Mohon tunggu...
Bambang Trim
Bambang Trim Mohon Tunggu... Pendiri Institut Penulis Indonesia

Tukang buku keliling ini telah lebih dari 25 tahun berada di jagat perbukuan sebagai penulis dan editor. Ia pernah memimpin beberapa penerbit nasional. Kini memimpin Penpro (Perkumpulan Penulis Profesional Indonesia) dan LSP Penulis & Editor Profesional. Suatu saat ia ingin mendirikan perguruan tinggi penulisan-penerbitan.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Revolusi Putih: Ada Udang di Balik Susu

27 Oktober 2017   11:40 Diperbarui: 27 Oktober 2017   18:53 0 17 10 Mohon Tunggu...
Revolusi Putih: Ada Udang di Balik Susu
Foto Calum Lewis dalam Unsplash

Selang beberapa hari Anies Baswedan dilantik menjadi gubernur DKI, Hashim Djojohadikusumo, adik Prabowo langsung menemui Anies. Hashim membawa usulan Revolusi Putih yaitu program pemberian makanan gratis kepada anak-anak berupa susu dan lain-lain. Bahkan, program ini diusulkan agar dianggarkan pada APBD DKI 2018.

Wajar saja jika usulan yang merupakan gagasan Prabowo ini disampaikan kepada Anies mengingat Gerindra menjadi salah satu partai yang mendukung Anies menjadi gubernur DKI. Revolusi Putih bahkan disebut-sebut sudah digagas sejak Prabowo maju di Pilpres 2009. 

Di DKI, program ini rencananya ditujukan untuk anak-anak tidak mampu di SD-SMA, baik swasta maupun negeri, dengan memberikan makanan gratis berupa susu, bubur kacang hijau, dan telur rebus. Unsur 'susu' itu yang kemudian melecutkan gagasan bernama Revolusi Putih.

Namun, karena program ini berbau politis dan tidak semata persoalan memberikan makanan gratis, apalagi menggunakan dana APBD, ada saja yang menyangka ada "udang di balik susu". Nah, tidak usah baper dan serius dulu.

Udang dan susu jelas berbeda, tetapi boleh jadi memang dapat menggantikan susu dari sisi kandungan proteinnya. Udang berkadar asam amino yang tinggi, berprofil lengkap, dan sekira 85-95 persen proteinnya mudah dicerna tubuh sehingga udang dikategorikan makanan "complete protein", begitu kata pakar gizi. Karena itu, yang putih itu memang tak harus susu.

Ternyata benar saja bahwa reaksi muncul dari Menteri Kesehatan, Nila F. Moeloek. Bagaimana caranya mendapatkan susu dari sapi atau kambing untuk kebutuhan 250 juta lebih penduduk Indonesia? Artinya, Menkes mengkritik program ini sulit dilaksanakan dan tidak relevan untuk mencegah kekurangan gizi--dalam bahasa media daring lainnya disebut Menkes menentang. Namun, Nila bersepakat asupan protein (untuk anak-anak) haruslah ditambah.

Protein tidak harus diperoleh dari susu. Apalagi, meminum susu bukanlah tradisi umum bagi masyarakat Indonesia. Kandungan protein dalam susu dapat digantikan oleh sumber makanan lain. Menkes Nila mengusulkan malah lebih baik masyarakat Indonesia didorong memakan ikan.

Di sisi lain susu sudah tidak lagi populer sebagai penyempurna. Masih ingat program "4 Sehat 5 Sempurna"? Program yang digagas sejak tahun 1954 itu begitu getol didengungkan pada masa Orde Baru. Lalu, Kemenkes menghapusnya karena alasan sudah tidak relevan lagi. 

Salah satu alasan karena susu tidak lagi harus ada di dalam menu makanan. Susu memiliki kandungan yang sama seperti lauk protein hewani. Adapun kandungan lain yang ada di susu seperti kalsium, fosfor, dan zat besi, juga dapat ditemukan dalam berbagai protein hewani lainnya. 

***

Revolusi Putih baru digagas sebatas untuk DKI. Andai saja Prabowo kelak menjadi presiden, bukan tidak mungkin akan menjadi program nasional "Ayo Minum Susu!". Jika putihnya tidak harus susu, lebih fleksibel untuk menggerakkan program sarapan atau makanan gratis untuk anak-anak dengan menu makanan lain yang lebih seimbang dalam kadar gizinya. Namun, meskipun ada Revolusi Putih, Revolusi Mental tetap diperlukan, plus revolusi-revolusi yang lain. Biarkan saja "ada udang di balik revolusi", yang penting rakyat sehat jasmaninya dan rohani (mentalnya).[]

VIDEO PILIHAN