Mohon tunggu...
B Budi Windarto
B Budi Windarto Mohon Tunggu... Guru - Pensiunan

Lahir di Klaten 24 Agustus 1955,.Tamat SD 1967.Tamat SMP1970.Tamat SPG 1973.Tamat Akademi 1977

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Yang Terpilih, Mengalami Penganiayaan Iman!

25 September 2021   08:38 Diperbarui: 25 September 2021   08:50 52 2 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Yang Terpilih, Mengalami Penganiayaan Iman!
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Bacaan  Sabtu,  25 September 2021

Luk 9:43 Maka takjublah semua orang itu karena kebesaran Allah. (9-43b) Ketika semua orang itu masih heran karena segala yang diperbuat-Nya itu, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: 44"Dengarlah dan camkanlah segala perkataan-Ku ini: Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia."  45 Mereka tidak mengerti perkataan itu, sebab artinya tersembunyi bagi mereka, sehingga mereka tidak dapat memahaminya. Dan mereka tidak berani menanyakan arti perkataan itu kepada-Nya.

Renungan

Andaikata pada bulan Oktober nanti kepada umat katolik Keuskupan Agung Semarang ditawarkan kesempatan ziarah ke Gua Maria Sendangsono Promasan Kulon Progo model tahun 70-an, yakin akan sepi peminat. Pada tahun 70-an, dari tempat parkit kendaraan. di pinggir jalan raya Muntilan --Wates (maaf lupa, jika tidak salah nama lokasi parkiran Sanden), menuju lokasi Gereja Promasan berjalan kaki. Ditambah lagi berjalan kaki pada rute jalan salib menuju Gua Maria.  Jadi pulang pergi, berjalan kaki  menempuh sekitar 10km.  Kini kebanyakan para peziarah memilih langsung  parkir di dekat lokasi. Rute jalan salib begitu pendek dan menyatu dengan tempat ziarah.  Jalan kakinya tak terasa capainya. Ya hampir mustahil kini dijumpai peziarah yang menggunakan rute ziarah tahun 1970-an.  Salah satu segi  peziarahan, perjalanan, mlaku, jalan kaki merasakan perih hati, "prihatin" dirasa berat,  melelahkan, diemohi.

Bacaan Injil hari ini menarasikan segi penderitaan kemesiasan Yesus. Yesus bukanlah mesias politis seperti para murid dan orang banyak harapkan. Pemberitahuan tentang penderitaan-Nya diulang kedua kalinya.

Perikope  sebelum bacaan Injil  hari ini menarasikan adanya salah seorang dari orang banyak yang berbondong-bondong datang kepada Yesus, menginformasikan bahwa dia telah datang kepada murid-murid-Nya supaya mengusir roh dari anaknya yang sakit namun mereka tidak dapat melakukannya. Yesus menyatakan mereka sebagai angkatan jahat yang tidak percaya ketika masih bersama-Nya.  Yesus meminta anaknya dibawa kepada-Nya. Yesus menegor roh jahat itu dengan keras, menyembuhkan dan mengembalikannya kepada ayahnya. Dan takjublah semua orang itu karena kebesaran Allah.

Sementara mereka takjub, Yesus menggunakan kesempatan ini untuk mengulang kembali apa yang pernah disampaikan-Nya kepada murid-murid-Nya, "Dengarlah dan camkanlah segala perkataan-Ku ini: Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia."   Yesus harus diserahkan ke dalam tangan manusia. Bukannya untuk memenuhi angan-angan mereka. hidup dengan kekuasaan, dalam kehormatan, Yesus yang mereka ikuti, harus mati dengan cara yang tidak mereka bayangkan. Di tangan manusia yang berseberangan, oposan dan menolak-Nya, Yesus akan dibunuh dengan biadab, para murid-Nya akan dipermalukan. Banyak orang yang mengikuti-Nya, akan berbondong-bondong berbalik meninggalkan-Nya. Ketakjuban akan mujizat-mujizat-Nya tidak mampu mencegah kematian-Nya.

Kebenaran penting mendasar bagi relasi para murid dengan Yesus itu berulangkali dinyatakan agar mereka sungguh mengenal-Nya. Pernyataan-Nya,  "Dengarlah dan camkanlah segala perkataan-Ku ini ..." dimaksudkan agar murid-murid-Nya sungguh memperhatikan baik-baik apa yang Yesus katakan. Jangan "njangan gori" pura-pura tuli "mbudheg", tutup telinga terhadap kesungguhan perkataan-Nya, sehingga  enggan mempercayai-Nya. Buanglah segala pemikiran, angan-angan, pamrih akan kekuasaan  kerajaan  Sang Mesias. Jangan mengharapkan akan "kecipratan kamukten", ikut menikmati kejayaan dan kemuliaan duniawi saat Sang Mesias meraja. Buang jauh-jauh gambaran mesias politis itu.

Yesus sudah memberitahukan untuk kedua kali tentang penderitaan yang akan dialami-Nya. Namun para murid  tidak mengerti perkataan-Nya. Meski begitu jelas dan tegas perkataan itu mereka tidak mau memahaminya. Perkataan-Nya itu diluar skenario dan tidak sesuai dengan pemikiran mereka. Mereka  tidak mau dan tidak berani menelisik makna sejatinya  perkataan itu. Mereka ingin hidup dalam impian yang menyenangkan, bukan tersadar dan terjaga akan sebuah kebenaran perutusan-Nya. Kebenaran itu  tersembunyi bagi mereka, Kuatnya harapan akan kecipratan kehormatan membuat mereka tidak dapat memahami-Nya . Mereka sendirilah yang membuat pernyataan-Nya itu menimbulkan pertentangan dalam dirinya.

Untuk apa mengikuti Yesus? Agar bebas dari segala masalah? Mengapa menjadi kristiani, mengikuti Yesus dibenci, dikucilkan, didiskriminasi, diancam, diteror, ditangkap, dipenjara, dianiya dan dibunuh? Mampukah bertahan mengalami hal-hal demikian? Ataukah semakin bersyukur bersukacita bersemangat karena diperkenankan mengikuti Yesus dalam penderitaan salib-Nya? Mampukah menemukan misteri menjadi kristiani, mengikuti Yesus, bahwa keselamatan kehidupan kedamai-sejahteraan justru semakin terasakan dikala dibully, dipersekusi, "dipopoki tai", karena kekristenan, karena nama Yesus Tuhan?

Yang terpilih mengalami penganiyaan iman, hidup benar sebagai manusia benar dengan Allah benar yang esa, kuasa dan kasih-Nya tanpa batas. Hidup penuh syukur,  sukacita,  semangat,  jadi berkat, pada saat untung dan malang, suka dan duka, sehat maupun sakit.  Ini  misteri. .

Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan