Bass Elang
Bass Elang Seniman

Dan pada akhirnya senja berubah menjadi malam yang gelap. Tak ada yang berkesan kecuali wajah manismu yang melintas.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Memilah dan Memilih

14 Maret 2018   03:11 Diperbarui: 14 Maret 2018   16:26 486 0 0
Memilah dan Memilih
Photo Sendiri

Seperti biasanya, sebelum saya membaca buku, saya membuat secangkir kopi hangat dulu, dan menyalakan sebatang rokok. Saya menaruhnya di meja kecil dan mengambil satu buah buku karya orang intelek, lalu saya duduk manis, dan memangku bantal diatas kedua paha; saya menaruh bukunya diatas bantal tersebut. 

Sebelum memulai membaca, saya menghidupkan komputer, menge-play sebuah lagu, dan menghidupkan kipas angin. Tapi biasanya lagu yang saya pilih adalah lagu yang menyemangati, agar dapat merangsang perasaan; bergairah membaca bukunya.

Misalnya, buku yang akan saya baca adalah buku kesedihan, maka lagu yang saya putar adalah lagu kesedihan. Jika buku yang akan saya baca adalah buku ceria, maka lagu yang saya putar juga lagu yang ceria. Sebab lagu dapat memengaruhi perasaan seseorang. 

Buku yang saya baca kali ini adalah buku (maaf saya lupa judul bukunya) karya Prof. Quraish Shihab, seorang agamawan yang cukup di kenal itu. Mengapa saya membaca buku karya beliau? Alasannya adalah, ada sebagian karya tulisannya yang saya butuhkan. 

Tanpa pertimbangan tanpa pemaksaan saya buka buku karya beliau itu. Kemudian saya baca pelan-pelan dari kata ke kata, dari bait ke bait, dan bahkan dari halaman ke halaman. 

Dari mulai halaman pertama, saya membaca sampai halaman berikutnya, dan berikutnya. Namun pada halaman 64 saya menemukan statement yang menabjubkan. Berhubung lagu yang saya putar dengan lirik yang sangat mendukung sekali, yang membuat saya semakin semangat membaca. 

Statement yang menabjubkan itu adalah bahwa manusia di beri anugerah kemampuan "memilah dan memilih." Pada halaman tersebut menceritakan sebuah peristiwa yang menimpah Ali bin Abi thalib R.a. Konon, beliau sedang duduk bersandar di satu tembok yang ternyata rapuh, tembok itu roboh, beliau pun pindah ke tempat lain. 

Namun salah satu orang di sekelilingnya yang menyaksikan peristiwa itu bertanya. Mengapa beliau lari; mengindar dari takdir Tuhan. Sayidina Ali menjawab pertanyaannya. "Rubuhnya tembok, berjangkitnya penyakit adalah berdasarkan hukum-hukum yang telah di tetapkanNya, dan bila seseorang tidak menghindar, ia akan menerima akibatnya. Akibat yang menimpahnya itu juga takdir, tetapi bila ia menghindar, dan luput dari marabahaya, maka itu pun takdir. Bukankah Tuhan menganugerahkan manusia kemampuan memilah dan memilih?"

Kisah itu membuat otak saya langsung "berbicara". Jika memang manusia di beri anugerah kemampuan "memilah dan memilih," maka saya berusaha, dan bersungguh -sungguh dengan keras untuk mendapatkan gadis impian dan menikahinya; sebagai pendamping hidup. Mengapa demikian?

Saya kira pernikahan itu adalah hal yang sakral, maka saya perlu "memilah dan memilih," agar dikemudian hari wanita yang saya nikahi bisa bersamaku, hingga hari tuaku nanti. 

Dan alasan lainnya adalah, sejak kecil saya sudah merasakan kehidupan yang terpisah dengan kedua orang tua saya. Mereka berpisah, dan dampaknya kepada anak. 

Saya merasa hidup jauh dari kedua orang tua itu tidak enak. Dengan kata lain, jauh dari kasih sayang orang tua, kurang perhatian, dsb. Hati kecil saya berkata, hal semacam ini jangan sampai dialami juga kepada anak-anak saya nanti dikemudian hari. 

Tidak habis pikir juga. Saya kira, saya sudah tahu, wanita mana yang tepat untuk saya nikahi. Yaitu, dia. Meski begitu, kadang pikiran saya "berkata" lain. Yakni, antara mungkin dan tidak mungkin. Apakah dia dapat dinikahi, ataukah tidak?

Tetapi setelah saya membaca buku karya Prof. Quraish Shihab ini, saya menemukan semangat baru. Bahwa saya harus terus bersungguh -sungguh untuk mengimplementasikan apa yang sudah ada pada otak saya. Yaitu, semangat mencintainya dan berusaha menjadikan seseorang itu sebagai pendamping hidupku nanti. 

Cerita... 04/07/16