Mohon tunggu...
Bagas Pramudya
Bagas Pramudya Mohon Tunggu... Lainnya - Mahasiswa Pendidikan Sosiologi FIS UNJ

Mahasiswa

Selanjutnya

Tutup

Ruang Kelas

Polarisasi Wajib Sekolah di Masyarakat

25 Desember 2021   03:44 Diperbarui: 25 Desember 2021   03:50 211
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ruang Kelas. Sumber Ilustrasi: PAXELS

Konsep pendidikan berubah berkali-kali ke arah yang lebih sempurna. Pertama, istilah pendidikan mengacu pada instruksi atau dukungan yang ditargetkan secara sadar yang diberikan kepada siswa agar tumbuh dewasa. Dalam pengertian perkembangan lebih lanjut, pendidikan berarti usaha untuk menumbuhkan atau mencapai penghidupan yang lebih tinggi dalam arti rohani seseorang atau sekelompok orang.

Tatang (2012:54) menjelaskan bahwa pendidikan adalah suatu paradigma atau model pendidikan yang berkaitan dengan landasan yang berbeda. Landasan tersebut merupakan sumber formal dan materiel pendidikan. Oleh karena itu, pendidikan memiliki unsur pendidikan yang penting dan wajib. Artinya, unsur pendidikan sangat penting dalam sistem pendidikan. Oleh karena itu, banyak literatur yang membahas tentang faktor pendidikan seperti pendidik, peserta didik, kurikulum, dan lingkungan pendidikan.

Pendidik  bertanggung jawab atas upaya tumbuh kembang jasmani dan  rohani siswa untuk memenuhi kewajiban kemanusiaan sesuai dengan nilai-nilai ajaran sekolah dan masyarakat.

Peserta didik merupakan subjek utama pendidikan. Pendidik berada dalam kontak konstan dengan siswa mereka, tetapi setelah menyelesaikan pekerjaan mereka, siswa perlu mempraktikkan pengetahuan mereka tentang kehidupan sosial. Siswa perlu menjalani kehidupan yang mandiri di mana mereka dapat melakukan tugas-tugas pendidikan sesuai dengan kemampuannya (Basri, 2009: 88-89).

Selain itu, kurikulum, komponen  penting dari kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan untuk pendidikan atau pengajaran, dan peningkatan sumber daya pendidikan dalam pendidikan atau hasil belajar, kegiatan pendidikan dan pembelajaran, pengembangan yang dicapai oleh siswa. Sekilas tentang kurikulum itu sendiri (Saebani dan Akhdiyat, 2012: 249).

 Unsur selanjutnya adalah lingkungan pendidikan, yaitu ruang dan waktu yang mewakili tempat keberadaan manusia. Dalam konsep ajaran pendidikan, lingkungan yang baik adalah lingkungan yang kondusif dan strategis untuk melaksanakan proses pembelajaran. Lingkungan  pendidikan dapat dibagi menjadi tiga wilayah: lingkungan rumah/keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat (Tatang, 2012: 153). Beberapa komponen tersebut diperlukan untuk mencapai tujuan pendidikan.

Pendidikan wajib mau tidak mau membagi masyarakat ke dalam kutub-kutub yang saling bertentangan. Kewajiban sekolah juga menentukan pangkat atau kasta internasional. Semua negara diatur seperti kotak, dan posisi mereka dalam pendidikan, tentu saja, ditentukan oleh rata-rata jumlah peserta di sekolah. Sekolah pada saat itu mengatakan mereka mendidik manusia untuk masa depan. 

Namun, mereka tidak akan meloloskan manusia sebelum mereka mengembangkan toleransi yang tinggi terhadap nenek moyang mereka, cara hidup di sekolah yang memberikan pendidikan untuk kehidupan daripada pendidikan untuk kehidupan sehari-hari.

 Sekolah dapat meyakinkan siswa bahwa pendidikan hanya berharga jika diperoleh melalui sekolah melalui proses konsumsi bertahap (kelas 1 sampai 2, dan seterusnya). Siswa belajar bahwa tingkat keberhasilan individu yang dinikmati masyarakat bergantung pada jumlah pelajaran yang dikonsumsinya, dan bahwa belajar tentang dunia lebih berharga daripada belajar dari dunia.

 Kesetaraan kesempatan dalam pendidikan tentunya merupakan tujuan yang sangat diinginkan dan dapat dilaksanakan. Tetapi menyamakan ini dengan pendidikan wajib adalah suatu kekeliruan, seperti halnya gagasan bahwa keselamatan sama dengan gereja. Oleh karena itu, kegagalan sekolah dipandang sebagai bukti bahwa pendidikan sangat mahal, sangat kompleks, bagi segelintir orang, dan seringkali merupakan tugas yang hampir mustahil bagi kebanyakan orang (Baharudin, 2014: 131-132).

Menurut Illich, wajib sekolah menimbulkan polarisasi dalam masyarakat. Negara dinilai seperti kasta-kasta yang derajat pendidikannya ditentukan jumlah rata-rata banyaknya tahun pendidikan yang dilaksanakan bagi warganya, suatu penilaian yang berkaitan erat dengan pendapatan per kapita. Kesempatan mendapatkan pendidikan yang sama merupakan tujuan yang dapat dilaksanakan. 

Namun, menyamakannya dengan keharusan bersekolah sama kelirunya dengan anggapan keselamatan gereja. Sekolah telah menjadi agama yang dianut proletar modern dan memberikan janji hampa dan keselamatan kepada kaum miskin di zaman teknologi sekarang ini. Negara kebangsaan telah memeluknya, mengatur warganya mengikuti jenjang jadwal sekolah, dan mendapatkan ijazah, tidak jauh berbeda dengan upacara-upacara inisiasi dan penasbihan jabatan keagamaan pada zaman dahulu (Thobroni dan Mustofa, 2013: 365).

Menurut Illich sistem pendidikan yang baik dan membebaskan harus mempunyai tiga tujuan yaitu: 1) Pendidikan harus menyediakan bagi semua orang yang ingin belajar peluang untuk menggunakan sumber-sumber daya yang ada pada suatu ketika dalam kehidupan mereka; 2) Pendidikan harus mengizinkan semua orang, yang ingin membagikan apa yang mereka ketahui, untuk menemukan orang yang ingin belajar dari mereka; 3) Sistem pendidikan dapat memberi peluang kepada semua orang yang ingin menyampaikan suatu masalah ke tengah masyarakat untuk membuat keberatan mereka diketahui oleh umum.

Dari ketiga tujuan diatas, kesimpulannya tujuan pendidikan bagi Illich adalah terjaminnya kebebasan individu untuk memberikan ilmu dan mendapatkan ilmu, sebab mendapatkan pendidikan dan ilmu adalah hak dari setiap warga dimanapun (Illich, 1971: 75-76).

Masih banyak yang berpandangan bahwa pengetahuan dan ilmu hanya bisa didapatkan jika kita bersekolah, hal itu tidak salah karena sekolah merupakan tempat dimana pengetahuan dan ilmu diajarkan oleh guru. Lalu bagaimana dengan individu yang tidak menempuh pendidikan wajib? Ia belum tentu tidak memiliki pengetahuan dan ilmu, sebab pengetahuan dan ilmu dapat dicari dan didapat selain dari sekolah, seperti membaca buku-buku pengetahuan dirumah dan mendapatkan pengetahuan serta pengalaman dari dunia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ruang Kelas Selengkapnya
Lihat Ruang Kelas Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun