Mohon tunggu...
Band
Band Mohon Tunggu... Supir - Let There Be Love

(PPTBG) Pensiunan Penyanyi The Bee Gees

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan Pilihan

Kenaikan BBM, Kerusakan Sistemik Energi Kita dan Kengarangan Komunikasi?

6 September 2022   15:03 Diperbarui: 6 September 2022   15:11 323
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Massa Aksi Penyelamatan Indonesia plus emak-emak menggelar demo BBM naik di Bandung, 5 Sep 2022. menolak kenaikan harga BBM. TEMPO/Prima mulia

Tidak seperti saat ini subsidi energi bengkak menjadi 500 triliun, yang menjadi antitesis bahwa hanya negara 62 yang menarasikan kehebatan bisa memanggul subsidi 500 triliun. Bagi-bagi duit bansos pun juga menjadi antitesis ketika harga crude turun harga bbm kita malah naik sehingga tidak terlihat hukum sebab-akibat, buat apa naik wong harga crude turun?

Harusnya ada jalan yang lebih bijak dengan menjelaskan teknokrasi dunia perminyakan Indonesia sampai terjadi begini secara lebih jujur, seperti persoalan kilang minyak, sumur bekas, energi baru dan terbarukan, bio diesel dan pembangunan storage crude yang handal dan lain-lain.

Kilang minyak atau refinery kita saja sudah ketinggalan jaman,  kilang terbaru, Kilang Balongan RU-VI di kapasitas 125-150 ribu barel perhari, sudah terlalu tua sejak produksi 1994, berarti sudah 28 tahun. Mungkin efisiensi energi plantnya juga sudah jauh boros tidak lagi bisa seiring dengan perkembangan teknologi efisiensi pabrik kilang terbaru. 

Sependek pengetahuan saya, bisnis refinery ini adalah sebuah bisnis large scale-low profit, karena banyak faktor ekesternal lain yang berpengaruh. Membangun kilang minyak baru, juga bukan perkara mudah, selain mahal banget juga kestabilan stock dan harga crude harus terjaga. Untuk membuat kilang baru, negeri 62 saya pikir berat, makanya mungkin dipilih proyek RDMP (Refinery Development Master Plan), seperti di Kilang Balikpapan dengan menaikkan kapasitas 260k ke 360k BPD yang diharapkan rampung 2024?

Konsep menjaga kestabilan, seperti rencana membikin tangki besar pernah terdengar di Lawe, tapi perasaan gagal maning gagal maning son, padahal storaging minyak mentah itu keren, taruhlah buat 6 bulan stok, sehingga bisa menjaga real time pasokan dalam menjaga kestabilan produksi kilang dan tidak rentan fluktuasi harga mentah.  Rabaan saya, barangkali saat ini, harga downstream BBM dihitung berdasarkan dari harga pembelian minyak mentah sebulan atau dua bulan sebelumnya, misal demikian jadi aneh.

Indonesia cq Pertamina sudah ketinggalan dua langkah besar di dunia refinery dan storaging, sehingga ketidakberdayaan ini
memunculkan narasi yang tidak berhubungan dengan teknokrasi oil saat terpaksa menaikkan harga BBM.

Belum lagi kemampuan produksi minyak Indonesia yang hanya 700k bph jauh dari kebutuhan sebesar1,2 juta bph yang kekurangannyaharus diisi dari keran impor. 

Pembukaan cekungan-cekungan baru tidak kunjung menarik investor yang katanya bersumber pada masalah geopolitik, namun faktor yang lebih jujur harusnya dilihat dari iklim investasi untuk merubah secara radikal khususnya daya tarik fiskal hulu migas.

Recovery sumur-sumur bekas peninggalan kontraktor bule juga hanya seperti mencari tetesan minyak sisa, kadang tidak ekonomis dan banyak kendala, apalagi jika minyak turun semisal dibawah 65USD maka sumur bekas bisa menjadi museum sementara. 

Narasi Indonesia pengimpor minyak jadi sangat betul disuarakan kepada rakyat. Tapi rakyat banyak yang sudah tahu bahwa Petronas Malaysia bisa mengeksplor lapangan EP Migas di manca negara, sehingga alokasi crude dan bbm mereka cukup buat kebutuhan dalam negerinya, tanpa narasi negeri pengekspor atau pemgimpor minyak.

Meski banyak ikhtiar dan maunya namun problem rootnya tetap saja disitu sama diseluruh bumi. Sampai saat ini ikhtiar pemanfaatan batubara, biodiesel bahkan sampai energi baru terbarukan sangat sulit terlihat signifikansinya terhadapa subsidi bbm.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun