Beni Guntarman
Beni Guntarman BP Rusunawa Pemko Batam

Sekedar belajar membuka mata, hati, dan pikiran tentang apa yang terjadi di sekitar.

Selanjutnya

Tutup

Analisis

Jokowi atau Mahfud MD Vs Prabowo atau Anies Baswedan?

6 Juni 2018   19:43 Diperbarui: 8 Juni 2018   15:33 599 2 1
Jokowi atau Mahfud MD Vs Prabowo atau Anies Baswedan?
imperiya.by

Politik itu bersifat cair, segala kemungkinan bisa saja terjadi.  Demikian pula konstelasi poltik tahun 2018 yang semakin panas, ibarat musim dingin menjelang datangnya musim semi, suasana hangat mulai terasa di sana-sini namun salju belum sepenuhnya mencair. Melihat dari suasana politik yang masih beku sana-sini, saya coba melihat kemungkinan munculnya dua pasang Capres/Cawapres ini: Jokowi/Mahfud MD vs Prabowo/Anies Baswedan.

Jokowi usianya relatif muda.  Sebagai petanaha ia pasti akan didekati atau dipinang oleh berbagai kekuatan potensial untuk menyodorkan kader-kader partai yang berkelas dan berkompeten untuk menjadi Wakil Presiden.  

Apakah si Cawapres yang disodorkan itu punya nilai jual dan mampu mengubah konstelasi kekuatan politik untuk keuntungan Jokowi maka persoalannya bukan faktor usia yang lebih muda atau lebih tua dari Jokowi.  Mungkin faktor kematangan dalam berpolitik akan jadi faktor penentu siapa yang akan terpilih menjadi pendamping beliau.

Mahfud MD mungkin sosok yang paling tepat bila pertimbangannya "kekuatan sipil".  Disamping kenyang dengan asam garam perpolitikan di tanah air, Mahfud juga adalah sosok yang punya integritas, cerdas pandai membaca situasi, dan mampu bersikap bijak berlandaskan hatinurani.  Beliau punya kedekatan dengan NU yang kekuatannya tidak dapat dipandang sebelah mata oleh partai mana pun.  

Masih banyak lagi sejumlah alasan kenapa Mahfud MD layak mendampingi Jokowi di Pilpres 2019. Kemungkinan kita akan menyaksikan pertarungan Pilres yang lebih seru dari sebelumnya bila Jokowi/Mahfud MD bertarung melawan Prabowo/Anies Baswedan.

Seperti Mahfud  MD, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan juga layak diperhitungkan sebagai Cawapres. Posisinya sebagai Cawapres Prabowo. Kenapa pilihannya jatuh pada Anies? Atmosfir politik di Indonesia sekarang sedang ramah dengan sosok pemimpin perpaduan nasionalis dan religious.  

Perpaduan Gerindra dan PKS di Pilkada DKI Jakarta yang lalu berhasil menemukan momentum yang tepat dengan memunculkan sosok "nasionalis-religius" yang dimiliki oleh Anis Baswedan.  Efek gerakan 212, sebelum dan sesudahnya, hanya memiliki satu arti bahwa kebutuhan masyarakat pada sosok pemimpin yang religius semakin kuat dan perlu ditanggapi secara serius oleh semua kekuatan partai di Indonesia.

Sosok Anies Baswedan sebagai pendamping Prabowo di Pilpres 2019 mungkin akan dapat menjaga soliditas koalisi Gerindra-PKS. Mungkin akan bisa diterima dengan baik oleh PAN, bahkan mungkin juga akan didukung oleh Demokrat dan PPP.  Ditinjau dari segi kualitas, integritas, dan kecerdasan dalam berpolitik mungkin Anies tidak perlu kita ragukan lagi. 

Kelasnya sebagai politisi berbakat telah teruji di Pilkada DKI baru-baru ini. Namun apakah beliau akan mampu memenuhi ekspetasi para pendukungnya, kemampuannya akan terus diuji melalui berbagai isu politik hingga penyenggelaraan Pilres 2019 nanti.  Rasanya sulit untuk mencari sosok pendamping Prabowo yang kualitasnya mampu melebihi Anies Baswedan.

Kemana partai Demokrat akan merapat, apakah akan merapat ke kubu Jokowi atau kubu Prabowo? Platform politik partai Demokrat adalah "nasionalis-religius".  Kalau kita simak sikap politik SBY dalam Pilkada DKI Jakarta yang lalu terlihat bahwa SBY tetap konsisten denan platform partainya, karena itu Demokrat cenderung lebih mendukung Anies Baswedan/Sandiaga Uno.  Kita masih sulit menduga-duga bagaimana sikap politik SBY terhadap Prabowo. Sedikit berlawan dengan  sosok Prabowo ketika peristiwa Reformasi 

1998, sosok SBY sebagai "militer reformis" masih belum hilang dari ingatan banyak orang.  Mungkin harus ada janji-janji politik yang konkret terlebih dahulu sebelum SBY menyatakan dukungannya terhadap pasangan Capres/Cawapres Prabowo/Anies Baswedan.

Tulisan ini hanya prediksi, berdasarkan pengamatan situasi politik 2017 hingga pertengahan 2018 sekarang.  Bisa jadi benar atau bisa jadi salah. Namun kebutuhan sosok Cawapres "nasionalis-religius" rasanya tidak bisa ditawar-tawar lagi dalam Pilpres 2019 nanti.

******