Mohon tunggu...
Bambang Syairudin
Bambang Syairudin Mohon Tunggu... BAMS, lebih senang DIAJARI oleh PUISI daripada DIAJARI oleh SAJAK; kalau puisi ngajarinya serius sekali, sedangkan dengan sajak malah diajak tertawa terbahak-bahak ngakak! ©

========================================== BAMS, hidup dan mencari NAFKAH sebagai Dosen di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya. Pernah BELAJAR di Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung. BAMS, lebih senang DIAJARI oleh PUISI daripada DIAJARI oleh SAJAK; kalau puisi ngajarinya serius sekali, sedangkan dengan sajak malah diajak tertawa terbahak-bahak ngakak! ========================================== KEPADA SEMUA TEMAN, yang telah memberikan KERAMAHAN KOMEN dan PENILAIAN, saya mengucapkan SANGAT BERTERIMAKASIH. 🙏🤝🙏 ========================================== KEPADA ADMIN KOMPASIANA, yang telah dengan SANGAT BAIK dalam MENGELOLA dan menyediakan TEMPAT BERBAGI LITERASI, saya mengucapkan SALAM SALUT dan SANGAT BERTERIMAKASIH. 🙏🤝🙏 ==========================================

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Monolog 18: Jiwa

10 Juni 2021   15:02 Diperbarui: 10 Juni 2021   15:07 72 13 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Monolog 18: Jiwa
Gambar Ilustrasi merupakan dokumen karya pribadi (Karya Bambang Syairudin)

Monolog 18: Jiwa

Anakku, Filasafia Marsya Ma'rifat, jika engkau ingin tahu apa itu jiwa dan mengapa engkau berjiwa ?. Jiwa itu adalah kuasa. Dan kuasa itu adalah segala yang menggerakkan. 

Kata menggerakkan di sini perlu engkau renungi tidak sebatas arti gerak dalam media ruang waktu, namun lebih dari itu, anakku. Sebagai misal menggerakkan imajinasimu, mimpi-mimpimu, dan menggerakkan kesunyianmu, serta perjumpaanmu. 

Tidak hanya menggerakkan benda-benda, kerdipan matamu, jantungmu, dan tarikan nafasmu, namun juga menggerakkan kerinduanmu sekaligus menyatukan kerinduan segala semesta, dan puncaknya menggerakkan kesaksian akan hakekat keberadaanmu, serta arah perbuatanmu. 

Dia adalah inti segala kenangan-kenanganmu baik yang sudah terjadi maupun yang belum terjadi. Dia adalah yang menghidupi suwung.

Jika selama ini kesadaranmu seolah-olah yang terasa sebagai jiwamu, itu karena engkau membatasinya dalam dimensi tubuhmu. Tubuhmu itu hakekatnya adalah ruang waktumu. Sedangkan jiwamu, anakku, adalah tanpa batas namun sekaligus sebagai titik, yakni titik dalam ruang ke-illahi-an.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
10 Juni 2021