Mohon tunggu...
APOLLO_ apollo
APOLLO_ apollo Mohon Tunggu... Dosen - Lyceum, Tan keno kinoyo ngopo

Aku Manusia Soliter, Latihan Moksa

Selanjutnya

Tutup

Filsafat

Semiotika Roland Barthes

13 Januari 2022   21:19 Diperbarui: 13 Januari 2022   21:32 5322
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

dokpri
dokpri

Contoh yang dibuat MITOS: Gambar tentara orang kulit hitam dan hormat pada bendera Francis sama dengan Kata sebagai IDIOLOGI. Gambar tersebut adalah representasi Koloni [Signifier] dan tanda Hormat, Seragam; Denotasi" [Sign]

Patriotisme/Ketundukan pada Bendera Francis; Konotasi; adalah  Tanda [empaty] + Form adalah Tanda II;  Konotansi Francis Negara Besar, dicintai bocah-bocah orang kulit hitam; faktanya Aljazair menang, meskipun demikian Francis masih Agung ["padahal malu"]_ buat Citra Mitos;

Semiotika sebagai Mitos misalnya pada merek Sepatu, Pakaian, Hape, sebagai multi makna.  Mitos bukan hanya bentuk tuturan oral, tulisan, fotocopy, film, riset, iklan, lukisan, dll sebagai Naturalisasi konsep, melahirkan "Opini/Doxa" yang diyakni kebenarannya; maka [1] Penguasa Borjuis/ Feodal  Produksi Mitos; dan negara jajahan atau masyarakat Kecil Menjadi Jadi Konsumen/Korban Mitos.

Maka teori Semiotika Roland Barthes menyatakan  Mitos   Setara idiologi, tentang bagaimana cara memahami Realitas; bisanya dipelihara dan dirawat untuk "Status Quo", hegemoni, dan kekuasaan;

Mitos": [a] Di produksi oleh Borjuasi {kelompok Menengah ke atas] vs Konsumsi oleh Masyarakat bawah;  [b] Isi Makna dibuat [Kekuasan = Produksi], Mengayomi, mencipta "Hegemoni" dan Feodalisme, Kiblat Ke Atas;  [c] Media melayani Kekuasaan Pasar, sistem kapital dll{Noam Chomsky]; dan [d] Mitos  "Fashion Branding" wujud Pretise [Dari Konotasi ke Denotasi]

Ke empat hal ini memiliki efek  "Sifat Naturalisasi" adalah  Wujud "Mitos" sesuatu tidak alami dibuat "Menjadi Alami" akibatnya adalah Manusia hidup "terjebak" dengan oponi-opini [Doxa] manusia;  Hidup Manusia adalah bergerak mengejar mitos_mitos yang diproduksi oleh kekuasaan;

Mitos "Setara dengan "Idiologi"  sebagai cara Memahami Dunia, dimasukkan struktur Kekuasaan berjalan Alami; dan Saat ini Idiologi tersembunyi dibalik tanda-tanda budaya; [kesetaran Gender vs tidak Setara]; sebagai Bentuk Operasi Idiologi; bahkan  karya Seni misalnya musik Kampungan vs Elit barat klasik rock.

Pada cara membaca pada buku Roland Barthes Death of the Author: jika membaca teks bersifat Bebas {relasi anak dewasa dari orang tua]; maka misalnya satu buku atau  teks banyak makna atau satu  mitos melahirkan banyak interprestasi pemikiran; manusia disebut "Homo Symbolicum" atau Animal Symbolum ("pembuatan simbol" atau "simbol hewan") adalah definisi untuk manusia yang diusulkan oleh neo-Kantian Ernst Cassirer. 

Baik Ernst Alfred Cassirer dan Roland Barthes  semua Benda_benda diri Manusia adalah  SIMBOL "STATUS" Sosial, Politik, Budaya. Bahasa memilik 4 definisi [1] sebagai Nature Meaning' [2] Language Use [praktik bahasa vs konsep bahasa]; [3] Language Cognition [konsep/logika bahasa] dan [5] Relationship between Language and Reality [Semiotika];

Pertanyaan krtis Roland Barthes adalah [1] TANDA: Apakah Manusia Sebagai Produsen Atau Konsumen; [2] apakah Manusia {MITOS] sebagai Konsumen Agama, Dongeng, Seni, Budaya, Bahasa, [3] apakah Manusia sebagai Produsen perlu di Kritik, misalnya Cek Mitos_ Cek Prosesnya; hubungan Mitos dengan Sejarah: tunjukkan hubungan Mitos dengan Dunia Sospol dibaliknya, dan [4] Mitos Menyembunyikan Sesuatu yang bersifat alienatif menindas.

Jadi Barthes sama sekali tidak mendistorsi hubungan Saussurean antara linguistik dan semiotika. Dalam berbagai cara, ia memperjelas perbedaan apa yang ada antara tanda yang digunakan secara eksklusif untuk komunikasi dan tanda yang tidak digunakan dalam bahasa. Seperti yang diumumkan Barthes, konsep linguistik asli Sassure tidak tetap utuh. Namun demikian, Barthes tidak memperkenalkan tanda-tanda non-linguistiknya sendiri yang baru, sehingga tidak menggantikannya dan dengan demikian menandai awal dari semiologi penandaan khusus yang berdiri di samping linguistik dan disatukan dengan mengesampingkan prinsip-prinsip semiotik umum, seperti Saussure.

Pertanyaan tentang penggunaan komunikatif dari sistem tanda yang diperiksa oleh Barthes (makanan, pakaian, dll.) jelas bukan pertanyaan utama baginya yang perlu diklarifikasi terlebih dahulu. Dia segera mengatur tentang upaya transfer konsep linguistik awalnya ke sistem tanda non-linguistik lainnya. Justru pendekatan Barthes inilah yang dapat menunjukkan perhatian semiotiknya yang sebenarnya;

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun