Mohon tunggu...
Blasius P. Purwa Atmaja
Blasius P. Purwa Atmaja Mohon Tunggu... Guru - Praktisi Pendidikan dan Pembelajar

Staf Pengajar di Yayasan TNH Kota Mojokerto. Kepala Sekolah SMP Taruna Nusa Harapan Kota Mojokerto. Kontributor Penulis Buku: Belajar Tanpa Jeda. Sedang membentuk Ritual Menulis. Email: blasius.tnh@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Healthy Artikel Utama

Pengalaman Menghadapi Penyakit Mata Glaukoma

10 November 2017   13:33 Diperbarui: 23 November 2017   10:34 37685
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Proses Terjadinya Glaukoma

Seperti tercantum dalam berbagai sumber, glaukoma terjadi karena adanya penumpukan cairan di dalam bola mata. Penumpukan cairan ini terjadi karena adanya sumbatan pada saluran humour aquos. Penumpukan cairan yang berlebihan tersebut otomatis akan mengakibatkan bola mata membesar. Karena terjadi pembesaran bola mata, saraf optik di belakang retina menjadi tertekan. Jika saraf optik tersebut tertekan dalam jangka waktu yang lama, saraf-saraf tersebut akan mati dan tidak bisa menyalurkan sinyal penglihatan ke otak. Oleh karena itu, secara perlahan mata akan mengalami kebutaan.

Untuk menghindari risiko tersebut, langkah penting yang harus dilakukan adalah menjaga agar tekanan bola mata kembali normal sehingga tidak merusak saraf. Untuk menjaga agar tekanan selalu normal, silakan baca juga Pantangan bagi Penderita Glaukoma. Secara medis, penanganan pertama yang biasa dilakukan adalah dengan memberikan kepada pasien tetes mata atau obat-obatan yang bisa menurunkan tekanan bola mata. Salah satunya adalah tetes Timol. 

Obat tetes timol tergolong jenis beta blocker, yang dalam kasus penyakit glaukoma fungsinya adalah mengurangi produksi cairan yang ada di dalam bola mata. Jika cairan berkurang otomatis tekanan bola mata juga akan menurun. Namun demikian, penggunaan obat tetes ini harus dengan resep dan selalu dalam pengawasan dokter. Karena jika digunakan secara berlebihan, produksi cairan di dalam bola mata akan sangat kurang bahkan terhenti dan timbul masalah baru yaitu mata kering. Jika terjadi mata kering, pasien harus menggunakan air mata buatan. 

Pernah ada sesama penderita yang  membagikan pengalaman. Dia merasa bahwa obat tetes yang digunakan sudah cocok dan akhirnya membeli sendiri di apotek tanpa resep dokter. Ujung-ujungnya malah timbul masalah baru, yaitu kasus mata kering tersebut. Jenis obat lain yang biasanya digunakan adalah jenis pilocarpine atau cendo carpine. Dibandingkan dengan obat tadi, obat jenis ini katanya lebih sedikit risikonya. Jenis yang kedua ini cara kerjanya dengan mengecilkan pupil sehingga memungkinkan cairan di dalam bola mata bisa mengalir.

Pengobatan dengan tetes mata tersebut tidak selalu berhasil. Jika tidak berhasil, dokter biasanya melanjutkan penanganan dengan operasi. Dalam berbagai literatur disebutkan bahwa operasi tahap pertama adalah dengan menembak sumbatan di saluran humour aquos menggunakan laser atau istilahnya trabekuloplasti. Setelah operasi, dokter biasanya akan mengamati perkembangan hasil operasi tersebut selama beberapa minggu. Jika dampaknya tidak bagus, dokter biasanya akan melakukan operasi lanjutan, yang biasa disebut sebagai operasi trabekulektomi. 

Dalam operasi tahap kedua ini, dokter akan membuat saluran pembuangan humour aquos yang baru untuk mengurangi penumpukan cairan di dalam bola mata. Namun demikian, saluran baru ini juga tidak akan bisa bertahan lama. Jika jaringan ikat di lubang baru itu terbentuk, saluran itu akan buntu lagi. Jika demikian yang terjadi, pasien harus menjalani operasi lagi. Demikian seterusnya. Oleh karena itu. secara medis, glaukoma memang tidak bisa disembuhkan.

Pengobatan Alternatif Glaukoma

Karena tidak mau menjalani operasi dan dalam rangka menghindari risiko dan efek samping obat-obatan kimia yang tidak terlalu bagus, kami mencari pengobatan alternatif. Mulai dari menggunakan rebusan daun sirih, bunga kitolot, pengobatan herbal, dan lain-lain semuanya kami coba. Tapi tidak ada yang cocok. Sampai akhirnya sekitar tahun 2005 kami menemukan obat tetes mata buatan Bapak Heinrich Melcher, seorang berkebangsaan Jerman yang telah lama menjadi peneliti di tanah Papua. Melalui obat tetes mata buatan Bapak Heinrich Melcher inilah penyakit glaukoma istri saya bisa sembuh. Atau secara medis, mungkin lebih tepatnya penyakit glaukoma istri saya bisa terkendali karena pada dasarnya glaukoma tidak bisa disembuhkan.

Bagaimanakah cara cerja tetes mata buatan Pak Heinrich tersebut? Tetes mata tersebut terbuat dari ekstraksi buah keben (Baringtonia Asiatica) yang banyak terdapat di pantai-pantai Papua. Pak Heinrich sebenarnya tidak merekomendasikan tetes ini digunakan untuk penderita glaukoma. Bahkan dalam kemasan tetesnya pun tidak ada tulisan yang menyatakan bahwa obat ini bisa digunakan untuk glaukoma. Namun karena penasaran dan ingin mencoba-coba pengobatan alternatif, akhirnya istri saya menggunakan obat tetes ini untuk mengobati glaukoma. 

Istri saya adalah orang pertama yang menggunakan tetes mata ini untuk keperluan pengobatan glaukoma. Ajaibnya, dalam waktu kurang dari seminggu, rasa sakit mata yang diderita istri saya akhirnya berkurang dan berangsur-angsur menghilang. Hanya dengan menggunakan satu botol, gejala rasa sakit yang dialami istri saya sudah hilang dan tidak pernah muncul lagi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun