba lari 110 meter gawang/ dokpri repro buku manual Asian Games 1962

Nama Lalu Muhammad Zohri sedang viral karena prestasi fenomenalnya menjadi juara dunia junior lari 100 meter. Kesuksesan Zohri mencuatkan optimisme bahwa Indonesia punya potensi besar untuk berprestasi tingggi di cabang atletik Asian Games 2018.

Pada masa lampau, atlet atletik Indonesia sangat disegani di kawasan Asia.  Prestasi atletik Indonesia di Asian Games sudah mentereng sejak puluhan tahun lalu.  

Hingga Asian Games 2014, sudah 4 emas, 1 perak, 14 perunggu disumbangkan oleh para atlet atletik Indonesia. Jumlah medali yang diraih atletik Indonesia di Asian Games hanya kalah banyak dari raihan atlet bulu tangkis dan tenis.

6 Medali Perunggu di Era Awal Asian Games 

Medali pertama yang direbut kontingen Indonesia di ajang Asian Games berasal dari atletik. Dalam Asian Games I di New Delhi tahun 1951, sebanyak 5 perunggu direbut oleh atlet Indonesia yang semuanya berasal dari atletik. 

Hendrasin Hendramiharja melompat jangkit sejauh 14,24 meter, Maram Sudarmodjo melompat jauh 1,89 meter, AF Matulessy melempar lembing sejauh 48,99 meter, Annie Salamun melempar cakram hingga 25,43 meter. 

Sedangkan kuartet Darwati, Lie Djiang Neo, Triwulan dan Suriowati berlari kencang dalam waktu 54,4 detik di nomor estafet 4x100 meter. Hasil yang mereka raih tersebut menghasilkan 5 perunggu buat Indonesia di Asian Games tahun 1951. 

Tujuh tahun berselang, Karnah Soekarta merebut satu medali perunggu buat Indonesia dari atletik Asian Games di Tokyo. Karnah Soekarta melempar lembing dengan jarak 45,03 meter.

Sarengat Super Star Indonesia di Gelanggang Atletik Asian Games 1962

Mohammad Sarengat jadi super star di gelanggang atletik saat Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 1962. Saat itu Mohammad Sarengat meraih 2 medali emas dan 1 perunggu dalam nomor lari pendek. 

M.Sarengat memenangkan emas lari 100 meter setelah di final mencatatkan waktu 10,74 detik. Di final lari gawang 110 meter, Sarengat berlari sangat kencang paling depan dengan pencapaian waktu 14,42 yang memecahkan rekor lama Asian Games. Dalam final lari 200 meter, sprinter kelahiran Banyumas tersebut menempati peringkat ketiga setelah meraih waktu 21,65 detik.

Kejayaan Mohammad Sarengat membuat gempar. Dalam reportase yang ditulis oleh Harian Merdeka, Sarengat disebut  sebagai orang yang pantang menyerah dan membuat nama Indonesia menjulang  tinggi di kancah internasional.

Berita kejayaan Sarengat meraih emas/ foto dokpri repro Harian Merdeka tahun 1962
Berita kejayaan Sarengat meraih emas/ foto dokpri repro Harian Merdeka tahun 1962
Berita kejayaan Sarengat/ foto dokpri repro Harian Merdeka tahun 1962
Berita kejayaan Sarengat/ foto dokpri repro Harian Merdeka tahun 1962
Prestasi Sarengat memotivasi atlet-atlet Indonesia lainnya yang berlaga di Asian Games 1962 untuk berprestasi gemilang. Johannes Awang Papilaya menambah dua medali perunggu, dari nomor lompat jauh dan lompat jangkit putra. 

Gurnam Singh, atlet keturunan India asal Medan yang saat bertanding memakai turban di kepala, merebut perunggu nomor lari jarak jauh 10000 meter. 

Pelari putri Soewatini mendapat perunggu lari jarak menengah 800 meter. Kuartet sprinter putri Soeratmi, Ernawati, W.Tomasoa dan Wiewiek Mahwijar berhasil meraih perunggu lari estafet 4 x 100 meter.

Tradisi Emas Dikembalikan oleh Atlet Wanita Indonesia 

Sprinter putri Carolina Rieuwpassa sempat membuat pencapaian gemilang di Asian Games tahun 1970 dengan meraih dua medali perunggu pada nomor lari 100 dan 200 meter. Empat tahun sebelumnya, kuartet sprinter Soepardi, Agus Sugiri, Bambang Wahjudi, Jootje Pesak Oroh, merebut perak lari estafet 4 x 100 meter putra.

Pasca kejayaan Sarengat, emas Asian Games dari cabor atletik akhirnya bisa direbut kembali oleh Indonesia setelah menanti selama 36 tahun. Supriati Sutono mengembalikan tradisi emas atletik Indonesia di Asian Games 1998. Saat itu Supriati Sutono memenangkan final lari jarak jauh 5000 meter dengan catatan waktu 15 menit 54,45 detik. 

Supriati Sutono meraih emas Asian Games 1998/ foto: gettyimages.com
Supriati Sutono meraih emas Asian Games 1998/ foto: gettyimages.com
Setelah itu, prestasi atletik Indonesia kembali mengalami kemandekan yang cukup lama. Dan lagi-lagi seorang wanita Indonesia yang mampu mengembalikan tradisi emas atletik Asian Games.

Maria Natalia Londa sukses merebut emas lompat jauh di Asian Games 2014 yang berlangsung di Incheon, Korea Selatan. Di final, Maria Londa melompat sejauh 6,55 meter. Keberhasilan Maria Natalia Londa merebut emas diluardugaan banyak pihak, karena pesaingnya adalah pelompat jauh wakil tuan rumah Jung Soon-ok yang merupakan juara Asian Games tahun 2010. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2