Mohon tunggu...
BUNGA FITRIA SUKMA
BUNGA FITRIA SUKMA Mohon Tunggu... Administrasi - ๐Ÿ“Kota Depok

ุงูŽู„ู’ุงูู†ู’ุณูŽุงู†ู ู…ูŽุญูŽู„ู‘ู ุงู„ู’ุฎูŽุทูŽุงุกู ูˆูŽุงู„ู†ู‘ูุณู’ูŠูŽุงู†ู // Mahasiswi FEB - Universitas Pamulang

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Apakah Media Sosial Menjadi Pemicu Depresi Generasi Muda?

5 Agustus 2022   13:11 Diperbarui: 5 Agustus 2022   13:26 130 3 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Akhir-akhir ini semakin hari semakin banyak pemuda dan usia produktif yang terkena depresi. Kenapa hal itu bisa terjadi? Apakah ini memang sudah menjadi ciri khas dari Gen Z dan milenial? Bukankah depresi adalah hal umum yang bisa terjadi pada siapa saja dan kapan saja?ย 

Depresi memang bisa terjadi pada siapa saja dan kapan saja, namun depresi tidak terjadi begitu saja, depresi terjadi biasanya dipicu oleh beberapa hal seperti kecemasan yang berlebih dan rasa tidak percaya diri yang pada akhirnya menimbulkan gangguan pikir dan mood yang mengganggu aktivitas sehari-hari.

Definisi depresi sendiri secara sederhana adalah gangguan mood, kondisi emosional yang berlarut-larut sehingga mempengaruhi daya pikir, merasa, dan bersikap seseorang. Orang yang terjangkit depresi biasanya akan menimbulkan gejala umum seperti cemas dan rasa gelisah yang tak berkesudahan.ย 

Hal itu bisa berefek pada kehidupan sehari-hari, mereka yang depresi akan menjadi rentan sekali emosinya dan tak bersemangat menjalani hidup atau istilah kerennya di era ini "mageran".

Mager? Ya mager itu adalah akronim dari kata malas dan gerak, kata itu diucapkan biasanya kepada orang yang terlihat begitu tak bersemangat menjalani hidup, seakan ia tak memiliki impian dalam hidupnya yang mesti ia kejar.

Terkadang aku suka berpikir kenapa banyak orang-orang seusiaku yang kini memiliki tabiat seperti itu, bahkan aku pun sering mengalami itu. Dan dengan perkiraan kasar tanpa metode penelitian lebih lanjut, aku mengira hal ini dipengaruhi oleh penggunaan media sosial yang menjadi begitu masif.ย 

Orang-orang menjadi lebih mudah mengakses apapu lewat gawai yang ada ditangannya, mulai membeli makanan sampai berbelanja dan mencari video-video edukasi atau apapun. Saat ini semua mudah diakses begitu saja.

Kemudian dari kemudahan itu, orang-orang yang memiliki keberuntungan lebih baik biasanya akan mengabadikan momen bahagia dan kesusksesannya di media sosial, hal itu tentu membuat orang-orang yang tak bernasib beruntung sepertinya bisa melihat.ย 

Ambil contoh saja ada orang kaya yang memamerkan mobil-mobil mewah serta rumah seperti istana kemudian hal itu dilihat pula oleh orang-orang yang jangankan mobil, sepeda saja ia tak punya. Hal itu akan memicu harapan yang berlebih dan berujung pada halusinasi dan delusi.ย 

Orang-orang yang melihat menjadi merasa rendah tanpa disadari, dan berusaha untuk mencapai dan menjadi seperti yang ia lihat. Ketika ia tak mampu mencapai yang ia inginkan, maka ia menjadi kecewa dan kurang menerima kenyataan.ย 

Sikap tidak menerima kenyataan itulah yang membuat dirinya menjadi depresi. Tentu saja ini bukanlah hal yang mutlak, sebab ini hanya nalar liar yang keluar dari pikiranku. Melihat fenomena timbulnya crazy rich di tengah kesenjangan sosial yang tinggi tentunya bukanlah hal yang baik.ย 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan