Mohon tunggu...
Bagas AdhiNugroho
Bagas AdhiNugroho Mohon Tunggu... Mahasiswa Aktif Ilmu Komunikasi

Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UNTIRTA tahun 2019

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan

Anak Muda dalam Kuasa Istana

8 Desember 2019   14:17 Diperbarui: 8 Desember 2019   14:30 29 0 0 Mohon Tunggu...

Dahulu kita sering di dengarkan oleh ucapan dari seseorang mengenai "yang muda yang mengalah", namun kini rasanya slogan tersebut telah beralih menjadi "yang muda yang berkuasa". Bagaimana tidak? Pemegang kekuasaan nomor 1 di negeri ini telah menggaungkan bahwasannya di tangan anak muda bangsa ini akan maju selain itu penunjukkan generasi milenial untuk berkontribusi pada lingkup istana dianggap sebagai langkah untuk membawa perubahan dan memberikan gagasan yang inovatif yang dimasa mendatang generasi milenial akan menjadi tulang punggung negara. Hal ini dilanjutkan dengan tindakan beliau yang menyebutkan 13 staf khusus presiden yang baru di istana merdeka beberapa waktu silam dan 7 diantaranya diisi oleh wajah-wajah baru dalam lingkaran istana , wajah baru tersebut sontak membuat publik terkejut karena ke-7 dari staf khusus yang baru tersebut terisi oleh anak-anak muda bangsa alias anak milenial.

Anak-anak milenial yang pada akhinya di angkat oleh presiden sebagai staf khususnya ini diantaranya adalah Belva Syah Devara (29 tahun), Putri Indah Sari Tanjung (23 tahun), Angkie Yudistia (32 tahun), Ayu Kartika Dewi (36 tahun), Gracia Billy Mambrasar (31 tahun), Aminudin Ma'ruf (33 tahun), dan Andri Taufan Garuda (32 tahun).

Usut punya usut selain publik yang dikejutkan oleh adanya generasi milenial di dalam lingkup istana, salah satu staf khusus presiden yakni Belva Syah Devara juga terkejut atas dirinya yang di utus presiden untuk menjadi teman kerjanya. Hal ini diungkapkannya sesaat konfrensi pers di istana merdeka setelah pengumuman nama staf khusus presiden. "Tentunya kami sangat berterima kasih dan mengapresiasi karena rasanya tidak terbayangkan di pemerintahan sebelumnya atau bahkan di negara lain anak-anak muda seperti kita masuk ke ring-1 nya istana." Ujarnya. Lalu, apakah langkah yang di tempuh untuk menempatkan milenial sudah merupakan langkah yang tepat? atau dengan hadirnya generasi baru di istana akan membuat struktur lingkaran kepresidenan terlalu besar (gemuk) dan menjadi tidak efisien.

Dilihat dari pandangan kacamata geopolitik, yang mana secara garis besar menyatakan bahwa suatu cara pandang bangsa Indonesia tentang diri serta lingkungannya didasarkan oleh ide nasional dan di landasi oleh Pancasila juga UUD 1945. Pandangan gopolitik dirasa juga penting untuk generasi milenial guna memahami suatu situasi yang sedang terjadi serta untuk menghindari adanya permainan dinamis dalam geopolitik itu sendiri.

Situasi yang menjadi tugas rumah untuk negara ini bukanlah soal perekonomian, kebudayaan ataupun yang lainnya melainkan bagaimana kualitas dari sumber daya manusia (SDM) nya itu sendiri. Untuk persoalan kuantitas mungkin SDM yang dimiliki oleh bangsa ini sudah memumpuni, namun untuk soal kualitas sumber daya manusianya negeri ini masihlah teramat lemah. Hal ini tentu merupakan pekerjaan rumah yang bukan sepele mengingat 74 tahun negeri ini terbebas dari belenggu kolonialisme tapi persoalan mengenai sumber daya manusia sangatlah alot dirasanya. Mengapa demikian? hal ini sejalan dengan salah satu buku mengenai Ilmu Politik yang penulis baca dengan judul "Dari Pemungutan Suara ke Pertumpahan Darah."

