Mohon tunggu...
Hamdani
Hamdani Mohon Tunggu... Konsultan - Sang Musafir - Mencari Tempat untuk Selalu Belajar dan Mengabdi

Kilometer Nol

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Radikalisme di Balik Harmoni Ekosistem

22 Agustus 2021   20:23 Diperbarui: 22 Agustus 2021   20:38 150 9 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Javier Virues-Ortega/Unsplash

"Dan Dia (Allah) Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. Yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Tidak akan kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang pada ciptaan Ar-Rahman. Maka lihatlah sekali lagi, adakah kamu lihat sesuatu yang cacat?"-- (QS. Al-Mulk: 2-3)

Lihatlah ekosistem hutan. Ada harimau yang ditugaskan memakan hewan lain. Sementara hewan lain itu ditugaskan memakan vegetasi. 

Apakah kita bisa menilai secara parsial bahwa harimau itu kejam? 

Tidak, sebab harimau berguna untuk menjaga keseimbangan jumlah hewan pemakan vegetasi agar tidak kehabisan makanan.

Jadi kita tidak bisa memotret obyek secara mikro, lalu kita berikan stigma kejam. Tapi yang benar, kita harus meletakkan hal mikro itu dalam timbangan makro, agar kita bisa bijaksana, ternyata jika dilihat secara makro "kejam secara mikro" itu sejatinya "bijaksana secara makro".

Inilah yang kerap menjadi pangkal persoalan perdebatan soal stigma radikal atau intoleran. Stigma ini selalu dibingkai pandangan mikro, sengaja dilepaskan dari timbangan makro. 

Akibatnya, setiap tindakan yang sejatinya biasa dalam kehidupan makhluk, menjadi tampak menakutkan karena diberi stigma radikal dan intoleran.

Mari kita buat ilustrasi. 

Katak melakukan rutinitas hariannya, berburu binatang kecil seperti serangga untuk disantap. Jika ia tak melakukannya, ia kelaparan dan mati. 

Jika kamera sengaja diarahkan pada peristiwa katak melahap serangga, apalagi dengan zoom yang sangat jelas, lalu hasil fotonya diberi caption: Katak radikal dan intoleran, barbar kepada serangga, pembaca akan terbawa opini itu, bahwa katak adalah hewan radikal, intoleran dan barbar.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan