Mohon tunggu...
Beng beng Sugiono
Beng beng Sugiono Mohon Tunggu... Wiraswasta - Penulis

La Historia, Me Absolvera. Menulis/Traveling/NaikGunung/Membaca

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Surat I, Wajah-wajah Munafik

29 Oktober 2022   16:54 Diperbarui: 29 Oktober 2022   17:40 99
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Hey John, bagaimana kabarmu dan keluargamu hari ini ? masih berkutat dengan kehidupanmu yang absurd kah ? oh iya Jhon, akhir-akhir ini saya berfikir kalau kebahagiaan seseorang itu ternyata di ukur oleh materi, baru-baru saya sadar setelah banyak sekali kehilangan sesorang yang sangat saya sayangi, dan benar juga apa yang kamu bicarakan tempo dulu tentang dunia, tentang materi dan lain sebagainya. 

Saya sudah tidak percaya lagi dengan Namanya cinta, bahwa cinta itu saling melengkapi, saling mengisi ruang kosong satu sama lain dan saling berproses. Semua itu palsu Jhon. Lazim memang setiap manusia mencintai manusia lainya ukuranya itu ialah harta dan latar belakang keluarga sehingga kadang memupus nalar manusia dan menghilangkan adab dan rasa kasih, semoga saja masih ada manusia-manusia yang mulia John. 

Namun adakah manusia yang mencintai karena tidak punya apa-apa dan tidak mengharapkan apa-apa selain kasih serta sayangnya. Masa sih tidak ada manusia di dunia ini yang mengesampingkan materi dan bersandar pada nilai-nilai kemanusiaan, maksudnya mencintai secara tulus dan mau berjuang Bersama untuk menggapai keseteraan dalam konteks ekonomi.

John, kehidupan ini memang dinamis, namun satu hal yang tidak pernah berubah, yaitu perubahan itu sendiri.

Oh iya john, belakangan saya sedikit risau dengan kondisi politik hari ini, rasa-rasanya rakyat semakin menderita, koruptor semakin lahap saja memakan uang rakyat, namun media mainstream dengan gencar menyiarkan slogan dan prestasi yang absurd namun kontras dengan apa yang dirasakan oleh masyarakat pada umumnya, bapak-bapak mulai resah dengan semakin sempitnya kesempatan harapan untuk mengais pekerjaan. 

Ibu-ibu yang semakin panik terhadap hutang yang semakin membengkak dengan suku bunga yang tidak wajar, dan seringkali menjadi prahara baru dalam keluarga dan sangat berdampak pada proses tumbuh kembang anak. 

Banyak diantara teman-teman saya juga yang akhirnya memilih untuk mengadu nasib di negeri orang sebagai pembantu rumah tangga, atau sebagai buruh harian lepas di negeri orang, karena memang sudah tidak mampu memecahkan kebuntuan dalam mencari pekerjaan di negara sendiri, ironis memang, namun realitanya seperti itu john. Saya takut akan generasi bangsa ini ke depan.

John, hari ini sulit sekali menemukan manusia-manusia yang tulus, manusia yang dapat memberikan sesuatu meskipun hidup dalam ketiadaan, banyak sekali saya temui wajah-wajah yang penuh dengan kemunafikan, baik namun menindas. Seolah-seolah menangis Bersama rakyat dalam kedukaan, namun tertawa dalam diatas penderitaan. 

Kebanyak manusia-manusia ini berkonsentrasi di Gedung parlemen john, termasuk teman-teman dan orang yang saya kenal. Bajingan memang, namun demikianlah faktanya.

Oh iya john, sudah dulu ya, karena saya harus keluar kota untuk melakukan beberapa penelitian terkait dengan nilai-nilai budaya Indonesia, titip salam untuk keluargamu dan anak-anakmu ya.

Januari 2022

Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun