Mohon tunggu...
Bobby Steven MSF
Bobby Steven MSF Mohon Tunggu... pembelajar

Ayo mampir ke blog super positif, enak dibaca dan bikin happy: https://hanyaberitabagus.blogspot.com Surel: kontakbobby@zoho.eu.

Selanjutnya

Tutup

Hobi

Jalan Sunyi Penulis Fiksi, Bisakah Kompasiana Mengapresiasi?

10 Juni 2019   11:03 Diperbarui: 10 Juni 2019   11:08 0 34 20 Mohon Tunggu...
Jalan Sunyi Penulis Fiksi, Bisakah Kompasiana Mengapresiasi?
vinhanley.com

Penyair kenamaan asal Negeri Paman Sam, Robert Frost (wafat 1963) pernah menulis puisi berjudul "The Road Not Taken". Syair bait pamungkas puisi itu adalah:

I shall be telling this with a sigh
Somewhere ages and ages hence:
Two roads diverged in a wood, and I---
I took the one less traveled by,
And that has made all the difference.

Terjemahan bebasnya:

"Aku akan mengatakan sambil mendesah

Di suatu tempat berabad-abad nanti:

Dua jalan bercabang di hutan, dan aku-

Aku memilih jalan yang jarang dilewati,

dan rupanya pilihanku ini membuat perbedaan besar."

Jalan Sunyi Penulis Fiksi di Kompasiana

Berdasarkan pengamatan pribadi, saya menyimpulkan bahwa penulis fiksi di Kompasiana-seperti Robert Frost-memilih jalan sunyi yang jarang dilewati. Raihan tayangan (views) cerpen, puisi, dan karya fiksi di Kompasiana amat jarang mencapai angka fantastis. Sebuah cerpen yang terpilih sebagai artikel utama (headline) pun amat jarang yang mencapai, katakanlah, 500 tayangan halaman (pageviews).

Ini cerpen dan puisi asal tulis saya yang paling tinggi jumlah tayangannya (rekor pribadi): Suster Maria, Mulut Itu Kebun Binatang

Selain itu, amat jarang penulis fiksi meraih K-Rewards dalam jumlah yang signifikan. Sebagian penulis fiksi yang mengunggah karya tiap hari pun belum berhasil menempati papan atas klasemen K-Rewards.

Sepanjang pengamatan amatiran saya, K-Rewards memang dikuasai penulis artikel politik. Bukan berarti saya membenci artikel politik. Saya sendiri juga menulis beberapa artikel politik. 

Fiksi itu Bukan Kitab Suci, namun "Suci"

Menyitir dan merombak total ungkapan menghebohkan seorang pengelana akademis (atau akademis pengelana, entahlah...), fiksi itu bukan kitab suci. Fiksi adalah imajinasi. Kadang liar. Kadang binal. Kadang nakal. 

Tapi juga, fiksi sering melukiskan fakta nyata dalam balutan kata-kata. Fiksi sering membawa pesan positif yang kadang tak akan lolos sensor bila dituliskan dalam bentuk reportase berita.

Fiksi membela manusia yang tertindas. Fiksi membebaskan orang-orang yang terbelenggu oleh tirani penindas. Fiksi itu "suci".

Fiksi dan Apresiasi Kompasiana

Apa ujung dari celoteh saya ini? Saya juga tidak tahu. Yang pasti, saya pertama-tama mengapresiasi Kompasiana yang memberi ruang bagi penulis dan penikmat fiksi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2