Mohon tunggu...
Nanang Diyanto
Nanang Diyanto Mohon Tunggu... Perawat - Travelling

Perawat yang seneng berkeliling disela rutinitas kerjanya, seneng njepret, seneng kuliner, seneng budaya, seneng landscape, seneng candid, seneng ngampret, seneng dolan ke pesantren tapi bukan santri meski sering mengaku santri wakakakakaka

Selanjutnya

Tutup

Healthy Artikel Utama

[Kesehatan Ibu & Anak] Bahagia Dalam Kesederhanaan

21 Juli 2015   10:14 Diperbarui: 21 Juli 2015   10:14 1137
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ponorogo, 21 Juli 2015

Poto diatas saya jepret pada lebaran hari ke-2, di sekitaran lampu merah Kerun Ayu (Sukorejo Ponorogo) arah ke Wonogiri. Sama-sama menuju ke arah barat, saya naik motor berada dibelakang pik-up ini, penasaran karena penumpang didalamnya sedang dada-dada (melambaikan tangan) kepada saya yang berada dibelakangnya, saya berusaha menengok ke belakang seandainya saja orang lain yang disapanya dan bukan saya yang dimaksud disapanya.

"Mas.... mas..... " teriak lelaki yang berbaring didalam pik-up tersebut.

Lalu saya amati, perempuan tergeletak di dalama bak belakang pik-up yang dilapisi kasur usang, dan disampingnya suaminya, dan didekat pintu belakang tanpa pengaman nampak ayah perempuan tersebut berjaga. Tampak raut muka bahagia di ketiganya. Namun saya masih bingung siapa mereka kok mengenal saya?

Sementara bayinya digendong neneknya di bangku depan (samping sopir), untuk mengindari terpaaan angin. Karena mobil pik-up sewaannya minim fasilitas.

"Tindak pundi pak?" kata si bapak pada saya, yang menanyakan kemana tujuan saya.

Dan saya baru ingat siapa mereka ketika perempuan yang berbaring itu juga ikut melambaikan tangan, dari gelang ditangan kanannya saya bisa mengenali, dia adalah salah satu ibu yang baru melahirkan di rumah sakit tempat kami bekerja, dia kalau ndak salah dilakukan operasi sectio caesar sehari sebelum hari raya. Karena semua pasien yang rawat inap dikasih gelang sesuai indikasinya, dan mungkin saja terlalu senangnya gelang tersebut lupa di lepas, atau mungkin buat kenang-kenangan.

Kalau tidak salah dia datang sehari menjelang lebaran, bersama 3 pasien yang akan melahirkan lainnya. Dia beruntung karena salah satu pasien ketika sampai rumah sakit sudah meninggal, diperkirakan meningal diperjalanan akibat komplikasi kehamilan yang menyertainya. Sementara satunya lagi harus bersedih karena bayi yang ia tunggu-tunggu sudah tidak bernyawa sebelum dilahirkan (IUFD). Ketiganya sama-sama rujukan dari fasilitas kesehatan ditingkat awal.

Program pemerintah untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi tampaknya mengalami kendala, mungkin perlu pengkajian ulang untuk masalah tersebut. Masalah klasik pembiayaan, ketenagaan, dan situasi wilayah yang menjadi alasan atau kendala.

Masalah pembiayaan, seringkali menjadi hambatan seseorang atau ibu hamil untuk mendapatkan layanan akan kehamilanya, penghasilan mereka dirasa tidak mencukupi untuk pembiayaan kesehatan di tingkat lanjut. Meski ada program BPJS namun tidak serta merta semua tercover, meski ada pembiayaan secara mandiri namun beratnya iuran membuat mereka enggan untuk program ini. Sistem pendistribusian dan penjaringan tentang mana yang berhak dan mana yang tidak berhak seringkali meleset dari sasaran. Yang berhak tidak mendapat, sedangkan yang tidak berhak malah mendapat, begitu keluh dari kebanyaan dari mereka.

Dulu jaman presiden SBY  ada program Jampersal (Jaminan persalinan), namun menjelang berkhirnya pemerintahan beliau program tersebut dihapus (dilebur) menjadi BPJS. Dulu kreteria yang bisa menikmati Jampersal tidak terlalu ribet seperti BPJS, asal mau dirawat di kelas 3 semua gratis baik perawatan ibu, bayi, dan obatnya ditangung negara. Sebenarnya filter kelas 3 ini bisa memisahkan antara yang berhak dan yang tidak berhak, karena banyak sekali orang yang berkecukupan menolak ditempatkan di kelas rawat kelas 3 dan otomatis hak-nya dibiayai pemerintah akan gugur.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun