Mohon tunggu...
Muh. Ruslim Akbar
Muh. Ruslim Akbar Mohon Tunggu... Akuntan - Akuntan

All the time working

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama

Alasan Sulitnya Unsur Korea Berasimilasi dengan Nama Orang Indonesia

25 Juli 2021   00:52 Diperbarui: 20 Agustus 2021   13:02 194 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Alasan Sulitnya Unsur Korea Berasimilasi dengan Nama Orang Indonesia
Sumber: Bentley.edu

Oleh: Muh. Ruslim Akbar

Mulai dari Arifin Putra Scheunemann, Cinta Laura Kiehl, ataupun Fairuz A Rafiq merupakan selebriti Indonesia yang namanya terdapat unsur Eropa dan Arab. Selain mereka bertiga, tentu masih banyak selebriti maupun masyarakat biasa di Indonesia yang juga memiliki nama berunsur Eropa dan Arab. Lantas, mengapa nama yang memiliki unsur Korea jarang atau bahkan tidak pernah kita jumpai? Padahal sejak beberapa dekade sebelumnya budaya Korea begitu masif masuk ke masyarakat Indonesia mulai dari Musik K-Pop, Drama Korea, maupun fashion. Berikut adalah beberapa alasan sulitnya unsur Korea berasimilasi dengan nama orang Indonesia.

1. Sejarah Masa Lalu.

Melihat sejarah masa lalu, setidaknya Indonesia pernah dijajah oleh 5 bangsa Eropa dan 1 negara Asia yaitu Portugis, Spanyol, Belanda, Perancis, Inggris, dan Jepang. Dampak penjajahan bangsa-bangsa Eropa dan Jepang membawa pengaruh yang cukup signifikan dalam berbagai aspek kehidupan orang Indonesia yang masih bisa kita rasakan hingga hari ini. Salah satunya dalam aspek budaya yang melahirkan kata-kata serapan seperti Buku dan Telepon yang merupakan kata serapan dari Bahasa Inggris, yaitu Book dan Telephone.
Sementara, kedatangan bangsa Arab ke Nusantara selain untuk berdagang juga ikut berdakwah dan menyebarkan pengetahuan keagamaan dan bahasa kepada penduduk pribumi. Selain itu, saudagar yang menetap di Indonesia juga sangat berpengaruh besar terjadinya asimilasi, termasuk dalam hal bahasa. mereka mengajarkan kepada penduduk setempat baca tulis Al-Quran dengan menggunakan bahasa Arab. Menurut penelitian, kosakata bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Arab sangat banyak. Dan diperkirakan mencapai 2000 hingga 3000 kosakata. Sehingga bisa disimpulkan bahwa masyarakat Indonesia sejak dulu memang telah terbiasa berinteraksi, mendengar dan menggunakan bahasa Eropa dan Arab dalam aktivitas mereka sehari-hari. Terlebih kata serapan dari kedua bahasa tersebut cukup sering kita gunakan dalam berkomunikasi dengan orang lain. Sementara Korea, tercatat dalam sejarah bukan termasuk negara yang pernah menjajah Indonesia dan bahkan mendiami satu wilayah tertentu dalam rentan waktu yang sangat lama. Sehingga hal tersebut tidak banyak mempengaruhi aspek kehidupan masyarakat Indonesia termasuk aspek bahasa.

2. Jejak Perkawinan Campuran.

Jejak pernikahan antar ras di Indonesia sudah sering terjadi sejak masa kolonial. Lelaki Eropa boleh menikahi perempuan Indonesia atau pribumi (dulu disebut Hindia-Belanda) begitu pun sebaliknya. Sehingga melahirkan anak blasteran Indonesia-Eropa. Sehingga tidak mengherankan saat ini di Garut, Jawa Barat terdapat kampung yang dihuni khusus orang-orang keturunan Eropa berdarah Indonesia-Belanda. Lain halnya dengan Eropa, Bangsa Arab yang datang ke Indonesia tidak hanya untuk berdagang. Mereka juga menyebarkan ajaran agama Islam salah satunya lewat cara perkawinan. Para saudagar yang merantau dan menetap di Indonesia menikah dengan penduduk asli pribumi. Ada yang menikahi putri pedagang, maupun putri dari golongan bangsawan. Pernikahan campuran antar ras ini, baik bangsa Eropa dan Arab dengan penduduk pribumi melahirkan anak berdarah campuran. Yang tentu saja berpengaruh terhadap pemberian nama anak hasil pernikahan tersebut. Sementara bangsa Korea yang tidak pernah menjajah atau mendiami Indonesia dalam periode yang lama, menyebabkan jejak perkawinan antara orang Korea dan Pribumi sulit ditemukan.

3. Identitas Keagamaan.

Agama yang dianut oleh orangtua tentu saja mempengaruhi pemberian nama kepada anaknya. Nama Muhammad, Abdul Rahman, ataupun Siti Khadijah merupakan nama yang sudah tentu menunjukkan identitasnya sebagai pemeluk agama Islam yang merupakan ajaran agama yang dibawa para pedagang Arab ke Indonesia. Begitupun dengan Paulus, Christian, ataupun Maria yang tentu saja menunjukkan identitasnya sebagai pemeluk agama Kristen yang dibawa oleh bangsa Eropa. Hal ini berbeda jika sang anak diberi nama menggunakan unsur Korea, sebab secara khusus tidak menunjukkan identitas agama apapun.

4. Stigma Orang Indonesia Terhadap Bangsa Eropa, Arab, dan Korea.

Stigma orang Indonesia yang telah dijajah orang-orang Eropa berabad-abad yang lalu menganggap bahwa orang-orang Eropa jauh lebih superior, kuat, dan pintar. Stigma untuk bangsa Arab tentu saja selalu dinilai baik sebab sebagian besar yang berkaitan dengan ajaran agama Islam berasal dari Arab. Sementara stigma orang Indonesia terhadap bangsa Korea, yakni kehebatan industri hiburannya melalui K-Pop dan K-Drama. Dengan perbedaan stigma tersebut, masyarakat Indonesia cenderung mengkombinasikan pemberian nama kepada anak-anak mereka dengan kombinasi Indonesia-Arab maupun Indonesia-Eropa, namun tidak dengan Indonesia-Korea.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN