Mohon tunggu...
Frenorth M
Frenorth M Mohon Tunggu... Volunter, Penulis, Pengembang Aplikasi

WWW.BONUSDEMOGRAFI-INSTITUTE.ORG Kopiholic # Untuk Kolaborasi, ide & saran email : bonusdemografi2020@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Revolusi Kaum Muda dan Tantangan Bonus Demografi

25 Agustus 2018   04:09 Diperbarui: 20 September 2018   22:38 0 13 8 Mohon Tunggu...
Revolusi Kaum Muda dan Tantangan Bonus Demografi
sumber gambar : @Saveindonesia17&creator-inc.com

Kaum muda memiliki peran penggebrak dalam tatanan sosial yang saat ini sungguh mengkhawatirkan. Dari korupsi yang merajalela, perusakan hutan membabi buta, jutaan pengangguran, terorisme, hingga politikus busuk bahkan abal-abal. Peran itu harus di buka lebar dalam kancah dunia pemerintahan dan publik. Kaum muda sebagai agen perubahan memiliki spirit idealisme yang membara serta revolusioner, sehingga kebobrokan sosial serta tantangan zaman dapat di pecahkan dan di selesaikan dengan solusi yang lebih berani, progresif, cepat serta mendobrak mitos yang mengatakan usia muda tidak menjamin pengalaman sehingga kaum muda cenderung terlihat emosional daripada realistis.

 Namun , benarkah usia yang menjaminkan pengalaman dan realitas selaras ? Jika memang demikian, mengapa permasalahan sosial semakin menjadi-jadi ? Menggunakan cara yang sama dan berharap hasil yang berbeda tentu saja merupakan kekonyolan. Hasil yang berbeda membutuhkan cara yang sepenuhnya baru dan segar, bila perlu bongkar tatanan konvensional, gerakkan Revolusi ! Kaum muda adalah jawaban jitu dalam menjawab tantangan tersebut.

Kita tentu tidak lupa akan sejarah, di mana desakan para kaum mudalah menjadi pendorong kemerdekaan, sampai-sampai ketika itu menculik bung Karno bersama Hatta agar segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Pada akhirnya kemerdekaan terwujud, walaupun dengan suasana bangsa yang belum stabil apalagi aman. Berapa banyak dari kita yang tahu, khususya kaum muda, seorang tokoh nasional Sutan Syahrir di era baru kemerdekaan pernah menjadi perdana menteri dengan usia saat itu  baru menginjak 36 tahun !

Lebih jauh lagi, dalam skala global, DNA pendobrak dari kaum muda ternyata juga sudah menjadi terobosan dalam struktur pemerintahan. Belum lama ini, bagaimana seorang pemuda berusia 27 tahun telah menjadi seorang menteri urusan luar negera Austria yang bernama Sebastian Kurz dan saat ini telah  memegang tampuk kepala pemerintahan termuda, saat ia baru menginjak usia 31 tahun.

Tidak kalah fenomenalnya, seorang perempuan bernama Shamma Al Mazrui dari negara federasi Uni Emirat Arab mengemban amanat pejabat menteri pemuda pada usia 22 tahun !. Masih ada beberapa tokoh pemerintahan negara lain yang juga tak kalah terbukanya terhadap generasi muda yang pernah di percaya memegang posisi strategis. Yuko Obuchi ( 34 tahun ) dari Jepang, Kristina  Schroader ( 33 tahun ), dan baru-baru ini presiden Prancis, Macron ( 39 tahun ). Baru-baru ini, Indonesia kedatangan tamu muda dari salah satu menteri paling muda dari negara Malaysia, Syed Shaddiq yang di percaya memegang posisi tampuk kementerian pemuda dan olah berusia 25 tahun ! 

Begitu pula dengan dunia bisnis, banyak figur muda  menjadi penggebrak solusi dan merubah haluan fundamental dalam menggerakkan sosial ekonomi. Lihat saja, seorang Nadiem makarim ( 27 tahun ) memulai bisnis Gojeknya atau yang skala internasional, sebutlah salah satunya Mark Zukenberg ( 20 tahun ) ketika pertama kali mengguncang dunia dengan media sosialnya Facebook. Dalam gerakan sosial pendidikan yang di kenal dengan Sokola Rimba, kita juga mengenal Butet Manurung yang meraih" nobel"nya Asia Ramon Magsaysay yang ketika dirintis, tokoh pendekar pendidikan perempuan ini memulainya ketika baru berusia 30 tahunan. 

Belum lagi, seorang Leonika Sari pada usia 22 tahun merintis aplikasi Reblood yang menggebrak di bidang kesehatan : donor darah. Ini semakin menasbihkan,  kaum muda memang sejak lama memiliki naluri agent of change--- idealisme, keahlian, kelihaian, tenaga dan kapasitas yang mumpuni. Hal tersebut memudarkan anggapan usia dan senioritas menjadi tidak layak lagi menjadi komparasi. Kaum muda memerlukan kesempatan membongkar tatanan konvensional sosial di berbagai sektor. Para senior kita jangan hanya sibuk mengatakan kaum muda penerus dan aset bangsa, tapi tak juga memberikan estapet dan ruangnya.

Berikan kaum muda kesempatan

Melihat permasalahan bangsa kita yang kian kompleks, sudah saatnya pemerintah berkolaborasi & memberikan kesempatan bagi generasi muda untuk duduk sebagai policy maker.  Langkah strategis tersebut dengan membuka sebuah  kesempatan jabatan menteri yang di percayakan kepada generasi muda. Paling tidak pemerintah memberikan jabatan setingkat menteri agar lebih memahami psikologis kaum muda yang kini sangat berbeda di akibatkan gelombang inovasi teknologi. Cara berpikir dan budaya zaman now tentu memiliki tantangan tersendiri. Di butuhkan figur dengan profil yang hidup di era yang sama sehingga nantinya pemecahan dan pengelolaan permasalahan lebih efektif.

Apakah ini bisa terjadi di negara kita ? Ini semakin memungkinkan, di sebabkan perubahan struktur penduduk Indonesia mengalami bonus demografi sehingga generasi produktif kaum muda kian meledak. Jelas lebih membuka banyak pilihan. Apalagi Sejarah telah membuktikan, kaum muda memiliki peran krusial dan hal tersebut kini juga telah di terapkan di negara lain. Lalu mengapa tidak mencobanya ? Jika solusi tersebut memiliki risiko yang besar, hal tersebut merupakan hal yang lumrah. Dimana kebijakan atau keputusan tidak memiliki risiko ? Perubahan tentu memiliki risiko. Ada konsekuensi dalam menerima hasilnya. Tapi, kalau tidak dilaksanakan sekarang, mungkinkah "garuda muda" dapat terbang tinggi ?

Eksistensi kaum muda perlu di akui dengan memberikan kepercayaan dan kesempatan. Tentu saja dengan regenerasi tersebut bukan berarti tokoh pemimpin yang lebih senior akan kehilangan muka namun terbuka kemungkinan menjadi mentor atau partner karena memiliki jam terbang pengalaman berbeda. Bukankah Bung Karno pernah berpesan, Beri aku sepuluh pemuda, maka akan kuguncang dunia. Ah, apakah sepertinya terlalu puitis untuk di dobrak ? Atau mungkin perlu petisi untuk membongkar tradisi

Artikel ini pernah di muat DETIK.COM dengan judul Kepemimpinan Kaum Muda Dalam Pemerintahan

*Ada penyesuaian kalimat dan data

VIDEO PILIHAN