Mohon tunggu...
Budi Susilo
Budi Susilo Mohon Tunggu... Wiraswasta - Man on the street.

Nulis yang ringan-ringan saja. Males mikir berat-berat.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Negara Amplop

6 November 2021   06:58 Diperbarui: 6 November 2021   07:03 298 52 22
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ilustrasi peta Negara Amplop oleh Nietjuh dari pixabay.com

Adalah upaya pelik super sulit, menghapus ketergantungan rakyat sebuah negara untuk tidak pernah tidak memeluk amplop, kertas persegi tipis berwarna putih atau cokelat.

Dua puluh empat jam sehari. Tujuh hari sepekan. Lima puluh dua minggu dalam setahun menggenggam amplop. Sampai tiba saat untuk menyerahkannya ke tangan orang lain.

Negara Amplop terletak jauh di zona antah berantah. Jauh banget dari Indonesia. Penduduknya berjibun menempati wilayah dikelilingi laut. Dipimpin oleh sebuah organisasi pemerintahan berdaulat dan memiliki kepentingan nasional.

Di dalamnya terdapat satu kebijakan tertinggi, yaitu memenuhi hajat hidup mayoritas rakyatnya terhadap konsumsi amplop.

Diketahui, warganya merupakan konsumen amplop terbesar di seantero jagat, sesuai dengan namanya: Negara Amplop.

Bayangkan. Seluruh sendi-sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara diisi oleh amplop di mana-mana. Baik berwarna putih maupun coklat dengan berbagai ukuran. Kebanyakan disuplai dari negara-negara lain.

Berita baiknya, bahagian terbesar daripadanya diimpor dari Indonesia. Syukurlah.

Pihak otoritas, diwakili Menteri Urusan Dagang bersama Menteri Urusan Bikin Amplop bersepakat, cadangan amplop aman harus dipenuhi.

Rumusnya: Persediaan Amplop Nasional = Konsumsi Setahun + Cadangan Setahun.

Industri amplop lokal hanya mampu memenuhi tiga perempat dari jumlah konsumsi setahun.

Tidak usah kita bicara tentang ketidak-efisien-an pabrik lokal; buruknya tata-kelola distribusi amplop; permainan harga bahan baku oleh pedagang besar; atau persekongkolan para menteri dalam upaya melanggengkan impor amplop yang tidak berkesudahan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan