Mohon tunggu...
Budi Susilo
Budi Susilo Mohon Tunggu... Wiraswasta - Man on the street.

Nulis yang ringan-ringan saja. Males mikir berat-berat.

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Awalnya Coba-Coba, Akhirnya Susah Berhenti Merokok

6 Oktober 2021   09:18 Diperbarui: 6 Oktober 2021   09:22 284 47 15
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ilustrasi nikmatnya rokok sambil ngopi (dokumen pribadi)

Kebiasaan merokok berawal dari coba-coba, apakah karena ingin tahu rasanya maupun ikut-ikutan teman demi gaya. Sebagian terpicu rasa gengsi agar bisa disebut jantan, sebagai pria sejati.

Apa pun alasannya, introduksi kepada rasa rokok menyebabkan kebiasaan yang sulit dihentikan. Hisapan pertama menjadi ingatan akan kenikmatan yang terus menerus bertambah. Akhirnya, kecanduan merokok.

Saya merokok untuk pertama kalinya menjelang akhir semester satu, saat kuliah. Sebelumnya saya memandang rokok sebagai hal tidak menyenangkan. Baunya taksedap.

Maka dari itu, saya senantiasa menyingkir ketika terpapar asap rokok. Atau mengibaskan telapak tangan, menepis kabut putih itu.

Kesepian! Belum banyaknya teman, hanya ditemani malam sepi di kamar kos, membuat saya berkunjung ke warung. Beli sebungkus rokok dan korek api.

Bentoel Biru. Saya ingat betul rokok pertama yang dihisap. Kertas membungkus racikan tembakau, dengan ukuran silinder lebih besar dibanding rokok merek lain.

Baunya tajam. Saya tidak suka. Rasanya pahit, membuat saya terbatuk-batuk hingga muka memerah.

Entah bagaimana ceritanya, kemudian rokok menjadi teman setia dalam setiap kesempatan. Semakin lama konsumsi rokok semakin banyak.

Berbagai merek rokok dihisap. Ada periodisasi pergantian rokok. Dari Bentoel ke Gudang Garam, Djarum, Dji Sam Soe dan produk Sampoerna Grup, juga merek nasional lainnya. Sesekali "rokok putih", seperti Kansas, Camel, Lucky Strike, Marlboro.

Bahkan suatu saat, saya merokok dari tembakau slag alias tingwe, melinting sendiri racikan tembakau dengan pahpir (kertas putih pembungkus tembakau). Tidak terlewatkan juga, merek rokok yang hanya dijual di daerah tertentu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kesehatan Selengkapnya
Lihat Kesehatan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan