Mohon tunggu...
Ruang Berbagi
Ruang Berbagi Mohon Tunggu... Berbagi itu indah

http://bit.ly/artikelutamakompasiana Sapa: ruangberbagi@yandex.com Dilarang menjiplak, juga dengan cantumkan link ke akun Kompasiana ini untuk blog/situs komersial (ber-adsense). Yang boleh adalah fair use (edukasi dan tanggapan terhadap tulisan).

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Kalau Jumpa Pastor Katolik, Harus Panggil Gimana?

13 Januari 2019   23:21 Diperbarui: 14 Januari 2019   00:42 1655 11 8 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kalau Jumpa Pastor Katolik, Harus Panggil Gimana?
foto: koleksi pribadi

Baru beberapa hari saya nimbrung di Kompasiana. Status "profesi" saya adalah pastor dan biarawan.

Saya memang sengaja tidak memberi keterangan, misalnya: mohon panggil saya "tronjal Bobby" atau "tronjol Bobby". Saya biarkan saja sobat Kompasianer memanggil saya sesuai kehendak masing-masing.

Apa yang terjadi? Ada yang memanggil saya Mas, Pak, Romo, dan Pastor. Saya sama sekali tidak mempermasalahkan. Semuanya sah-sah saja. Toh saya memang laki-laki 30++ (per Januari 2019) sehingga wajar saja dipanggil Mas atau Pak. Bahkan kalau sobat Kompasiana memanggil saya "Bobby" saja tanpa embel-embel, saya merasa biasa-biasa saja. Memang itu nama yang diberikan orang tua saya. Apalagi di Eropa, misalnya, orang biasa saling memanggil dengan nama saja (kalau sebaya atau merasa sudah dekat).

Pastor itu Siapa Sih?

Gereja Katolik ritus barat (Romawi) "menggolongkan" umatnya jadi dua bagian besar. 1) Kaum yang menerima tahbisan (pastor/imam dan diakon) dan status kebiaraan sebagai biarawan dan biarawati. 2) Kaum awam, yakni kaum beriman yang tidak menerima tahbisan dan status kebiaraan sebagai biarawan dan biarawati.

Kekhasan para pastor, biarawan, dan biarawati Gereja Katolik ritus barat (Romawi), antara lain, adalah bahwa mereka (saya juga, dong) tidak menikah demi melayani Tuhan dan Gereja-Nya secara penuh. Apakah ada dasar dalam Alkitab? (Catatan: ini penafsiran Katolik Romawi, yang bisa jadi berbeda dengan penafsiran gereja-gereja lain)

Dasar paling jelas adalah Yesus sendiri yang tidak menikah. Tidak ada satu pun kitab dalam Perjanjian Baru yang mencatat bahwa Yesus pernah menikah. Yesus sendiri pernah menyebutkan bahwa ada orang-orang yang tidak menikah demi Kerajaan Allah (Injil Lukas 18:28-30, Matius 19:27-30; Markus 10:20-21).

Dalam perkembangan sejarah kekatolikan, frase "demi Kerajaan Allah" perlahan dipahami sebagai "demi pengabdian penuh pada Tuhan dan Gereja". 

Saya mungkin akan membahas lebih lanjut soal selibat (tidak menikah demi alasan relijius) ini di lain artikel mengingat luasnya cakupan.

Biarawan-Biarawati itu Siapa Sih?

Biarawan-biarawati Katolik mulai ada cikal-bakalnya sejak abad ketiga Masehi. Waktu itu, cara hidup ketat mengikuti tiga nasihat Injil yakni kesederhanaan, ketaatan, dan kemurnian selibat (tidak menikah) disebut cara hidup asketik (bahasa Yunaninya asketai). Sejarah lengkap lihat situs ini Religious Profession.

  • Biarawan Katolik ada yang menerima tahbisan (seperti saya sendiri: sekaligus biarawan dan pastor), tapi ada juga biarawan yang tidak ditahbiskan sebagai pastor/imam atau diakon. Biarawan yang tidak (atau belum) ditahbiskan disebut bruder atau frater (saudara).
  • Biarawati Katolik biasa disebut seorang suster. Jadi kalau ketemu mereka, panggil saja "Suster NN".

Kalau Anda Ketemu Pastor Katolik

Mungkin Anda mengira, pastor Katolik itu sama saja. "Tidak sesederhana itu, Ferguso!"

Mengapa? Ada dua "jenis" pastor/imam Katolik:

1) pastor/imam yang sekaligus biarawan (seperti saya, biarawan MSF. Ada juga pastor biarawan Serikat Yesus/SJ, OFM, OMI, CSSR, SDB, dan masih banyak lagi) dan 

2) imam keuskupan (yang bukan biarawan), misalnya imam keuskupan Jakarta, Semarang, Palangkaraya, dst. Para imam ini bertugas membantu uskup di keuskupan masing-masing. Imam keuskupan ini disebut juga imam diosesan atau imam projo.

Maka, kalau Anda ketemu pastor/imam Katolik, sebagai trik berkenalan, tanya saja: maaf, cuma ingin tahu, apakah pastor seorang biarawan atau imam keuskupan (biasa juga disebut imam diosesan/projo)? 

Kalau jawabannya "Saya biarawan", tanya saja, "Oh, kongregasi (kelompok biarawan) apa?"

Kalau jawabannya "Saya imam kesukupan/projo/diosesan", tanya saja "Oh, dari keuskupan mana?"

Wah, rumit juga ya Esmeralda (memang rumit, tapi tak serumit cintamu dengan Fernando ^_^).

Pastor, Pater, atau Romo?

Masih belum selesai kerumitan ini, Ferguso!

Tiga sebutan di atas tergantung sekali dengan tempat dan rasa bahasa setempat. Di Jawa Tengah dan Jogja, umat biasa memanggil pastor sebagai "romo". Itu pengaruh bahasa Jawa. Romo artinya ya bapak/orang yang dihormati.

Di Kalimantan Utara (Keuskupan Tanjung Selor, misalnya), umat biasa memanggil saya "pastor".

Di NTT lain lagi. Kalau tidak salah, (maaf Ferguso, saya belum pernah tugas di sana sehingga kurang info. NTT itu juga luas, mungkin tiap subdaerah beda-beda adatnya!), ada pembedaan sebutan. Umat menyebut imam biarawan sebagai "pater" dan imam keuskupan/projo sebagai "romo".

Tren terbaru, mulai dipakai juga istilah "RD". Apa itu? Saya sudah capek ngetik, Anda lihat sendiri di situs ini Mengenal Istilah RD dan RP di depan Nama Romo/ Pastor/ Imam Katolik.

Pendapat saya, kalau Anda ketemu pastor Katolik (dan masih ragu-ragu mau menyapa gimana), mulai dulu dengan pertanyaan basa-basi ini:

"Maaf kalau saya keliru, sebaiknya saya panggil 'pastor' atau 'romo' atau 'pater'?"

Saran saya, kalau Anda sudah membaca artikel ini dengan cermat, kiranya hindari memanggil pastor dengan sebutan "Bapak" atau "Bapak Pastor"

Memang sih, di Kalimantan Utara, saya juga dipanggil "bapak pastor", tapi di telinga Jawa saya ini, sebutan itu kedengaran kurang nyaman. Panggil saja (untuk saya), Romo Bobby atau Pastor Bobby.

Dalam kesempatan formal, kami biasa dipanggil "Pastor/Pater/Romo NN". Ingat khan ada Romo Mangunwijaya (alm.), Romo Magnis-Suseno. Aneh (bagi saya, setidaknya) saat mendengar orang memanggil "Bapak Romo" atau "Bapak Pater".

Di Kompasiana, Saya Ingin Dipanggil Gimana?

Saya sadar, tidak semua komentator membaca dulu status saya sebelum meninggalkan komentar. Tidak masalah. Saya juga sadar, mungkin tak banyak yang paham segala kerumitan yang saya tulis ini. 

Jangankan Anda yang bukan Katolik, orang Katolik saja bisa pusing membacanya. Jadi, tenang saja Ferguso. Panggil saya sesuai hati nurani masing-masing: mas, pak, bung, romo, pater, pastor, bro, Bobby...

O ya, saya tahu, pendapat saya ini tak mungkin sempurna karena saya ini cuma remah-remah di kaleng Kompasiana. Saya tunggu komentar, pertanyaan, dan koreksi sobat pembaca. Satu yang belum saya bahas (karena saya juga tidak tahu persis): bagaimana saudara-saudari memanggil pemuka agama Anda. Ada yang mau berkisah?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x