Dalam buku tersebut dijelaskan bahwasannya saat ini Indonesia berada di dalam kategori negara yang sedang menuju demokrasi (NSDM). Dimana dalam kelompok NSMD, para elite politik menggunakan rakyat sebagai alat untuk mendapatkan kekuasaanya sehingga akan mengalami kesenjangan sosial yang akan terjadi didalam suatu kelompok masyarakat. Hal ini bisa dilihat saat peristiwa pemilihan presiden beberapa waktu yang lalu dimana terjadi perpecahan diantara rakyat yag menyebabkan terjadinya kerusuhan di daerah. Dari pernyataan dan peristiwa tersebut dapat ditarik sebagai opini bahwasannya mungkin saja sumber daya manusia didalam negeri ini sebenarnya sudah memenuhi dari segi kuantitas maupun kualitas. Namun ironisnya para elite-elite sendirilah yang membuat SDM nya tersebut dibiarkan rusak dengan sendirinya.

Oleh karena itu dengan hadirnya generasi baru dalam lingkaran istana dapat di katakan bahwa mereka-mereka sebagai pengemban tugas dan tanggung jawab sebagai teman kerjanya presiden mampu memberikan gagasan yang inovatif dan out of the box dengan tujuan untuk meminimalisir permasalahan sosial yang sering terjadi juga meningkatkan segi kualitas dari sumber daya manusia nya itu sendiri.

Lalu untuk dasarnya, pemimpin muda ialah merupakan pemimpin yang ideal karena tidak bisa dipungkiri bahwa perubahan yang terjadi di dalam negeri ini merupakan hasil buah ciptaan anak muda seperti peristiwa rengasdengklok contohnya. Dalam kepemimpinan sendiri, Islam juga sering menjadikan seorang pemuda untuk memimpin suatu pergerakan seperti pada masa Andalusia saat mencapai masa kejayaannya dimana penguasa/kholifah yang saat itu memimpin berumur 21 tahun. Khalifah tersebut mampu menganulir berbagai pertikaian dan membuat kebangkitan ilmu pengetahuan yang tidak ada duanya, khalifah tersbut merupakan khalifah yang berasal dari Spanyol yakni Abdurrahman An Nashir.

Fenomena kepemimpinan dinaungan anak muda tidak hanya terjadi di dalam negeri saja, banyak negara-negara lain yang sudah sejak lama memasukkan bursa anak muda di dalam lingkaran pemerintahan, sebut saja Sebastian kurz yang menjadi menteri luar negeri Australia di usia 27 tahun. Jadi menurut pandangan dari penulis, siapapun itu pemimpinnya dari manapun kalangan pemimpinnya tidak usah diperdebatkan. Mengingat terdapat berbagai pihak di kalangan pemerintahan yang menyatakan kontra terhadap hadirnya generasi milenial di dalam roda pemerintahan. Mereka beranggapan bahwa pempimpin digenerasi milenial tidak mampu bekerja secara tolelir yang memadai dan menganggap sebelah mata bahwa generasi milenial tidak mampu memberikan keahlian, advice serta talenta untuk membantu presiden.

Dari situ, banyak yang menganggap bahwa kekuasaan istana dalam genggaman anak milenial seolah tidak berdaya dan hanya senasi semata. Melihat hal tersbut, pandangan penulis melihat bahwasannya generasi milenial yang saat ini berada di dalam lingkaran istana itu haruslah di apresiasi karena keinginan dan tujuan nya yang sangat besar untuk bangsa ini. Hal ini juga sejalan dengan perkataan Ir.Soekarno yang menyatakan bahwa Barangsiapa yang ingin mutiara, maka harus berani terjun di lautan yang dalam. Dari situ, penulis menganalogikan lautan yang dalam itu merupakan suasana riuk piuk istana yang harus dilalui oleh generasi milenial ini sebelum pada akhirnya mereka semua akan membuahkan mutira-mutiara indah untuk negeri ini.

Terakhir, dari hasil pembacaan penulis dari suatu buku yang menyatakan bahwa pada akhirnya kekuasaan yang sedang berlangsung atau diperebutkan di masa sekarang tidak akan ada gunanya di saat fase-fase terakhir seperti yang sedang berlansung. Dilanjutkan dalam buku "Jerusalem In the Qur'an" karya Imran N. Hosein yang menyatakan bahwa saat di fase terakhir dari kekuasaan itu sendiri akan kembali kepada hukum yang mutlak (absolut) atau tunduk pada hukum yang absolut.
 
*Ditulis oleh Mahasiswa semester 1 mata kuliah Ilmu Politik program studi Ilmu Komunikasi FISIP Untirta

VIDEO PILIHAN