Band
Band Montir

Bekas Pekerja Pelosok

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Lukisan Braga

18 Mei 2019   11:53 Diperbarui: 18 Mei 2019   12:06 46 9 1
Lukisan Braga
kompas.com

Saat Tuhan tersenyum lahirlah Pasundan.

Dan aku berabad kemudian. Nyusruk kembali dilantainya yang dingin, di batu batu Braga yang berkilat embun. Lampu warna warni yang sekarang berpendaran, menyapaku gelo. Tak sesilam empat puluh tahun, ketika kekelaman Braga bolak balik mencekat dan terasa merekat  surga parahiyangan.

Udara malamnya melulu berisi rindu yang memendam vintage lestari, sampe sekarang. Iya sampai sekarang, beh!

Menyusur balik ku menepi malam, hampir di penghujung Naripan, ku liren membeku, melepas bokongku ketepi tangga. Tempat biasa meraba malamnya hati, mencerap lenting kecapi Braga Stones yang pekat berkaca hitam.

Kita kerap berlama lama disitu, berjeans, kasut kain  dan bersila mendengarkan The Rolling Stones. Meski kita banyak diam menikmati, tapi itu edun pisan. Braga Stones mencabik kawat nya, selangit merdunya tajam, memburaikan intro Sittin' On A Fence atau Lady Jane hinga kerelung jantung. Uye! Uye! Stone! Stunduh!

Kita lekat, nekat dan gembira, ngerok bersama Supeno, the man behind the Braga Stones.

Kenangan ramai itu menghentakku kembali kekesunyian malam, mengingatkan kamuh, yang pernah cantik bersama, menjalani masa cinta ala Christine Hakim-Roy Marten bapake Gading.

Bayang parasmu masih menggaris tak pernah musnah, seperti tato di otakku, yang menjadi gambar sendu ketika ku lalui Braga.

"Ka sisi atuh, Ki!" serombong anak motor berpasangan berteriak tertawa, mengagetkan nyaris menyentuh lengan ku. Membuatku terhuyung menepi pedestri. "Budak lieur" gerutuku.

Melepas keterkejutan, ku menyintas keseberang, tempat seniman lukis Braga ngariung menjajarkan lukisan hatinya, tentang Pasundan, pemandangan sawah, gunung, juga lukisan wajah mojang geulis. Aku menelusur pelan pelan kotak kotak pigura berwarna cerah , menikmati lagi memori sama yang telah berdebu, dipinggiran malam trotoar jalanan Braga.

"Bapak!"  sekilas aku mendengar dikeremangan, seseorang  terlewat menyapa.

"Mmm.." aku menoleh menatapnya, mencoba menggali file memori bertumpuk di benak, namun luput.

"Lepat yah? Abdi Kejo.." wajah itu mendekat ramah menyurung lengan untuk bersalam.

"Lupa euy?" aku menggeleng sambil menyalami.

"Widih, bapak teh tidak berubah ya? Saya kan dulu melukis bapak waktu muda, yang bareng kabogoh gitu?"

Dan kenanganku mulai merambat merupa bentuknya jelas. Iya, tentu saja kita pernah dilukis berdua disini, namun siapa tukang lukisnya aku blank.  Seingatku, lukisan itu kamu sukak dan kamu simpan entah dimana.

"Sorangan  ini? Kemana mantan kabogoh, punten?" pelukis kembali mengusik kepo.

Aku melengos enggan menjawab, kerna ceritanya panjang mengenai kamu, yang hanya luka dan kehilangan, yang sekarang memanggil manggil kembali di jalan batu Braga, diketuaanku.

"Punten, kang saya dipayun" aku bermaksud mempercepat pembicaraan agar berlalu dari kenangan pedih terlebih soal paras elokmu di empat dekade silam. Akupun berjarak meninggalkan sang pelukis, namun belum sedepa dia kembali menyeru.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2