Mohon tunggu...
Band
Band Mohon Tunggu... seniman separuh

dari atas tangki amonia melihat kebawah

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen | Rahasia Debu

17 Juli 2019   20:25 Diperbarui: 18 Juli 2019   23:58 0 16 7 Mohon Tunggu...
Cerpen | Rahasia Debu
ilustrasi debu beterbangan. (pixabay.com)

Setahu rakyat desa, dia selalu hadir di setiap orang sekarat. Namun saat penyakitan meregang melepas nyawa, dia menghilang. Dia enggak pernah bicara dan jauh dari kerumunan. Mengangguk dan menggeleng, hanya itu bahasanya selain mata yang tajam dan wajah samar. 

Orang sekampung biasa memanggilnya Kemat. Warna pakaiannya tak pernah berubah, selalu hitam. Baju dan celananya membalut tubuhnya yang kurus kering, sehingga nampak bajunya bak jubah menjuntai jatuh, menambah kesan kehitaman yang pekat.  

Tak ada seorangpun yang tahu asal muasal Kemat. Mitos  lama yang merebak menegaskan bahwa semenjak kampung tercipta saat itu pula Kemat hadir. Tak banyak yang bersinggungan dengannya semenjak silam, layaknya ada perjanjian tak tertulis diantara warga, bahwa biarlah sosok Kemat apa adanya. Hadir dan pergi diwaktunya. 

Sehingga kemudian menjadi terbiasa, tak lagi ada tanya remeh temeh perihal Kemat. Dimanakah kampung aslinya, seberapa tua usianya, macam mana masa kecilnya, atau siapa bapaknya, siapa pula istrinya, apa profesinya atau sosialisasinya apalagi histori prematurnya. Segalanya sudah seperti langit tanpa tertanyakan lagi.

Hingga pada satu senja yang tampak lebih matang dari lumrahnya, Kemat sekonyong muncul di muka pagar halaman bapak lurah, berdiri dengan tubuh tipisnya yang membungkuk, menatap lancip seakan mengiris setiap ruang dalam rumah bapak lurah. 

Ibu Lurah yang sedang berpose dari daun jendela menurunkan wajah cantiknya seperti ada kekuatan beku yang menekukkan lehernya sehingga menundukkan kepalanya. 

Tak ada tersisa kemauan apalagi keberanian. Sekejap Kemat pun berlalu, meninggalkan firasat yang selalu dikenal rakyat desa tak terkecuali sang istri lurah.

Beberapa menit kemudian suara jerit ambulans mengantarkan suara kehilangan, merapat kesisi rumah. Bu lurah meraung dan pegawai subordinat desa terlihat bergegas, mulai memenuhi hamparan ruang dirumah bapak lurah. Kabar kilat menyebar tentang kematian lurah karena kecelakaan tabrak lari.

Lurah yang terkenal mengayomi dan melindungi warganya begitu cepat menghadap yang maha kuasa. Rakyat kampung merasa duka dan kehilangan.

Insiden ini seperti lebih dari sekedar kematian warga biasa, seluruh kampung bersimpati dan menyesali kepergian bapak lurah disaat penghantaran kemakam terakhir. Iringan penguburan berjalan lambat seperti usaha muskil menahan kemusnahan. 

Hanya seorang sosok hitam yang berlaku sigap namun penuh ketenangan. Melangkah ringkas diantara tanaman kemboja nyaris tak terlihat. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x