Mohon tunggu...
Bambang Trim
Bambang Trim Mohon Tunggu... Pendiri Institut Penulis Indonesia

Tukang buku keliling ini telah lebih dari 25 tahun berada di jagat perbukuan sebagai penulis, editor, dan konsultan. Ia pernah memimpin beberapa penerbit nasional. Kini menjabat sebagai Ketua Umum Penpro (Perkumpulan Penulis Profesional Indonesia), Direktur Institut Penulis Indonesia, serta Direktur LSP Penulis dan Editor Profesional.

Selanjutnya

Tutup

Media Artikel Utama

Romantisme Koran Cetak

12 Desember 2020   10:59 Diperbarui: 12 Desember 2020   15:15 258 22 6 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Romantisme Koran Cetak
Sumber: Kompas.id

 

Tentulah saya masih ingat romantisme tahun 1980-an ketika masih anak-anak. Hari Minggu adalah hari yang penuh semangat dalam hal bacaan. Dua koran yang dilanggan ayah saya menjadi alasan untuk memulai pagi dengan membaca. Itulah suplemen untuk anak-anak yang kala itu disediakan empat halaman koran penuh warna. Suplemen itu berisikan cerpen anak, komik strip, permainan-permainan dan kuis, informasi khas dunia anak, dan profil anak-anak berprestasi.

Bagi keluarga yang memiliki anggota anak-anak lebih dari satu, tentu suplemen koran ini bakal menjadi rebutan. Hal paling menyebalkan ketika permainan seperti menghubungkan titik-titik dalam suatu gambar atau mencari sepuluh perbedaan pada dua gambar sudah lebih dulu diisi oleh anggota keluarga yang lain.

Romantisme membaca seperti itu tinggallah cerita karena suplemen untuk anak-anak sudah lama tergusur di sebagian besar koran. Koran-koran cetak sudah semakin tipis halamannya dan tak lagi ditunggu oleh para pembaca fanatiknya dulu. 

Koran cetak pertama di Indonesia terbit sekira tahun 1745 pada zaman VOC masih mencengkeram kukunya di Indonesia. Koran yang terbit mingguan itu bernama Bataviasche Nouvelles yang dicetak hanya empat halaman. 

Isinya pun didominasi berita tentang kapal dagang VOC, mutasi pejabat, berita pernikahan, kelahiran dan kematian. Koran berbahasa Belanda itu pembacanya masih terbatas warga Belanda sendiri.

Bataviasche Nouvelles berkembang pesat lalu berubah menjadi koran yang mengkritik kebijakan VOC dalam memperlakukan penduduk pribumi. Berdasarkan buku Toko Merah: Saksi Kejayaan Batavia lama di Tepi Muara Ciliwung karya Thomas B. Ataladjar, tanggal 20 Juni 1746, koran ini dibreidel oleh Pemerintah Hindia Belanda. 

Selanjutnya, berbagai koran terbit di Indonesia sebelum masa kemerdekaan dan setelah masa kemerdekaan. Salah satunya koran nasional yang tertua adalah Warta Berita, terbit 1901. Koran yang sangat tua dan masih terbit hingga kini adalah Kedaulatan Rakyat di Yogyakarta. Entah sampai kapan koran-koran cetak yang kini ada akan masih bertahan.

Baru saja Koran Tempo menyatakan berhenti terbit versi cetaknya per 31 Desember 2020. Berita ini menandai gugurnya lagi salah satu koran nasional yang bermutu di Indonesia. 

Ingatan pun melayang saat Koran Tempo terbit perdana tanggal 2 April 2001, mengawali sejarah persuratkabaran awal milenium baru. Koran Tempo tampil berbeda dari segi ukuran dan desain yang memikat mata.

Jika pada masa kecil saya menunggu-nunggu suplemen anak-anak yang terselip di koran, saat sudah bekerja di industri perbukuan, saya menantikan betul suplemen "Ruang Baca" yang hadir setiap minggu di Koran Tempo. Suplemen itu mengupas berbagai fenomena industri perbukuan dan literasi secara bernas. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x