Mohon tunggu...
Casmudi
Casmudi Mohon Tunggu... Full Time Blogger - Seorang bapak dengan satu anak remaja.

Travel and Lifestyle Blogger I Kompasianer Bali I Danone Blogger Academy 3 I Finalis Bisnis Indonesia Writing Contest 2015 dan 2019 I Netizen MPR 2018

Selanjutnya

Tutup

Kurma Pilihan

Nostalgia Pohon Asam dan Ulat Keket yang Bikin Menangis

19 April 2021   02:55 Diperbarui: 19 April 2021   03:02 2158
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Bahkan, pohon asam di bagian barat tersebut mempunyai cabang pohon utama pada ketinggian 3 meter. Saya sering nongkrong di cabang pohon tersebut sambil mendengarkan lagu dari radio. Ya, saya sering membawa radio kecil dari rumah untuk hiburan.

Meskipun, pohon asam bagian barat menjadi idola tempat memanjat waktu kecil. Pohon asam di bagian timur juga menarik perhatian. Pohon asam tersebut tumbuh lebih tinggi dibandingkan dengan pohon asam bagian barat. Dengan kata lain, pohon asam tersebut tumbuh ke atas, bukan ke samping.

Sayang, nyali saya selalu menciut. Ketika, berlomba-lomba memanjat di posisi tertinggi dengan teman main. Menurut saya, ranting pohon asam tersebut terasa mudah terombang-ambing saat tertiup angin. Cabang pohon asam tersebut juga lebih sedikit dibandingkan pohon asam sebelah barat. Saya sering ditantang teman main.

"Ayo, jangan cuma berani panjat pohon yang sebelah barat. Coba buktikan, jika bisa panjat pohon asam yang sebelah timur"

Suatu hari di bulan Ramadan, tantangan untuk memanjat pohon asam sebelah timur pun kembali muncul. Saya menerima tantangan tersebut. Apalagi, pohon asam tersebut sedang berbuah lebat. Saya memanjat pohon sendirian. Sementara, empat teman main hanya menonton dari bawah pohon.

Setelah sampai pada cabang kedua, saya tertarik untuk berburu asam yang terlihat lebat. Untuk mendapatkan asam tersebut, saya harus berani melewati ranting pohon sebesar lengan dewasa.

Ketinggian ranting pohon tersebut kurang lebih 20 meter dari tanah. Saya menikmati sekali, sambil memilih asam MLADAKI. Kedua kaki saya berpijak pada kedua ranting kecil. Tangan kiri saya, berusaha untuk memeluk kuat ranting yang sebesar lengan dewasa. Dengan bantuan tangan kiri, tangan kanan saya menggores setiap kulit asam. Mencari asam setengah matang.

Tidak lupa, kaos yang saya pakai beralih fungsi menjadi wadah hasil buruan. Kaos itu saya ikat di bagian pinggang. Ketika, hasil buruan sudah banyak, maka saya bersiap untuk naik dan kemudian turun. Karena, ranting tempat saya bergelantung semakin melengkung ke bawah. Otomatis, saya harus naik dulu.

Belum beranjak naik, kurang lebih 30 cm di atas kepala. Saya melihat ulat tanduk atau ulat keket yang bergerak pelan ke arah saya. Saat itu, saya phobia ulat keket. Saya benar-benar takut untuk menghindari gerakan ulat keket tersebut. Tidak ada pikir panjang, saya justru bergerak semakin ke bawah. Jika, dilakukan terus, maka saya akan jatuh.

Ketika, teman-teman di bawah melihat kondisi saya. Mereka kaget dan tertawa melihat ketakutan saya. Mereka pun bertanya, apa yang terjadi pada diri saya.

"Ada ulat keket"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kurma Selengkapnya
Lihat Kurma Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun