Mohon tunggu...
Casmudi
Casmudi Mohon Tunggu... Full Time Blogger - Seorang bapak dengan satu anak remaja.

Travel and Lifestyle Blogger I Kompasianer Bali I Danone Blogger Academy 3 I Finalis Bisnis Indonesia Writing Contest 2015 dan 2019 I Netizen MPR 2018

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Pilihan

Panic Buying, Fenomena Kalap Belanja yang Tidak Berkeadilan

2 Mei 2020   02:36 Diperbarui: 7 Juli 2021   06:59 396
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Pandemi Virus Corona membuat ketakutan banyak orang. Bahkan, berita yang muncul baik di media televisi maupun media online sangat sensitif. Apalagi, informasi yang berseliweran di media sosial membuat perasaan banyak orang ikut hanyut. Meskipun, kebenaran informasi belum bisa dipertanggungjawabkan.

Akhirnya, masyarakat membuat keputusan yang di luar logika. Salah satunya adalah aktifitas Panic Buying. Sebuah fenomena kalap belanja secara besar-besaran, dalam menghadapi kondisi wabah COVID-19.

Kalap Belanja

Saya sering belanja di salah satu supermarket terbesar di Kota Denpasar, yang letaknya tidak jauh dari Jalan Sudirman. Ada hal yang menarik dari kebiasaan (habit) pengunjung. Setiap tanggal 1-5, maka pengunjung membludak. Juga, menjelang tahun baru dan hari raya.

Jadi, jika banyak pengunjung yang membludak di luar waktu-waktu tersebut, maka ada hal yang menjadi penyebabnya. Menjelang akhir Maret 2020 lalu, berita COVID-19 mulai menyebar. Dan, menjadi perbincangan serius di masyarakat. Berbagai informasi yang beredar, di berbagai negara melakukan aksi Lockdown untuk mencegah penyebaran Virus Corona.

Banyak informasi yang menampilkan aksi Panic Buying atau kalap belanja. Ada aksi yang memborong Alat Pelindung Diri (APD), masker, Hand Sanitizer untuk keamanan diri dari paparan COVID-19. Bukan itu saja, banyak stok barang di beberapa supermarket yang kosong.

 

Aksi Panic Buying pun merebak di Indonesia. Meskipun, Pemerintah belum mengeluarkan kebijakan apapun. Seperti. kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Juga, Pemerintah Bali belum mengeluarkan kebijakan strategis. Maka, aktifitas masyarakat masih berjalan normal. Anjuran untuk memakai masker dan Hand Sanitizer pun belum gencar dilakukan.

Meskipun, kondisi Bali masih adem ayem. Dalam arti, saya melihat masyarakat belum masif memakai masker. Namun, aksi Panic Buying justru telah merebak. Supermarket yang telah saya sebutkan di atas, justru diserbu pengunjung. Hampir 5 kali lipat dari hari biasanya. Antrian di kasir mengular.

Saya menyusuri setiap rak belanjaan. Dan, melihat banyak orang yang kalap belanja. Troli besar telah dipenuhi dengan barang belanjaan. Bahkan. Rak yang berisi mie instan telah ludes tak bersisa. Sungguh, kondisi yang di luar perkiraan saya. Saya melihat banyak orang yang kalap belanja. Mereka takut tidak kebagian bahan pangan.

Keramaian para pengunjung di salah satu supermarket di kota Denpasar (Sumber: dokumen pribadi)
Keramaian para pengunjung di salah satu supermarket di kota Denpasar (Sumber: dokumen pribadi)
Saya sendiri masih lontang-lantung, belum dapat barang belanjaan. Rencana mau belanja mie instan untuk keperluan sehari-hari. Bukan kebutuhan mingguan, apalagi bulanan. Tas belanja yang saya tenteng pun masih belum ada isinya. Karena, mie instan telah ludes diborong pengunjung lain.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun