Mohon tunggu...
aan rianto
aan rianto Mohon Tunggu... Freelancer - Pengamat Issue HIV

Pengamat issue HIV, pendukung kampanye U=U, accidental activist

Selanjutnya

Tutup

Healthy

ARV Bukanlah Vitamin

1 November 2020   21:50 Diperbarui: 1 November 2020   22:00 123
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Kesehatan. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Schantalao

Banyak pendamping, konselor ataupun paramedics yang dengan mudahnya menyarankan penyebutan ARV sebagai vitamin.

Beberapa alasan yg sering diajukan adalah agar tidak menjadi beban atau bahkan bosan.

Bagaimana mungkin merubah penyebutan ARV sebagai vitamin bisa menghilangkan kebosanan ataupun beban pikiran karena keharusan minum ARV setiap hari?

Salah satu kegalauan orang dengan HIV adalah anggapan bahwa tidak ada obat untuk HIV.

Kira kira apa yang akan terjadi secara psikologis saat kita bertemu dokter dan dikatakan bahwa penyakit yang kita idap tidak ada obatnya?

Hal yang sering terjadi dengan orang dengan HIV adalah mereka Akan terus terusan mencari informasi mengenai "obat HIV" karena anggapan "tidak ada penyakit yang tidak ada obatnya...."

Akhirnya cepat atau lambat mereka akan terjebak dengan obat obatan herbal yang tidak diketahui komposisi dan khasiatnya dan dipasarkan sebagai "obat HIV" karena mereka sangat memahami banyaknya orang dengan HIV yang ingin sembuh dengan obat HIV.

ARV adalah obat, tidak seharusnya dirubah penyebutannya menjadi vitamin.

Vitamin adalah suplemen yang dikonsumsi untuk meningkatkan imunitas atau menjaga kesehatan, saat badan lebih sehat maka tidak diperlukan lagi kebutuhan vitamin tambahan karena tubuh sudah memenuhi kebutuhan akan vitaminnya. Lalu apakah ARV yang dianggap sebagai vitamin tadi juga boleh dihentikan konsumsinya saat merasa sudah sehat?  Fakta yang terjadi pada banyak kasus putus ARV adalah mereka merasa sehat sehingga tidak lagi merasa perlu minum "vitamin".....lupa bahwa ARV adalah obat yang dapat menekan pertumbuhan HIV hingga tidak terdeteksi yang berarti juga tidak lagi dapat menularkan secara sexual.

Lalu salahkah mereka saat kemudian putus obat atau merasakan kebosanan minum ARV karena anggapan tidak ada obat untuk HIV?

Belum lagi penamaan yang lebih konyol dengan "obat/vitamin ganteng/cantik"... Bagaimana bila setelah 3 taun mereka tidak menjadi ganteng/cantik? Sementara perawatan di salon tidak butuh waktu selama it untuk merubah penampilan menjadi lebih baik??

Menilik kejadian diatas lalu siapa yang sebenarnya berperan sangat besar dalam mempengaruhi motivasi orang dengan HIV dalam kepatuhan ARV?

Orang orang yang setiap hari "bergumul" mengatakan hapus stigma dan selalu berusaha keras mendorong kepatuhan obat orang dengan HIV pada akhirnya adalah oknum yang sama yang berperan utama dalam kasus putus ARV, tetapi tidak akan mengakuinya.

Jadi bagaimana edukasi terkait HIV seharusnya dilakukan? 

Sadarkah bahwa angka capaian Viral Load tersupresi dari data kemenkes hanyalah 3.8% masih sungguh memprihatinkan apalagi kl dikaitkan dengan angka penularan yang mungkin akan timbul dari gagalnya supresi Viral Load?

Bagaimana motivasi yang seharusnya diberikan terhadap orang dengan HIV agar tetap patuh ARV dan berhenti menularkan HIV keorang lain?

ARV adalah obat untuk HIV yang dapat menekan pertumbuhan HIV dan juga mengurangi jumlah HIV dalam darah1, dan bukan VITAMIN.

Memang orang sakit minum obat agar sembuh, sementara Orang Dengan HIV minum obat ARV agar tidak sakit. Karena pada dasarnya mereka tidaklah sakit, hidup dengan HIV dalam tubuhnya tidak berarti menjadikan mereka sakit.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun