Yeni Kurniatin
Yeni Kurniatin karyawan swasta

Ordinary creature made from flesh and blood with demon and angel inside. Contact: bioeti@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Novel Pilihan

Novel | Orion: Hari itu [03:45]

16 September 2018   19:51 Diperbarui: 16 September 2018   20:17 694 2 0
Novel | Orion: Hari itu [03:45]
ORION HARI ITU (dokumentasi Pribadi)

Semakin siang, jumlah orang yang berkerumun kian bertambah. Beberapa mulai melakukan aksi live report. Ok Gaiss! 

 Utusan-utusan dari pewarta info kota Bandung via instagram dan twitter turut hadir.  Namun selalu saja ada orang yang memilih menjadi oknum dalam situasi seperti ini. Tadi teman sejawat Mamang angkot, lalu orang-orang yang tanpa tahu kejadiannya langsung melakukan provokasi.

Perkara untuk menggebuk, Gyas tidak perlu bala bantuan. Dia mampu melakukannya sendiri. Tapi bukan itu tujuan Gyas belajar bela diri. Bukan menjadi pribadi yang lupa diri. Tapi menjadi tahu diri. Kalimat dari Kang Yayan* disimak betul bagi semua murid yang belajar di Dojo Garasi.

"Ini Teh, handphone-nya." Anak itu menyodorkan dengan tangan bergetar. Mukanya dan tangannya kotor. Beberapa gumpalan limbah menyangkut di rambutnya.

"Jadi kumaha ieu??" tanya teman sejawat mamang Angkot. "Teunggeulan ulah?"

"Dieu, ku Mang urang sikat!!" Provokator berikutnya menawarkan jasa dengan sukarela.

Gyas menerima handphone-nya dengan lemas. Banyak retakan. Mungkin tadi sebelum masuk ke dalam endapan, terbentur penutup gorong-gorong dulu. Limbah yang semi padat itu sebagian masuk ke bagian dalam. Sepertinya tidak ada harapan untuk kembali normal. Gyas hanya bisa mengambil nafas panjang. Sementara yang lain masih menunggu kelanjutan apa yang akan Gyas lakukan pada perempuan kecil itu.

"Ulah A!" Cegah Gyas langsung. "Atos bubar weh. Nuhun sudah membantu."

"Wah, teu ram!" Teriakan yang terdengar dari pertengahan.

"Nu ram mah nonton India di tengah jalan." Timpal temannya.

Gyas menghampiri Mamang Angkot.  "Mang, anterin ke rumahnya saja. Katanya mamahnya sakit."

 "Siap Neng!" Jawab Si Mamang Angkot yang merasa bersalah sudah berprasangka.

 "Urang ngilu!" Teman sejawat Mamang angkot langsung menawarkan diri. Langsung masuk ke angkot.

"Urang og," Mamang pedagang asongan tertarik untuk ikut menjenguk.

Tanpa komando mereka merapikan posisi masing-masing di dalam angkot. Anak kecil itu kebingungan dengan sikap orang-orang sekitarnya.

"Neng, rumah kamu di mana? Jauh enggak?"

"Lumayan Teh, ti parapatan itu, aya dua meter deui. Masuk ka gang." Tunjuknya.

"Hayuuu mang. Tarik!"

 "Tariiiiiik..." penumpang lain pun memberi aba-aba dengan serempak.

Gyas berusaha membersihkan endapan limbah yang menempel pada handphone-nya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5