Media

Peran Media Massa, Perubahan Budaya dan Perilaku Masyarakat: Peduli dengan Konservasi Tumbuhan

14 September 2017   12:23 Diperbarui: 14 September 2017   12:35 419 0 0

Media massa merupakan alat penyampai informasi yang saat ini tidak bisa dilepaskan dari kehidupan masyarakat. Menurut Paul dkk dalam Wijaya (2017, hal. 416), media massa memiliki peranan penting, yaitu mampu memperluas cakrawala, memusatkan perhatian, dan mengangkat aspirasi. Oleh karena itu, media massa dianggap mampu mengubah pola pikir masyarakat, yang berujung pada perubahan perilaku masyarakat. Dalam penelitian berjudul 'Peran Media Massa dalam Perubahan Budaya dan Perilaku Masyarakat untuk Peduli dengan Konservasi Tumbuhan' karya Fitria Wijaya, ditunjukkan peran media massa dalam mengubah budaya dan perilaku masyarakat agar peduli dengan konservasi tumbuhan.

Kebun Raya merupakan sebuah lembaga pemerintah yang memiliki tugas pokok dan fungsi untuk melakukan konservasi tumbuhan. Sehingga, Kebun Raya juga memanfaatkan peran media massa, dimana media massa sebagai alat penyampai informasi mampu mengedukasi masyarakat untuk peduli dengan konservasi lingkungan. Salah satu pemanfaatan media massa yang dipaparkan dalam penelitian tersebut ialah penayangan program 360 di Metro TV.

Tayangan program 360 mengangkat tema momen perayaan Hari Ulang Tahun Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor -- LIPI yang memasuki usia dua abad. Dijelaskan oleh peneliti bahwa program 360 mengangkat profil tokoh yang inspiratif, isu-isu terkini atau reportase mendalam, dan dipandu oleh Prita Laura serta Ferdy Prihardi. Tayangan tersebut dianalisa oleh peneliti menggunakan Teori Semiotika yang merupakan ilmu mengenai tanda-tanda. Menurut Roland Barthes, di dalam suatu kebudayaan terdapat tanda-tanda baik verbal maupun nonverbal, yang bisa ditafsirkan sehingga memiliki makna tertentu.

Dalam program 360, terdapat visualisasi dalam bentuk gambar maupun video, serta informasi dalam bentuk teks dan verbal. Program tersebut memuat beberapa flora endemik Indonesia yang terancam punah, tidak hanya berfokus pada Kebun Raya sebagai tempat wisata. Maka menurut peneliti, media massa mampu menonjolkan budaya untuk peduli dengan konservasi tumbuhan.

Peneliti berfokus pada narasi yang dibacakan oleh pembawa acara 360. Salah satunya adalah yang dibacakan oleh Prita Laura, bunyinya: "Tahun ini Kebun Raya Bogor memasuki usia 200 tahun. Dua abad bukanlah waktu yang singkat dalam perannya sebagai paru-paru kota dan juga juga pusat konservasi tumbuhan asli Indonesia". Kata 'paru-paru' memiliki makna yaitu Kebun Raya yang mampu menyerap karbon dan mensuplai oksigen murni untuk masyarakat sekitar. Menurut peneliti, hal itu sesuai dengan konsep Barthes yang menyatakan bahwa konotasi yang merupakan makna-makna kultural yang melekat pada sebuah terminologi. (Kriyantono dalam Wijaya, 2017, hal. 423).

Narasi lain yang dibacakan oleh Ferdy Prihardi berbunyi: "Ini adalah cikal bakal bunga Raflesia di kandang badak, sebuah lokasi khusus yang disiapkan pihak Kebun Raya Bogor agar Raflesia bisa berkembang di luar habitat aslinya. Namun bakal bunga ini belum tentu bermekaran mengingat banyaknya faktor yang mempengaruhi pertumbuhannya". Menurut peneliti, narasi tersebut mengandung makna bahwa usaha konservasi tumbuhan yang dilakukan di luar habitatnya merupakan suatu hal yang tidak mudah. Tujuan yang ingin dicapai dari penggunaan kalimat verbal tersebut ialah agar masyarakat dapat mengubah pola pikir mereka dan tergerak untuk peduli terhadap konservasi tumbuhan.

Peneliti juga memaparkan data mengenai jumlah masyarakat yang berkunjung ke Kebun Raya Bogor -- LIPI. Disebutkan bahwa jumlah rata-rata pengunjung pada libur lebaran tahun ini berjumlah sebanyak 16.741 orang. Angka tersebut mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan tahun lalu, dengan rata-rata pengunjung saat libur lebaran yang hanya mencapai 13.189 pengunjung. Namun yang disayangkan adalah, peneliti belum bisa membuktikan apakah kenaikan jumlah pengunjung Kebun Raya disebabkan oleh peran media massa, atau karena faktor lain. Padahal bisa saja peningkatan jumlah pengunjung diakibatkan oleh faktor internal dari Kebun Raya Bogor sendiri, misalnya karena adanya peningkatan kualitas fasilitas, dan sebagainya.

Hal lain yang perlu menjadi perhatian dalam penelitian ini adalah kurangnya contoh dari peran media massa dalam mengubah perilaku masyarakat itu sendiri. Peneliti hanya mengambil satu contoh tayangan media massa, yaitu program 360 di stasiun Metro TV. Padahal, satu tayangan tidak bisa menjadi tolok ukur untuk menyatakan bahwa pola pikir dan perilaku masyarakat benar-benar berubah. Tidak ada angka yang disebutkan mengenai jumlah pemirsa dari tayangan 360 edisi Hari Ulang Tahun Kebun Raya Bogor. Selain itu, peneliti harusnya juga bisa memberi contoh lain mengenai media massa apa saja yang mengangkat isu mengenai konservasi tumbuhan.

Terlebih lagi, tidak ada data yang tersedia mengenai motivasi dari pengunjung Kebun Raya Bogor pada saat libur lebaran tahun 2017. Peneliti tidak melakukan survey apakah pengunjung terdorong untuk pergi ke Kebun Raya setelah melihat atau mendengar informasi dari media massa.