Berty Sinaulan
Berty Sinaulan Penulis dan Pewarta

Pembina Pramuka, Penulis, Pewarta, Pengumpul Prangko, Penggemar Star Trek (Trekkie/Trekker), Penggemar Petualangan Tintin (Tintiner), Penggemar Superman, Penggemar The Beatles

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Kabar dari Korea (2): Tiga Pembina Pramuka Indonesia Ikut Pendidikan di Korea

30 Oktober 2015   12:12 Diperbarui: 30 Oktober 2015   12:25 583 1 0

[caption caption="Kursus Pelatih Pembina Pramuka Course for Leader Trainer yang diselenggarakan Kepanduan Kawasan Asia-Pasifik di Suncheon, Korea Selatan, 26 Oktober sampai 1 November 2015. (Foto: milik Justin Kim)"][/caption]

Tiga Pembina Pramuka dari Indonesia, Kak Slamet Budi Prayitno, Kak Mohammad Laiyin Layen Nento, dan Kak Fuad Zen, saat ini tengah mengikuti pendidikan bertajuk Course for Leader Trainer (CLT) yang diselenggarakan Kepanduan Kawasan Asia-Pasifik (Asia-Pacific Regional Scout) di Suncheon, Korea Selatan. CLT adalah kursus bagi para Pembina Pramuka yang telah lulus dari kursus Course for Assistant Leader Trainer (CALT).

Di Indonesia, CLT dikenal dengan nama Kursus Pelatih Pembina Pramuka tingkat Lanjutan (KPL). Sedangkan CALT disebut Kursus Pelatih Pembina Pramuka tingkat Dasar (KPD). KPL adalah jenjang kursus tertinggi bagi para Pembina Pramuka, yaitu mereka yang berusia di atas 25 tahun. Sebelum mengikuti KPD dan KPL, seorang Pembina Pramuka harus mengikuti terlebih dulu Kursus Pembina Pramuka Mahir Dasar (KMD) dan Kursus Pembina Pramuka Mahir Lanjutan (KML).

Namun selesai kursus, tidak serta-merta seorang Pembina Pramuka dinyatakan lulus. Mereka yang sudah mengikuti KMD, diwajibkan melaksanakan masa pengembangan yang disebut Narakarya 1, selama sekitar enam bulan. Baru setelah selesai melewati Narakarya 1, seorang Pembina Pramuka berhak mendapatkan Surat Hak Bina.

Begitu pula bila setelah itu, Pembina Pramuka yang bersangkutan mengikuti KML. Dia juga harus melaksanakan Narakarya 2 selama sekitar 6 bulan. Setelah itu, baru yang bersangkutan berhak mengenakan “pita mahir”, suatu tanda berbentuk pita yang disematkan di bagian depan seragam Pramuka bersangkutan. Bersamaan dengan itu, kepada yang bersangkutan juga diserahkan selendang Mahir dan ijazah.

Pada tahap berikutnya, seorang yang mempunyai selendang Mahir dan ijazah, bisa mengikuti KPD. Selesai mengikuti KPD, yang bersangkutan wajib melaksanakan Naratama 1 yang dilaksanakan minimal enam bulan, baru kepadanya diserahkan Surat Hak Latih. Selanjutnya, setelah yang bersangkutan aktif baik sebagai Pelatih Pembina Pramuka di Kwartir Cabang (Kwarcab)-nya maupun sebagai Pembina Pramuka di Gugusdepannya, terbuka kesempatan untuk mengikuti KPL. Selesai KPL, juga wajib melaksanakan Naratama 2 selama minimal 6 bulan.

Kini, tiga Pembina Pramuka dari Indonesia bersama puluhan Pembina Pramuka/Pandu dari negara-negara di kawasan Asia-Pasifik, yang mengikuti CLT atau KPL di pusat pelatihan kepanduan Asia-Pasifik Suncheon, Korea Selatan, mulai 26 Oktober sampai 1 November 2015. Kak Slamet Budi Prayitno yang saat ini juga merupakan Ketua Kwartir Daerah (Kwarda) Gerakan Pramuka Jawa Tengah, Kak Fuad Zen yang berasal dari Kwarcab Jakarta Pusat, Kwarda DKI Jakarta, dan Kak Mohammad Laiyin Layen Nento, yang berasal dari Kwarcab Bekasi, Kwarda Jawa Barat, berpartisipasi aktif sebagai peserta.

Bukan itu saja. Salah seorang pelatih yang memberikan materi dan menjadi narasumber pada CLT itu juga berasal dari Gerakan Pramuka. Dia adalah Kak Joko Mursitho, yang pernah menjadi Kepala Pusat Pendidikan dan Latihan Gerakan Pramuka tingkat Nasional (Pusdiklatnas).

Semoga kehadiran para Pembina Pramuka dari Indonesia mampu menimba ilmu dan dapat disebarkan serta diterapkan untuk pengembangan dan kemajuan Gerakan Pramuka.