Mohon tunggu...
Cahya AdhityaPratama
Cahya AdhityaPratama Mohon Tunggu... Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA

Rakyat Biasa

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Menelisik Kembali Imperium Turki Usmani

2 Agustus 2020   22:52 Diperbarui: 2 Agustus 2020   23:53 23 3 0 Mohon Tunggu...

Kerajaan Turki Usmani ini tidaklah bisa disamakan dengan kedua dinasti yang sebelumnya yaitu Bani Umayah dan Abbasiyah, tetapi melihat peranannya sebagai benteng kekuatan umat islam dalam menangkal bangsa Eropa ke Timur. Turki Usmani telah menunjukkan kehebatannya dalam menghadapi serangan musuh, serangan-serangan perluasan yang dilakukannya langsung masuk kewilayah penting termasuk penaklukan konstantinopel, selain dari itu, Turki Usmani dianggap sebagai dinasti yang mampu menghimpun kembali umat islam setelah mengelami kemunduran ilmu pengetahuan dan politik. Munculnya kerajaan Turki Usmani, kembali menjadikan umat islam sebagai kekuatan yang solid. Setelah Khilafah Abbasiyah di Baghdad runtuh akibat serangan tentara Mongol, kekuatan politik Islam mengalami kemunduran secara drastis. Wilayah kekuasaannya tercabik-cabik dalam beberapa kerajaan kecil yang satu sama lain saling memerangi. Beberapa peninggalan budaya dan peradaban Islam banyak yang hancur akibat serangan bangsa Mongol itu. Keadaan politik umat Islam secara keseluruhan baru mengalami kemajuan kembali setelah muncul dan berkembangnya tiga kerajaan besar, diantaranya Usmani di Turki, Mughal di India dan Safawi di Persia. Kerajaan Usmani ini adalah yang pertama berdiri juga yang terbesar dan paling lama bertahan dibanding dua kerajaan lainnya.1 Berikut ini akan diuraikan bagaimana asal usul, perkembangan, dan kemajuan-kemajuan dari tiga kerajaan besar tersebut.


Pendiri Daulah ini adalah bangsa Turki dari suku Oghuz yang mendiami wilayah Mongol. Mereka masuk Islam sekitar abad kesembilan atau kesepuluh. Ketika mereka pindah ke Asia Tengah berada di bawah tekanan seranganserangan Mongol pada abad ke-13 M. sehingga mereka melarikan diri dan mencari tempat pengungsian, mereka kemudian menetap di tengah-tengah saudara-saudara mereka dari Turki Saljuk di dataran tinggi Asia Kecil. Sejarawan mencatat bahwa Turki Usmani berdiri tahun (1281 M) terletak di daerah Asia kecil. Pendirinya adalah Utsman bin Ethogral. Wilayah kekuasaannya meliputi: Asia kecil dan daerah Trace (1354 M), kemudian menguasai selat Dardanlese (1361 M), Casablanca (1389 M) selanjutnya kerajaan Turki menaklukan kerajaan-kerajaan Romawi (1453 M). kata Utsman di ambil dari nama kakek mereka yang pertama dan pendiri kerajaan ini, yaitu Utsman bin Erthogrul bin Sulaeman syah dari suku Qayigh.

Turki Usmani mengalami kemajuannya pada masa Sultan Muhammad II (1451-1484 M) atau Muhammad Al-Fatih. Beliau mengalahkan Bizantium dan menaklukkan Konstantinopel pada tahun 1453 M yang merupakan kekuatan terakhir Imperium Romawi Timur. Taktik yang dilakukan Muhammad II dalam menaklukkan Konstantinopel berbeda dengan yang dilakukan Sultan-sultan sebelumnya. Jauh hari sebelum melakukan penaklukkan, Sultan Muhammad II terlebih dahulu membangun sebuah benteng yang tinggi yang diberi nama Runli Hisar. Benteng ini berada di seberang selat Borporus, dekat konstatinopel. Kaisar Yunani mengirimkan utusan untuk menyampaikan protes kepada Sultan Muhammad II. Tetapi Sultan Muhammad II  mengancam Kaisar dengan hukuman mati, sehingga Kaisar Yunani tidak berhasil menghentikan pembangunan benteng tersebut.


Pada masa daulah Turki Usmani kental akan militer, sehingga pendidikan banyak dikonsetrasikan kepada pendidikan militer sehingga lahir tentara dan menjadikan daulah ini memiliki mesin yang tangguh. Kehidupan keagamaan merupakan bagian terpenting dalam system social dan politik pada masa kerajaan ini, para penguasa sangat terkait dengan syariat islam. Ulama mempunyai kedudukan tinggi dalam Negara dan masyarakat. Mufti sebagai pejabat tinggi agama dan berwenang menyampaikan fatwa resmi mengenai problematika keagamaan. Pada masa ini berkembang pula ajaran-ajaran tarekat yang paling besar, yakni tarekat al-Bektasyi dan Al-Maulawy, kedua tarekat ini mempunyai pengaruh pada wilayah yang berbeda, tarekat al-Bektasyi sangat berpengaruh di kalangan tentara yenesari, sementara al-Maulawy berpengaruh besar dikalangan penguasa
Sufisme pada masa ini sangat digemari oleh umat islam, sehingga mengalami perkembangan yang cukup pesat. Keadaan frustasi yang  merata dikalangan umat karena hancurnya tatanan kehidupan intelektual dan material akibat konflik-konflik internal dan serangan tentara mongol yang membabi buta, menyebabkan orang kembali kepada tuhan dan bersikap fatalistis.

Masa kemerosotan Turki Usmani dimulai dari krisis suksesi sepeninggal Sultan Sulaiman pada 1566 M. sampai sebelum Turki menjadi Republik 1923 M di tangan Mustafa kamal At-Taturuk, tercatat 27 Sultan tidak ada lagi yang dapat diandalkan. Tentu kemewahan hidup dalam Istana telah merusak mental anak-anak Sultan tersebut. Banyak faktor yang menyebabkan kehancuran Turki Usmani ini, di antaranya, wilayah kekuasaannya yang luas, rumit menyusun administrasi negara, sehingga administrasi negara Turki Usmani tidak beres, sementara penguasanya sangat berambisi memperluas wilayah, ikut perang terus menerus, akibatnya tidak ada waktu lagi mengurus administrasi negara.
 Faktor kedua, heterogenitas penduduk, menguasai wilayah yang luas, tentu juga mengurus penduduk  yang beragam etnis, agama maupun adat istiadat; Asia, Afrika, Eropa. Untuk mengurus penduduk yang beragam dalam wilayah yang luas mesti dengan organisasi pemerintahan yang teratur, tanpa didukung oleh administrasi yang baik, maka pemerintah menanggung beban yang berat, dari sinilah kekacauan itu muncul.
Faktor ketiga, kelemahan para penguasa, sepeninggal Sulaiman, Turki Usmani diperintah oleh Sultan-Sultan yang lemah yang tidak dapat mengatur pemerintahan negara, akibatnya pemerintahan menjadi kacau. Kekacauan itu dibiarkan terus dan tidak pernah diatasi secara sempurna, maka semakin lama semakin parah sampai jatuh sakit di Eropa dan tidak ada yang mampu lagi menyembuhkannya




VIDEO PILIHAN