Mohon tunggu...
Gurujiwa
Gurujiwa Mohon Tunggu... Induk Art Terapis - konsultan - penulis (gurujiwa508@gmail.com) (Instagram :@gurujiwa) (Twitter : @gurujiwa) (Facebook: @gurujiwa))

"Tak perlu jadi tercemerlang, keindahan konfigurasi rasi bintang di langit tercipta, semua bintang bersahaja bersinar, satu dan lainnya tidak merasa lebih" ---Gurujiwa--

Selanjutnya

Tutup

Kisah Untuk Ramadan Pilihan

Hadirkan Pelangi Optimisme di Super Ramadan, Iklaskan Duka Pandemi Berlalu

13 April 2021   02:04 Diperbarui: 13 April 2021   20:34 449 6 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Hadirkan Pelangi Optimisme di Super Ramadan, Iklaskan Duka Pandemi Berlalu
Warna warni hati akan jadi putih di super Ramadan suci (foto Indra-Bazar Saungkuriang hari perdana-dibuka ) 

Tidakkah terasa oleh kita semua,  bahwa Ramadan kali ini tiba jauh lebih cepat dari biasanya.  Tidak hanya di negeri kita, tapi di seluruh pelosok bumi,  penduduk bumi didera pandemi global yang membuat bulu kuduk berdiri.

Bayangan ancaman kematian, tertular begitu nyata. Mengancam siapa saja. Bahkan mereka yang sangat paham soal kesehatan,  seperti dokter,  perawat,  tenaga kesehatan justru yang palong terancam keselamatan jiwanya.

Bersyukur vaksin tiba,  Ramadan tiba.  Ada harapan terbentang. Ada bias kilas cahaya pelangi di cakrawala harap kita.  Sungguh dari semua sejarah Ramadan, sejak kewajiban puasa diajarkan Nabi Besar Muhamad SAW.  Bisa jadi bulan puasa di masa normal baru pemulihan pasca pandemi inilah yang amat epik sekaligus heroik.

Betapa tidak, seluruh dunia belajar kesantunan pada umat Islam di dalam menjalankan ibadah kebersihan yang terwujud dalam wudlu lima kali dalam sehari,  menjelang sholat wajib. Belum lagi sholat sholat sunah diantaranya. Tak terhitung  Sekarang protokol kesehatan,  mewajibkan semua orang cuci tangan sebersih-bersihnya.  

Tidak cuma dalam kucuran air mengalir dalam waktu yang cukup. bahkan harus lengkap memakai sabun antiseptik. ditambah handsanitizer yang harus dibawa kemana mana untuk saat darurat, membersihkan tangan bila air juga sabun tak ada.

Ramadan ini,  bulan spesial semua orang wajib instropeksi diri dengan melindungi diri dengan masker agar tidak sekedar menjaga penularan diri pada orang lain,  tetapi juga menjaga orang lain,  agat tidak tertular,  apabila kebetulan ada virus berbahaya yang ada di tubuh kita,  tanpa disadari.  Sungguh perilaku waspada juga menyayangi sesama umat yang patut diacungi jempol.

Demikianlah Puasa kali ini,  sungguh menguji hati,  puasa yang amat prihatin bagi semua kelas sosial. Tidak cuma yang miskin dhuafa,  yang kaya,  apalagi yang super kaya,  pandemi ini menyakiti semua elemen kelas sosial.  Tidak cuma menyrang ketahanan jiwa,  kedamaian psikologi warga dunia,  tetapi teror himpitan ekonomi dan ketenangan berfikir sedang djuji sampai titik nadir.

Kabar percerian,  kabar orang bunuh diri,  kabar yang terganggu jiwa, anak anak yang kecanduan game onlen gara gara sekolah daring  24 jam. Adalah sisi lain yang jarang diintip ahli statistik tanah air. Pendekatan pemberanasan pandemi baru sebatas pendekatan kesehatan fisik saja.

Sementara kesehatan jiwa,  pembersihan penyakit hati, kurang diperhatikan.  Belum menjadi fokus nasional juga internasional. Tidak ada cara mudah mengobati kegundahan, kekawatiran,  kegelisahan warga dunia gara gara sergapan multi dampak pandemi. Tidak ada.

Namun ada pendekatan agama yang bisa dipakai secara niat,  laku dan tatacara mencspai tujuan. Kebijakan lockdown,  karantina provinsi atau kota yang sempat dilakuoan beberapa bulan diawal pandemi,  sejatinya meniru konsep Nyepi dari agama Hindu.  

Seluruh negeri tiba tiba disekat. Amati lelungan,  tidak ada orang yang bepergian,  amati geni,  semua nyaris puasa,  amati makaryo,  tidak bekerja.  Semua "liburan"  di rumah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN