Mohon tunggu...
arthur
arthur Mohon Tunggu... .

manusia biasa yang belum masak dan senang menulis..berharap bisa berbagi informasi lewat kacamata sempit, yang tersimpan diruang kecil di bagian otak saya....mencoba meramu masakan hidup dalam aliran kata-kata, dari bahan berupa mata, telinga, hidung, mulut, dan hati....

Selanjutnya

Tutup

Digital

Gadget: Narsis, Bisnis, dan Miris

17 Oktober 2011   11:14 Diperbarui: 26 Juni 2015   00:51 321 1 0 Mohon Tunggu...

“Bagi pin-nya,” tulis seorang teman saat mengomentari status facebook saya. Saya pikir teman tersebut bercanda, karena sudah dua tahun jenis handphone yang aku miliki tidak secanggih punya teman-teman kebanyakan, yang selalu meninggalkan jejak hitam bintik putih saat membuat status facebook. Handphone yang saya punyai hanyalah model lawas bentuk ulekan sambal yang saya branding “dibuang jangan sampai”. Karena, sekali dibuang, bakalan lama untuk menggantinya.

Memiliki barang elektronik bermerk tentulah menjadi keinginan banyak orang. Mungkin Anda merupakan satu diantaranya. Siapa, sih, yang tak ingin memiliki gadget terbaru yang mahal dan memiliki keunggulan dari gadget lainnya? Semua orang berlomba untuk bisa membeli gadget tersebut dan disimpan di sakunya. Contoh saja, produk iPhone keluaran ‘apel digigit sedikit’ tipe 4S yang baru saja diluncurkan pada Oktober ini. Pembeli bahkan rela bermalam menggunakan tenda hingga loket penjualan dibuka.

Narsis

Bagi sebagian orang, merupakan suatu kebanggaan bila memiliki gadget model terbaru yang mahal dan terkenal. Lumrah memang. Karena, setiap orang pasti memiliki sedikit jiwa narsis, entah untuk betulan pamer atau sekadar share untuk memberi semangat. Tidak ada yang salah dengan narsis. Tergantung pada setiap orang melihatnya.

Nah, dengan memiliki gadget baru penuh aplikasi yang njelimet, narsis itupun akan muncul dengan sendirinya tanpa perlu diucapkan. Contohnya, saat seseorang memiliki gadget keluaran teranyar yang mahal dan terkenal yang dikeluarkan dari saku. Gadget tersebut seakan berkicau dalam diam : “Hai everybody…., gue paling mahal, aplikasi lengkap, dengan tampilan keren. Elo-elo (gadget lain) mending jangan keluar dari saku, deh. Emangnya situ oke?”.

Otomatis, pemilik gadget tersebut tak perlu berucap sepatah katapun untuk narsis. Cukup tersenyum menang, dan bersorak “yes!” dalam hati. Karena, tanpa bersuarapun, gadget yang dimilikinya akan berteriak lebih kencang digenggamannya.

Narsis juga bisa menguntungkan orang-orang. Masih ingat dengan lip sync keong racun yang mencuatkan nama Shinta-jojo? Atau joged india Chaiya-Chaiya ala Briptu Norman? Nah, siapa tahu Anda merupakan kandidat narsis terkenal berikutnya.

Bisnis

Tidak melulu memiliki gadget bertujuan untuk narsis. Biasanya kelengkapan fitur dan aplikasinya dimanfaatkan pemilik gadget untuk mengembangkan bisnis mereka. Seperti gadget yang memiliki layanan e-mail, mesin pencari, dan layanan facebook. Gadget tersebut akan menjadi teman karib para pelaku usaha untuk terus berkomunikasi dengan rekan bisnisnya atau memberitahukan tentang produk-produk terbarunya.

Pelaku usaha pastinya akan tertolong dengan adanya fitur-fitur lengkap dalam gadget mereka. Tidak bisa dipungkiri, keberhasilan usaha sangat bergantung pada promosi yang baik dan informasi lengkap tentang produk mereka.

Promosi dan informasi produk yang bisa dilakukan oleh pelaku usaha melalui gadget mereka adalah dengan memposting foto ataupun video semenarik mungkin, lengkap dengan “bumbu” tambahan kata-kata.

Miris

Namun, tidak semua gadget bisa dimanfaatkan dengan bijaksana oleh pemiliknya. Penyalahgunaan kelengkapan aplikasi gadget kian marak. Seperti rekaman video porno, tindakan prostitusi, dan banyak kejahatan cyber lainnya.

Situs-situs porno juga leluasa ‘melenggang’ bebas untuk diakses pengguna gadget. Data Kementrian Kominfo mengabarkan bahwa 97,2 persen siswa SMU pernah mengakses situs porno dan sekitar 4.500 siswa pengakses merupakan siswa SMP.

Berita miris di Kompas.com pada Selasa, 20 september 2011, dimana siswi sebuah SMP swasta di Turen Kabupaten Malang, Jawa Timur, mencoba menjadi sutradara video porno dengan para pemain sepasang teman sekolahnya. Kejadian ini menguatkan data Kementrian Kominfo akan suatu riset dimana sekitar 62,1 peraen siswa mengaku pernah melakukan hubungan seks dan 21,2 persen pernah melakukan aborsi.

Tindakan prostitusi atau penjualan ABG juga marak. Ini bisa dilakukan dimana saja melalui gadget. Pemberitaan mengenai penjualan anak yang masih berbau kencur ini bahkan menjadi focus Kompas.com dengan menyajikan liputan khusus bertopik Perdagangan ABG lewat Facebook (lihat di http://lipsus.kompas.com/topikpilihanlist/1141/1/perdagangan%20abg%20lewat%20facebook).

Kejahatan cyber juga mengancam melalui gadget yang dimiliki. Berdasarkan laporan tahunan Pusat Pengaduan Kejahatan Internet yang diberitakan oleh BBC Indonesia 16 Maret 2010, kerugian akibat kejahatan dunia maya pada 2009 mencapai USD 560 juta. Angka ini meningkat dua kali lipat dari 2008, USD 256 juta.

Penelitian lain dari Norton Cybercrime menyatakan bahwa 1 juta orang setiap hari menjadi korban kejahatan dunia maya. Bahkan, penelitian Norton Cybercrime yang tertulis di Sembilan satu news portal, mengungkapkan,10 persen orang dewasa yang melakukan aktivitas online pernah mengalami kejahatan cyber melalui telepon seluler. Bahkan terdapat 42 persen lebih banyak kerentanan di ponsel pada 2010 dibandingkan 2009. Ini menandakan bahwa penjahat dunia maya mulai memfokuskan upaya mereka pada perangkat bergerak seperti ponsel.

Namun, meskipun gadget begitu narsis, bisnis, dan miris, tetap saja akan selalu laris manis. Pesona gadget dengan kemudahan dan manfaat yang ditawarkan, menjadi “candu” bagi para penggunanya, termasuk saya dan juga Anda.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x