Mohon tunggu...
Anton Bele
Anton Bele Mohon Tunggu... Dosen - PENULIS

Dosen Tamu, pengampu Mata Kuliah Filsafat di Program Pasca-sarjana Interdisiplin Studi Pembangunan, Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, Jawa Tengah.

Selanjutnya

Tutup

Filsafat

Hidup Jujur (4)

3 Desember 2021   16:08 Diperbarui: 3 Desember 2021   16:54 35 2 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Filsafat. Sumber ilustrasi: PEXELS/Wirestock

KKN. Tiga huruf ini lagi ramai mengisi telinga, menghiasi berbagai media. Korupsi, Kolusi, Nepotisme. Kita tahu, Korupsi itu dari kata Latin, 'co-rumpere', menghancurkan bersama. Kolusi, dari kata Latin, 'co-ludere', bermain bersama. Nepotisme, dari kata Latin juga , 'nepos', cucu, ponakan.

Istilah yang sedang ramai sekarang sebagai kejatahan itu mempunyai arti: Korupsi, penyalah-gunaan milik umum, entah barang atau uang untuk kepentingan sendiri sehingga disebut merusak, menghancurkan bersama. Kolusi: bermain dalam arti negatif, bermufakat untuk membuat tipuan dan menggelapkan milik umum. 

Nepotisme: mengutamakan keluarga, orang dekat untuk menduduki posisi tertentu, biar tidak cocok dan layak untuk posisi itu, demi melanggengkan tindakan mencuri barang atau uang milik umum.

Orang-orang sederhana di kampung, petani-peternak mempunyai ungkapan, 'Saya biar miskin, makan hasil tangan sendiri, sepuluh jari ini'. Tidak curi. Kalau curi dan kedapatan, sangat malu seumur hidup dan menimpa menimpa turunan. Orang Latin punya pepatah, 'Res clamat dominum', barang berteriak kepada tuannya. 

Kalau barang orang dicuri biar itu benda mati seperti uang, benda hidup, tanaman atau hewan, 'berteriak' mencari tuannya. Sang 'pemilik' baru yang tidak sah, akan menderita lahir bathin karena hak orang lain itu bergejolak dalam dirinya, mengganggu tubuh dan jiwa.

Jujur. Ini kunci untuk tidak KKN. Jujur itu sederhana sekali: ada kecocokan antara pikiran, perkataan dan perbuatan dalam hal yang baik. Kalau salah satunya buruk, maka hasilnya jahat.

Pikiran baik, perkataan dan perbuatan buruk, yah, buruk. Pikiran baik, perkataan jelek, perbuatan baik, tetap jelek. Pikiran baik, perkataan baik, perbuatan jelek, yah, jelek juga. Lebih fatal kalau tiga-tiganya jelek.

Pikiran, perkataan, perbuatan kita manusia ini muncul dari empat unsur dalam diri kita. Empat unsur itu: Nafsu+Nalar+Naluri+Nurani. Kita manusia berupaya untuk memiliki dan menikmati barang atau hal apa pun, muncul karena ada dorongan dan keinginan dari Nafsu. Dalam diri kita ada Nalar yang siap beri pengetahuan dan pengalaman untuk memutuskan dorongan Nafsu itu boleh diikuti atau tidak. 

Kalau Nalar setuju karena baik, maka Naluri langsung beri pengawasan untuk ingat sesama. Jangan merugikan sesama, harus menguntungkan sesama. Hasil kerja Nafsu, Nalar dan Naluri inilah disetujui oleh Nurani kalau baik atau ditolak kalau jahat. (4N, Kwadran Bele, 2011).

Diri pribadi kita melawan Nurani, maka kita terjerumus dalam kekeliruan. Kalau diri pribadi kita terima dan laksanakan keinginan Nafsu secara teratur, pertimbangan oleh Nalar yang tepat, diterima oleh Naluri dengan gembira dan diresap oleh Nurani secara tenang, maka terjadilah perbuatan yang baik dan saleh. Kalau seluruh rentetan aksi itu penuh dengan kasak-kusuk, Nafsu menggelora, 

Nalar menggurita, Naluri menggerutu dan Nurani mengganjal, maka diri kita hidup tidak tenang, makan di cafe kerongkongan kering, berbusana gagah hati galau, tidur di kasur otak kabur.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan