Cerpen

Tragedi Ina Wai Mat'e (Cerita Rakyat Watobuku)

12 Februari 2019   08:57 Diperbarui: 12 Februari 2019   09:07 24 1 0

Cerita Rakyat Watobuku

 

TRAGEDI INA WAI MAT'E

Pada zaman dahulu, dusun watobuku dan dusun Tabana masih terpisah dan belum menjadi satu kesatuan  desa Waiula. Dusun watobuku (wato  yang berarti batu  dan buk'u yang berarti pagar dalam bahasa daerah disebut niha), sehingga watobuku berarti batu (Nuba Nara) altar batu tempat dipersembahkan korban persembahan yang dipagari oleh sejumlah batu. Konon, terjadilah kawin paksa  antara pihak suku aran dan suku puka, dalam hal ini suku aran menyerahkan salah seorang saudari yang bernama Ina Wai Mat'e untuk dinikahkan dengan pihak suku puka yang bernama Taji. Ina Wai Mat'e terlebih dahulu menaruh hati kepada Ose, yang sudah bertahun-tahun dikenalnya. Jalinan cinta antara Ina Wai Mat'e dan Ose  hanya melalui syair pantun yang setiap hari didengungkan, seperti  (1) Doan ro kae sayang doan ro pali kae, ole toda mio-mio doan pali kae, nuan ro piran le ana tite herun balik la, ole ro toda nete anak doan la. (2) a tou tena, tou laja la,  bua ro panalah ba pe lau la, taping ro dai kame numpang la, kame coba mau lodo lau watobuku la.(3) halilintar melingkar langit, kilat sambar di pohon tuak, jika sinyo mengikat cinta, cinta sampai di hari tua (4) Pohon bidaralah, buahnya saratlah, karena sarat, dahannya patalah. Jika ade nona, kurang percayalah, belalah dada, lihat di hati lah.

Bagi ina Wai Mate- sosok lelaki seperti Taji adalah lelaki yang pemberani namun angkuh hatinya. Setelah direstui hubungan oleh pihak suku Puka sebagai tuan tanah  di bao Wolo-yang memberikan tanahnya kepada suku kedua yakni suku Aran, akhirnya  Ina Wai Mat'e dijadikan sebagai alat balas budi.

Namun, keputusan mereka, menyakiti hati Ina Wai Mate sehingga ia rela berpisah dengan Ose, lelaki pilihan hatinya. Ina Wai  Mate menolak perjodohan tersebut. Namun, karena demi menyelamatkan banyak orang, akhirnya diterimanya keputusan walaupun dengan berat hati.

Sehari setelah penyerahan Ina Wai Mat'e kepada Taji, Taji memproklamirkan dirinya (pahi nare) dalam bahasa setempat "Go Taji Siri Goko Ile Gole"(saya adalah Taji, ayam jantan yang berkokok di sekeliling gunung), ungkapan tersebut menunjukan bahwa ia adalah lelaki pemberani,  tangguh yang siap menjaga istrinya. Kalimat tersebut membangkitkan amarah dalam diri Ina Wai Mate namun disimpannya amarah agar tidak terjadi percecokkan dalam dirinya sendiri maupun terhadap pihak lain.

"Ama, lera wulan dan Ina tanah ekan, go pasrah", Ina Wai Mat'e membathin. "Eka tolak koda geto, kalau lae tite toi suker'e", nasihat Anu panjang lebar. Berulang-kali Ina Wai Mat'e disiksa, dipukul, ditendang bahkan tidak diberi makan berhari-hari oleh orang tua dan saudara-saudaranya,karena dianggap anak yang durhaka.Anak yang tidak menghargai adat sebagi warisan nenek moyang.

Hari semakin gelap. Perasaan Ina Wai Mat'e bercampur aduk. Air mata pilu ditelannya. Sebentar lagi, pihak keluarga Taji akan datang (masuk minta) memita persetujuan pihak perempuan meskipun sebelumnya Ina Wai Mat'e dan Taji sudah dipertemukan dalam situasi yang belum resmi. Tentu saja pihak keluarga Ina Wai Mat'e menerima Taji sebagai "teman " hidup. Setelah proses itu dilewati, Ina Wai Mat'e mengurung diri dan hanya menangis meratapi kemalangan. Proses Adat berlanjut terus. Kali ini proses Wajah buhun (gelap) yakni  tahapan pertemuan kedua belah pihak untuk mengurus Ina Wai Mat'e dan Taji secara adat dan gereja. Acara gade gelang sebagai tanda ikatan opu bine anak laki-laki kepada anak perempuan dengan memberikan siri pinang, cincin dan cermin. Selanjutnya, acara puncak  yaitu Kawin adat (koda geto)

Keputusan adat oleh tua-tua adat opu bine, opu lake perempuan dan laki-laki serta keluarga dalam menyepakati besarnya belis (bala) adat untuk menghormati, menghargai dan mengangkat martabat wanita Lamaholot .Antar sirih pinang  oleh pihak opu kepada pihak ina ama (pihak perempuan)sesuai hasil kesepakatan berupa witi bala (gading dan kambing). Ikan manu, Upacara pemberian makan secara adat oleh opu berupa ayam adat serta pemberian makan ikan pihak ina ama kepada opu bine atau keluarga laki-laki. Belo baja (pemotongan kambing adat) oleh opu bine sebagai tanda restu oleh bine kepada saudaranya disaksikan oleh kedua belapihak keluarga untuk makan bersama           

Proses adat telah selesai dilakukan. Ina Wai Mat'e hanya bisa pasrah dan menyerahkan semuanya kepada Ama lera wulan. Pihak keluarga Taji belum sanggup memberikan belis berupa bala. Hal itu, menambah beban penderitaan bagi Ina Wai Mat'e akibat tuntutan keluarga. Harapan pihak keluarga  yakni sebelum pernikahan gereja, belis sudah diberikan. Penetapan tanggal pernikahan semakin terdengar jelas di telinga. Namun apa yang terjadi, pernikahan tanpa adanya penyerahan belis bala pun, terjadi. Upacara pernikahan berlangsung meriah. Masyarakat yang berdomisili di sekitar perkampungan watobuku berdatangan. Gitar kayu, gendang, gong,diselingi  soka nolo menyambut kedua mempelai sebagai tanda kegembiraan. Alhasil, Kebahagiaan Ina Wai Mate dan Taji berlangsung tidak lama. Kebahagiaan yang didambakan oleh Paji, kini berhakhir dengan duka dan air mata.

Malam hari, di tengah kesibukan masyarakat meriah-rayakan kebahagiaan, Ina Wai Mate  mengambil seutas tali dan mengakhiri hidupnya dengan gantung diri.Lama berselang, semua orang panic termasyuk Taji, suaminya. Pencarian demi pencarian terus dilakukan, akhirnya Linu dan Rikus menemukan Ina Wai Ma'te sedang tak bernyawa di atas sebuah pohon. Mereka menurunkan jasadnya lalu dimakamkan. Tragedi Ina Wai Mat'e menyadarkan masyarakat Watobuku bahwa cinta yang dipaksakan tidak akan menemukan kebaagiaan dalam diri dan rumah tangga.

          Masyarakat Watobuku dikenal luas dengan semboyan khasnya:

Watobuku lama luma --lewotana/riang

Tana toho-Tanah subur

Waibalun-wai b'a (air mengalir)

Tanah puka ile gole

Lew'o ar'e mate papa rua

Puka lama bura, dua lama mengi

Ar'e lare gete, puka wol'o lolo  

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3