Betrika Oktaresa
Betrika Oktaresa Auditor

Full time husband of Flazona & Father of my baby Bren. Part time auditor. Half time gamer & football player

Selanjutnya

Tutup

Birokrasi Pilihan

Cegah Informasi Hoaks, Pahami "Risk Attitude" Bermedsos!

11 Oktober 2018   16:16 Diperbarui: 11 Oktober 2018   16:22 1142 1 0
Cegah Informasi Hoaks, Pahami "Risk Attitude" Bermedsos!
sumber: Tempo

Pada Kuartal kedua tahun 2018, populasi dunia diperkirakan mencapai 7,6 miliar penduduk dengan jumlah pengguna internetnya sebesar 4,2 miliar, dan 2,23 miliar dari jumlah tersebut merupakan pengguna aktif di Facebook.

Dengan jumlah yang sangat besar tersebut, menciptakan traffic informasi yang luar biasa padatnya, sehingga sering digambarkan sebagai era badai atau tsunami informasi. Spesifik di Indonesia, Indonesia, pada periode yang hampir sama memiliki jumlah pengguna Facebook aktif yang mencapai 130 juta pengguna atau enam persen dari keseluruhan pengguna dunia.

Angka yang tinggi tersebut mendorong Indonesia bertengger di posisi empat dunia sebagai negara yang menyumbang pengguna Facebook terbesar di dunia.

Namun masalahnya adalah traffic tinggi atas arus informasi di negeri ini tidak atau belum dibarengi dengan kedewasaan dalam menggunakannya.

Fakta berbicara, Direktur Informasi dan Komunikasi Badan Intelijen Negara (BIN) Wawan Purwanto menyebut konten-konten media sosial di Indonesia ternyata didominasi informasi bohong atau hoaks.

Bahkan komposisinya telah mencapai 60 persen dari konten media sosial di Indonesia saat ini adalah informasi hoaks.

Kasus hoaks Ratna Sarumpaet yang masih ramai menjadi pembicaraan di negeri ini seakan menjadi puncak gunung es dari jutaan informasi hoaks yang memenuhi jagad media sosial di Indonesia sampai saat ini.

Fakta ini tentu tidak dapat dilihat sebagai kondisi yang wajar, mengingat kabar yang tidak benar itu kadang dipercaya dan diamplifikasi menjadi tindakan-tindakan yang tidak seharusnya dilakukan.

Lalu langkah apa yang seharusnya bisa kita dilakukan?

Dalam hal ini, penulis akan mencoba melihat fenomena ini melalui kacamata risiko (meskipun penulis tidak menggunakan kacamata ya).

Dalam sebuah penelitian Chena dan Sharma (2013), dijelaskan bahwa keputusan seseorang untuk menggunakan media sosial dipengaruhi oleh sikap orang tersebut dalam memandang risiko atau risk attitude.

Artinya, semakin tinggi persepsi orang tersebut melihat adanya risiko dalam menggunakan media sosial, akan membentuk sikap risiko orang itu, menjadi seorang risk averse.

Sebaliknya, jika orang itu mempersepsikan bahwa risiko penggunaan media sosial adalah rendah, maka akan cenderung membentuk sikap risiko orang tersebut menjadi risk taking.

Sebelum jauh melangkah, tentu kita harus memiliki pemahaman yang sama atas istilah risk attitude, sehingga secara singkat akan coba penulis jelaskan, disimak ya.

Risk attitude atau sikap risiko sangat bervariasi karena berbentuk spectrum, namun terdapat tiga tipe risk attitude yang diketahui dan telah didefinisikan secara luas, yaitu risk averse, risk neutral, dan risk seeking/risk taking. Jika anda adalah seseorang yang menghindari risiko (risk averse) maka anda akan merasa tidak nyaman dengan ketidakpastian, hanya memiliki sedikit toleransi terhadap ambiguitas (dalam konteks ini, ambiguitas memiliki arti adanya sudut pandang atau perspektif yang beragam dalam mengevaluasi apakah atas hal yang dilakukan akan diperoleh dampak negatif atau apakah suatu risiko dapat ditoleransi atau bahkan diterima), dan mencari keamanan dalam menghadapi risiko.

Anda akan cenderung lebih memilih opsi yang kurang menguntungkan namun tidak/kurang berisiko. Seseorang yang menghindari risiko lebih memilih mendapatkan jumlah nilai tertentu yang pasti (certain value) pada situasi yang berisiko tinggi.

Sebaliknya, seseorang yang risk averse lebih rela membayar premi atas risiko (risk premium) untuk mengurangi risiko, contohnya adalah ketika anda membeli asuransi untuk mengurangi risiko.

Berkebalikan dengan risk averse, seseorang yang risk seeking cenderung cepat beradaptasi dan tidak ragu-ragu untuk bertindak.

Orang yang bertipe seperti ini akan sangat antusias untuk menangani ketidakpastian, namun kadang antusiasme itu malah dapat menghalangi pandangannya terhadap potensi bahaya, menyebabkan keputusan dan tindakan yang tidak tepat.

Risk seeking person melihat ancaman dan peluang secara terbalik, cenderung meremehkan ancaman, baik terhadap probabilitas dan konsekuensinya, dan menilai terlalu tinggi pentingnya sebuah peluang, yang dapat memancing orang tersebut untuk mengejar peluang dengan sangat agresif dan bersedia menoleransi kemungkinan hasil yang merugikan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3