Mohon tunggu...
Prof. Dr. Apollo (Daito)
Prof. Dr. Apollo (Daito) Mohon Tunggu... Wadian

Guru Besar Tetap Pascasarjana Universitas Mercu Buana; Guru Besar Tidak Tetap FEB Universitas Trisakti; Guru Besar Tidak Tetap Institut Bisnis dan Informatika Kwik Kian Gie; Guru Besar Tidak Tetap Program Doktoral Ilmu Ekonomi Universitas Pancasila; Waktu Lahir Pernah Meninggal Dunia Selama 6 Jam, kemudian Hidup Kembali saat akan dimakamkan, Sejak lahir diberikan bakat metafisik dan indera keenam atau [Indigo]

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Riset Filologi Wadian Dayak Kaharingan Kalimantan

14 Juli 2019   10:38 Diperbarui: 14 Juli 2019   10:39 0 4 3 Mohon Tunggu...
Riset Filologi Wadian Dayak Kaharingan Kalimantan
dokpri

Riset Filologi  Wadian Dayak Kaharingan Kalimantan

Tulisan ini adalah tulisan saya yang ke [300] dalam bidang Wadian Dayak Kaharingan Kalimantan. Wadian ada banyak tipe. Sebutlah secara umum wadian perempuan, dan   laki-laki. Wadian secara umum diartikan sebagai tokoh sentral dalam acara kehidupan [wadian welun], dan acara kematian [wadian matei]. 

Wadian dibantu oleh satu atau dua orang petugas lain apa yang disebut [penghulu atau mantir adat] yang berfungsi menyediakan semua alat-alat seperti ansak, ayam, telor, beras, pepohonan, patung, piring, gelas, gong, dan seterusnya. Maka fungsi Wadian lebih banyak pada aspek batiniah, sedangkan Mantir adat lebih banyak pada fungsi lahiriah [wujud benda fisik].

Jadi wadian secara instrumental disebut sebagai guru pelenggaraan acara adat siklus kehidupan manusia sejak tidak ada secara kasat mata indrawi menjadi ada [lahir] dan kembali kepada tidak ada [kematian] tidak ada secara mata indrawi.

Riset ini dilakukan di wilayah Paju Epat Kabuapten Barito Timur Kalimantan Tangah tanggal 2 Mei sampai 12 Mei 2019 lalu. Pada tulisan ini saya memaparkan 1 aspek dari [1001] aspek yang bisa dipaparkan dalam Riset Etnografi dan Filologi  Wadian Dayak Kaharingan. Aspek tersebut adalah hakekat merawat memelihara alam dan metafora berubahan wujud menjadi yang lain, semacam alienasi diri dalam Filsafat Hegel. Tesis, anti tesis, sintesi, dan kembali lagi sebagai reinkarnasi siklus kemenjadian.

Ke [1] Dokrin Kakah Warikung, dan Itak Ayan dalam narasi metafora  umum wadian; dimana  alam dan manusia sama hakekatnya seperti orang tua dan anak bolak balik. Ketika kecil maka orang tua merawat anak, dan ketika besar dan dewasa maka anak yang merawat orang tua. Alam semesta [hutan dan segala isinya] adalah orang tua kita yang harus dijaga dan dirawat dengan sepenuh hati. Dipakai dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Kemudian melahirkan siklus saling ketergantungan bersama-sama. Tanah, Air, pohon, hewan, tumbuhan, dan segala ini adalah penjelmaan asal muasal manusia, dan menjadi manusia kembali.  Atau dalam bahasa Dayak {Jumpun putut kayu] atau hutan alam dan akar pohon besar bisa menjadi marah dan murka sama seperti manusia. Harus ada deontologis ethics memperlakukan alam dengan cara logikanya sendiri, mereka membutuhkan pengakuan eksistensial, kausal, memiliki roh [gesit] alam semacam dokrin panteisme.  Alam semesta hutan, tanah, air memiliki daya purba [force] yang wajib dihormati, melalui komunikasi perasaan manusia.

Ke [2] Wujud Harmoni Sebagai Deontologis Ethics. Dalam metafora Wadian Kaharingan Dayak  disebutkan ["Amirue Samiding"] yakni ketika manusia hidup, dan terutama ketika kematian datang, maka  roh manusia  terpisah dari Raga atau Jasmani atau Tubuh. Maka jika hidupnya banyak melakukan tindakan tidak harmonis dengan sesama manusia dan  terutama dengan merusak  isi alam: hewan, tumbuhan, tanah air, maka dapat terjadi apa yang disebut Dayak ["amirue pangkeng"]. 

Apa itu ["amirue pangkeng"] adalah rohnya tersesat di pohon, atau tempat lainnya menjadi ["bajat, adiau, allah jumpun haket] diterjemah menjadi kuntilanak, dedemit, makluk jadian, wewe gombel, setan, atau sejenisnya yang menyeramkan.  Jika hidupnya baik, sesuai nomoi hukum adat, baik perilakunya, tidak berbuat jahat curang, maka roh {Geist] akan kembali kekampung Datu Tunyung [Semacam Sorga] wujud amal  kebaikan yang ada  berkumpul dalam metafora "Gunung Lumut".  

Metafora Gunung Lumut adalah  puncak leluhur Dayak Kalimantan. Gunung Lumut Kalimantan adalah pusat kesatuan roh Dayak Kalimantan pada  tempat istirahat kekal semua mental jiwa, isi kepala, menjadi kampung kota atau polis dalam mistik Dayak. 

Lalu bagimana supaya semua manusia bisa selamat sesuai hakekatnya menjadi manusia pada tatanan kebaikan [agathon]. Maka peran hukum adat, terutama dua logos yakni Wadian Kaharingan, dan Mantir adat menjadi sentral dalam siklus Warga Negara Dayak.

Ke [3] Mimesis Wajud Kedua Teraliensi Menjadi Yang Lain Dalam  Kesatuan. Katakanlah supaya mudah dipahami, wujud Mimesis lain ini adalah ada pada saat manusia sudah meninggal dunia, atau mereka yang sudah lebih tua moyang kita [nenek, kakek, atau siapa saja yang terlebih dulu dipanggil meninggal dunia. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x