Prof. Dr. Apollo (Daito)
Prof. Dr. Apollo (Daito) Dosen

Guru Besar Tetap FEB Universitas Mercu Buana; Guru Besar Tidak Tetap FEB Universitas Trisakti; Guru Besar Tidak Tetap Institut Bisnis dan Informatika Kwik Kian Gie; Guru Besar Tidak Tetap Program Doktoral Ilmu Ekonomi Universitas Pancasila; Waktu Lahir Pernah Meninggal Dunia Selama 6 Jam, kemudian Hidup Kembali saat akan dimakamkan, Sejak lahir diberikan bakat metafisik dan indera keenam atau [Indigo]

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Ekskursus Filsafat Statistika, dan Quick Count Pilpres 2019

18 April 2019   23:36 Diperbarui: 19 April 2019   00:16 1423 5 2
Ekskursus  Filsafat Statistika, dan Quick Count Pilpres 2019
dokpri

Data yang ada di Detikcom pada saat tulisan ini dibuat memperlihatkan lembaga survey Quick Count Pilpres 2019 yakni, Litbang Kompas, Indo Barometer, LSI Denny JA, Median Kedai Kopi, menghasilkan simpulan statistika bahwa pemenang adalah Calon Nomor Urut 01 diantara 54%, dan pasangan nomor urut 02 diantara 46%. Dan data sampling terkumpul mendekati angka 99% sudah masuk terkumpul.

Artinya secara ilmiah atau episteme statistika data ini tidak memiliki perubahan signifikan pada pengurangan dan penjumlahan suara atau mengalami stationer data.

Atau jelas secara statistika dengan metode sampling data ini dapat disimpulkan atau digeneralisasikan bahwa yang tampil sebagai pemenang adalah Calon Nomor Urut 01.

Namun pada saat yang sama pasangan nomor urut 02 justru menyatakan angka hasil survey tidak valid, tidak reliable, dan menyesatkan kemudian disampaikan dengan terbuka bahwa pasangan urut pasangan nomor urut 02 yang menang dengan 3 kali pernyataan.

Bahkan dalam  tempo 3 x 12 jam, pasangan nomor urut 02 tiga kali mengumumkan kemenangannya. Pernyatan pertama menang berdasarkan exit poll sebesar 55 persen; dan pernyataan berikutnya kata update terbaru hasil real count yang sudah masuk, disimpulkan telah menang 62 persen.

Pertanyaannya adalah bagimana "narasi akademik" sebagai kritik keprihatinan  saya kondisi seperti ini bisa dijelaskan dengan memahami Ekskursus Filsafat Statistika, dan Quick Count Pilpres 2019  dengan pernyataan  pasangan urut pasangan nomor urut 02 menyatakan unggul dan  menang dengan 3 kali pernyataan dengan exit poll dan real count  tanpa menjelaskan episteme atau paradigm riset tersebut.

Padahal disisi lainLitbang Kompas, Indo Barometer, LSI Denny JA, Median Kedai Kopi, menghasilkan simpulan episteme statistika bahwa pemenang adalah Calon Nomor Urut 01 diantara 54%, dan pasangan nomor urut 02 diantara 46%

Berikut ini saya sampaikan bagaimana menjawab problem ini dengan pendekatan [episteme] filsafat statistika, dan ilmu sebagai berikut:

Ke [1] filsuf besar t kontemporer Alfred North Whitehead menyatakan "seluruh ilmu barat adalah catatan kaki dari pemikiran Platon".

Artinya seluruh ilmu saint barat fondasinya dan dipakai di Indonesia adalah Pemikiran Platon. Maka untuk menjelaskan kondisi paradox antara pasangan nomor urut 02 dengan validitas reliabilitas hasil pengolahan statistika oleh lembaga Litbang Kompas, Indo Barometer, LSI Denny JA, Median Kedai Kopi saya meminjam episteme Platon untuk menjelaskannya.

Ke [2] Pada  Dialog Glaukon Dengan Socrates sebagai hidup mati atau bolak balik menanjak (anabasis), turun (katabasis) Platon mengunakan istilah "eikon" dengan menggunakan metafora alegori Gua untuk mencapai ["idea Yang Baik" atau "ten tou agathou idean"] atau mencari kebenaran.

Platon membagai 3 bentuk metafora alegori untuk mencapai ["idea Yang Baik"] yakni: (1) Matahari (Sun), (2) Dua Garis Membagi (Divided Line), (3) Gua (Cave). Dapat dibaca pada teks  Buku VII The Republic Platon atau Politeia Platon, atau esensi dialog Socrates Glaukon pada teks Buku VII ["514a1 sampai 517a6"].

Pada buku Republic ada empat tahap untuk mencapai kebenaran dari doxa ke episteme. Proses pemikiran visible realm indrawi (sensible) atau Elkasia, dan Pistis; kemudian kepada intelektual, invisible realm pada level Dianoia, ke Noesis. Maka setelah empat tahapan ini maka memiliki kebenaran yang di sebut Agathon atau "sophrosune"

dokpri
dokpri

Ke [3] Implikasi episteme Platon atau Plato ini pada kasus kondisi paradox antara pasangan nomor urut 02 yang tidak percaya dengan validitas reliabilitas hasil pengolahan statistika oleh lembaga Litbang Kompas, Indo Barometer, LSI Denny JA, Median Kedai Kopi, dapat dipahami sebagai berikut:

dokpri
dokpri
[a] Pada pernyataan  3 x 12 jam, pasangan nomor urut 02  tiga kali mengumumkan kemenangannya. Pernyatan pertama menang berdasarkan exit poll sebesar 55 persen; dan pernyataan berikutnya kata update terbaru hasil real count yang sudah masuk, disimpulkan telah menang 62 persen.

Tanpa dibuka metodologi, teknik sampling,  cara tabulasi data, lampiran data, pengolahan data, validitas data silang, dan kaidah ilmu apa yang dipakai. Maka semua pernyataan tanpa membuktikan episteme [kaidah ilmu atau tangga-tangga ilmu]  maka kebenaran semacam ini sebatas "doxa" atau sebatas persepsi atau bayang-bayang realitas atau kemudian menghasilkan pengetahuan sensible (visible world).

Akibatnya adalah  Pengetahuan ini disebut Platon sebagai "Eikasia (persepsi/gosib)" atau "Pistis (kesan pancaindra)". Maka jika tidak ada episteme tatanan statistika logika yang dapat divalidasi ulang cara pasangan nomor urut 02  tiga kali mengumumkan kemenangannya  mereka  adalah dua pengetahuan ini wujud sebuah realitas sesungguhnya atau disebut Platon sebagai pengetahuan "doxa" atau sebatas "opini" belaka yang tidak memenuhi kaidah kebenaran {idea} Platon.

Maka pengetahuan "doxa" atau sebatas "opini" belaka  disebut sebagai pengalaman persepsi indrawi (aesthesis arte), dan menurut Socrates manusia demikian adalah manusia tidak terdidik (apaideusias).

Maka diperlukan tahap selanjutnya atau yang kemudian manusia ini membutuhkan pendidikan [paideia] pembelajar dan membentuk manusia berkebudayaan. Manusia berkebudayaan intelektual adalah memenuhi kaidah atau tangga-tangga ilmiah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2