Mohon tunggu...
Budi Susilo
Budi Susilo Mohon Tunggu... Lainnya - Bukan Guru

Nulis yang ringan-ringan saja. Males mikir berat-berat.

Selanjutnya

Tutup

Money Artikel Utama

Cara Menyiasati Pergeseran "Dine-in" ke "Take Away" dalam Usaha Kuliner

16 Juni 2021   11:55 Diperbarui: 18 Juni 2021   04:15 2088
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi Dine In di restoran oleh stokpic dari pixabay.com

Sementara pelanggan menyendok kuah panas dari mangkuk, seorang pedagang bakso di depan pasar Santa, Jakarta Selatan, sibuk melayani pesanan. Kemudian, pria itu menyerahkan lima belas bungkus bakso panas, seraya memberikan satu bungkus ekstra kepada sang kurir.

Begitulah cara penjual bakso itu menjamu setiap kurir kantor yang banyak terdapat di sekitarnya. Itu kiat pemasaran yang membuat dagangannya laris, selain pengaruh tempat strategis, produk disukai, pelayanan gesit, dan keramahan dalam pelayanan.

Ilustrasi Dine In di restoran semangkuk bakso (dokumen pribadi)
Ilustrasi Dine In di restoran semangkuk bakso (dokumen pribadi)
Sebuah fine dining restaurant menyediakan hidangan mewah, interior megah, dan pelayanan personal dari waiter/waitress nan ramah bagi pelanggan. Meski makanan minuman berharga aduhai, pengunjung senantiasa melimpah saat jam makan siang dan malam.

Bisnis kuliner di atas, baik yang kecil maupun besar, menggambarkan penerapan strategi peningkatan penjualan.

Baca juga: "Relationship", Faktor Penentu Keberhasilan Usaha Kuliner

Maka cara-cara pemasaran klasik dalam usaha makanan minuman meliputi:

  1. Pemilihan lokasi strategis. 
  2. Penyediaan produk disukai atau berkualitas.
  3. Pengenalan hidangan dari mulut ke mulut maupun melalui promosi.
  4. Kemampuan membuat perbedaan (make a difference).
  5. Keramahan dalam pelayanan.
  6. Interior dan suasana di dalam yang menyenangkan.
  7. Kecepatan dalam menyediakan (deliver) makanan minuman kepada pelanggan.

Masing-masing atau gabungan dari unsur di atas membentuk ciri khas yang meneguhkan positioning sebuah bisnis kuliner.

Baca juga: Pentingnya "Make a Difference" dalam Bisnis Kuliner

Namun perkembangan pandemi yang belum diketahui ujungnya, pelan-pelan menyingkirkan pendekatan offline tersebut. Semakin hari semakin bertambah orang mencari makanan minuman secara daring. 

Saat ini kekhasan seperti, lokasi, rancangan interior, pelayanan, dan seterusnya tidak lagi menjadi unique selling. 

Bertahap terjadi pergeseran perilaku pencarian kuliner, dari kebiasaan Dine-in ke arah Take Away.

Dine-in adalah kegiatan menikmati hidangan secara langsung di tempat, baik di atas trotoar maupun di kesejukan restoran. Takperlu repot, segalanya sudah ada yang menyiapkan dan membereskan. 

Sedangkan take away -kadang disebut take out- merujuk kepada kegiatan pelanggan yang tidak makan di tempat, dengan membungkus makanan minuman untuk dibawa pulang.

Belakangan pelaku usaha restoran dan kafe menyiasati belum terkendalinya pandemi dengan melakukan penjualan secara Take Away, kendati hal itu tidak serta merta mampu menggantikan penghasilan dari penjualan gaya Dine In. Pengusaha dalam bidang ini masih mengalami kemerosotan pendapatan selama Covid-19 menghantui.

Sebaliknya, terjadi peralihan gaya hidup masyarakat, dari mencari makanan minuman dengan pendekatan luring ke daring. Media sosial dan berbagai aplikasi memudahkan pencarian informasi tersebut.

Memang, angkatan sekarang adalah generasi digital. Dari lahir sudah digital. Anak-anak muda yang mahir berselancar di dunia maya dengan menggunakan gawai.

Menyikapi pergeseran itu, sebagian pengusaha kuliner beradaptasi. Mereka menyiasati, sekaligus demi mengurangi kemerosotan pendapatan, dengan menempuh cara-cara:

  1. Meningkatkan tumpuan perhatian kepada layanan pesan-antar.
  2. Mempercepat pelayanan memenuhi pesanan.
  3. Mengutamakan kepuasan pelanggan, berupa kesesuaian wujud dan rasa dengan ekspektasi pelanggan.
  4. Mengoptimalkan promosi melalui media sosial.
  5. Menyediakan makanan ready to cook atau bahan baku yang siap dimasak, pada sebagian outlet.

Sementara gerai yang masih memberikan layanan Dine In, pengusaha menerapkan protokol kesehatan yang ketat bagi para tamu. Keamanan terhadap risiko penularan Covid-19 menjadi pertimbangan penting bagi pelanggan.

Akhirul Kata

Sampai saat ini belum dapat diperkirakan, kapan Pandemi Covid-19 berakhir. 

Di dalam perkembangan itu, bisnis kuliner mengalami pergeseran, dari kebiasaan pelanggan melakukan Dine In ke Take Away. Ditambah perilaku masyarakat dalam pemanfaatan teknologi digital.

Mau tidak mau, suka tidak suka, pelaku usaha kuliner harus mampu menyiasati dengan cara-cara yang berlandaskan pada adaptasi, interaksi, dan inovasi dengan lingkungan teknologi yang berkembang pesat itu.

Paling tidak, 5 cara di atas adalah upaya menyiasati pergeseran dari Dine In ke Take Away selama masa pandemi. Boleh jadi masih ada cara-cara lain yang bisa ditambahkan.

Perubahan tersebut juga menciptakan hikmah.  Berupa peluang bagi Anda yang terbentur kepada keterbatasan modal untuk mengadakan tempat berlokasi strategis, interior bagus, pelayanan prima, dan sebagainya, namun memiliki hobi dan ingin berusaha di bidang kuliner.

Siapa tahu?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun